Laki-laki Terlihat Lebih “Tersiksa” Saat Demam? Ini Penjelasan Ilmiah yang Jarang Diketahui

25 January 2026 18:22 WIB
683c02d82b4c1.jpg

Kuatbaca.com-Pernah mendengar candaan bahwa laki-laki tampak “sekarat” hanya karena demam ringan, sementara perempuan masih bisa beraktivitas meski tubuh terasa tidak enak? Fenomena ini sering jadi bahan lelucon di kehidupan sehari-hari. Namun di balik candaan tersebut, ternyata ada penjelasan ilmiah yang masuk akal dan dapat dijelaskan dari sisi biologi, hormon, hingga respons tubuh terhadap infeksi.

Demam sejatinya adalah reaksi alami tubuh saat sistem imun melawan virus atau bakteri. Suhu tubuh meningkat sebagai bagian dari mekanisme pertahanan. Meski proses ini terjadi pada semua orang, cara tubuh merespons demam bisa berbeda antara laki-laki dan perempuan.


Peran Hormon dalam Respons Tubuh Saat Demam

Salah satu faktor utama yang membedakan reaksi tubuh laki-laki dan perempuan saat sakit adalah hormon. Perempuan memiliki hormon estrogen yang berperan penting dalam memperkuat sistem kekebalan tubuh. Hormon ini membantu sel imun bekerja lebih efisien dalam melawan infeksi, sehingga gejala yang dirasakan bisa terasa lebih ringan atau lebih cepat pulih.

Sebaliknya, hormon testosteron yang dominan pada laki-laki justru memiliki efek menekan respons imun. Akibatnya, ketika terserang virus atau bakteri, tubuh laki-laki cenderung mengalami reaksi yang lebih kuat, termasuk demam yang terasa lebih berat, nyeri otot, dan kelelahan ekstrem. Inilah salah satu alasan mengapa laki-laki merasa kondisinya jauh lebih buruk meski suhu tubuh tidak terlalu tinggi.


Sistem Imun Laki-laki dan Perempuan Tidak Sepenuhnya Sama

Selain hormon, perbedaan genetik juga berperan besar. Banyak gen yang mengatur sistem kekebalan tubuh berada pada kromosom X. Perempuan memiliki dua kromosom X, sementara laki-laki hanya satu. Hal ini membuat perempuan memiliki “cadangan” gen imun yang lebih baik, sehingga tubuhnya mampu merespons infeksi dengan lebih stabil.

Kondisi ini menjelaskan mengapa perempuan cenderung lebih tahan terhadap beberapa penyakit infeksi, tetapi di sisi lain juga lebih rentan terhadap penyakit autoimun. Sementara pada laki-laki, respons imun yang lebih lemah bisa membuat gejala demam terasa lebih mengganggu secara fisik.


Faktor Psikologis dan Persepsi Rasa Sakit

Cara seseorang memaknai rasa sakit dan ketidaknyamanan juga turut memengaruhi bagaimana gejala demam dirasakan. Secara sosial, laki-laki sering terbiasa menahan rasa sakit dalam kondisi tertentu, namun ketika tubuh benar-benar merasa tidak berdaya akibat infeksi, respons yang muncul justru bisa lebih dramatis.

Perempuan, yang secara biologis dan psikologis lebih sering berhadapan dengan rasa nyeri—misalnya saat menstruasi atau melahirkan—cenderung memiliki toleransi nyeri yang lebih tinggi. Hal ini membuat perempuan terlihat lebih “kuat” saat demam, meski sebenarnya tubuh mereka juga sedang bekerja keras melawan penyakit.


Benarkah Laki-laki Lebih Mudah Tumbang Saat Sakit?

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa laki-laki memang berisiko mengalami komplikasi lebih berat akibat infeksi tertentu. Proses penyembuhan pun bisa berlangsung lebih lama dibandingkan perempuan. Karena itu, rasa lemah, nyeri, dan tidak nyaman yang dirasakan bukan sekadar berlebihan, melainkan refleksi dari respons biologis tubuh yang berbeda.

Namun, bukan berarti semua keluhan demam harus dianggap remeh atau dilebih-lebihkan. Baik laki-laki maupun perempuan tetap perlu memperhatikan gejala yang muncul. Demam tinggi yang berlangsung lama, disertai nyeri hebat, sesak napas, atau penurunan kesadaran tetap memerlukan pemeriksaan medis.


Memahami Tubuh Sendiri Lebih Penting dari Sekadar Candaan

Fenomena laki-laki yang terlihat lebih menderita saat demam seharusnya tidak hanya menjadi bahan lelucon. Memahami bahwa setiap tubuh memiliki respons yang berbeda terhadap penyakit justru membantu kita lebih empati dan waspada.

Istirahat cukup, konsumsi cairan yang memadai, dan menjaga daya tahan tubuh tetap menjadi kunci utama pemulihan. Jika demam tidak kunjung membaik,

langkah terbaik adalah berkonsultasi dengan tenaga medis, terlepas dari gender siapa pun yang mengalaminya.

Dengan pemahaman ilmiah yang tepat, kita bisa melihat bahwa keluhan laki-laki saat demam bukan sekadar drama, melainkan reaksi alami tubuh yang memang memiliki dasar biologis yang kuat.

kesehatan

Fenomena Terkini






Trending