
1. Prabowo Soroti Peran BRICS bagi Negara Global South
Presiden Prabowo Subianto menilai BRICS memiliki posisi strategis dalam menyatukan dan memperkuat suara negara-negara Global South atau negara-negara berkembang dalam menentukan arah masa depan dunia. Pandangan tersebut disampaikan Prabowo dalam sesi terbuka Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 di New Delhi, India, Minggu, 13 September 2026. Menurutnya, negara-negara berkembang perlu memiliki ruang yang lebih besar dalam pembentukan kebijakan dan tatanan global. BRICS dinilai dapat menjadi wadah untuk memperkuat kerja sama sekaligus memperbesar pengaruh negara-negara yang selama ini belum memiliki posisi dominan dalam pengambilan keputusan internasional.
2. Suara Negara Berkembang Dinilai Penting dalam Menentukan Masa Depan
Prabowo menilai penguatan posisi Global South menjadi semakin penting karena berbagai keputusan dunia akan berdampak langsung terhadap negara-negara berkembang. Negara-negara tersebut menghadapi tantangan yang beragam, mulai dari pembangunan ekonomi, pengentasan kemiskinan, perubahan lingkungan hingga ketimpangan dalam tata kelola global. Karena itu, Indonesia mendorong agar kepentingan negara berkembang tidak hanya menjadi bagian dari pembahasan, tetapi juga ikut menentukan arah kebijakan internasional. Melalui kerja sama yang lebih erat, negara-negara Global South diharapkan mampu menghasilkan pembangunan yang lebih tangguh, memperluas kesempatan melalui inovasi, serta menciptakan manfaat nyata bagi masyarakat.
3. Agenda 2030 Menjadi Momentum Perkuat Pembangunan Global
Dalam forum BRICS tersebut, Prabowo juga menyoroti semakin dekatnya batas waktu pencapaian Agenda 2030 dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Dunia telah memiliki sejumlah komitmen untuk mengurangi kemiskinan, menjaga kelestarian lingkungan, serta memperkuat berbagai institusi. Namun, berakhirnya tenggat Agenda 2030 bukan berarti upaya pembangunan dapat dihentikan. Indonesia berpandangan bahwa kerja sama internasional perlu terus dilanjutkan setelah 2030 dengan menyesuaikan tantangan dan kebutuhan baru. Negara-negara berkembang juga perlu ditempatkan pada posisi yang lebih kuat agar pembangunan global tidak hanya menguntungkan kelompok negara tertentu.
4. Indonesia Dorong Peran Global South Lebih Besar
Indonesia ingin negara-negara Global South dapat berkontribusi lebih besar dalam membangun perdamaian dan kesejahteraan masyarakat dunia. Prabowo menilai suara negara berkembang semestinya tidak hanya didengar ketika dunia membahas target pembangunan yang sudah disepakati, tetapi juga ketika menentukan agenda setelah tahun 2030. Hal ini berkaitan dengan upaya membangun tatanan internasional yang lebih seimbang dan mampu mengakomodasi kepentingan berbagai kawasan. Bagi Indonesia, penguatan kerja sama antarnegera berkembang dapat menjadi salah satu cara untuk memastikan bahwa persoalan ekonomi, sosial, lingkungan, dan pembangunan yang dihadapi Global South memperoleh perhatian yang lebih besar di tingkat internasional.
5. BRICS Diharapkan Jadi Penggerak Kerja Sama Jangka Panjang
Peran BRICS tidak hanya dipandang dari sisi kerja sama ekonomi, tetapi juga sebagai salah satu wadah untuk memperkuat posisi kolektif negara-negara berkembang. Dengan semakin besarnya tantangan global, negara anggota BRICS dinilai memiliki peluang untuk membangun kolaborasi yang menghasilkan dampak lebih luas, baik dalam bidang pembangunan, inovasi maupun keberlanjutan. Indonesia juga mendorong agar kerja sama tersebut diarahkan pada terciptanya kesejahteraan yang dapat dirasakan masyarakat saat ini sekaligus generasi mendatang. Penguatan suara Global South melalui BRICS diharapkan dapat membantu membentuk tatanan dunia yang lebih inklusif dan memberikan ruang lebih besar bagi negara berkembang dalam menentukan masa depan global.