
1. Prabowo Dorong Industrialisasi Bersama di Negara BRICS
Presiden Prabowo Subianto mendorong negara-negara anggota BRICS untuk memperkuat kerja sama industri dengan mengoptimalkan sumber daya dan kapasitas produksi yang dimiliki bersama. Gagasan tersebut disampaikan Prabowo dalam KTT BRICS 2026 di New Delhi, India, Minggu (13/9/2026). Menurutnya, kerja sama antarnegara tidak cukup hanya dilakukan dalam bentuk perdagangan, tetapi perlu ditingkatkan melalui pembangunan industri yang menghasilkan nilai tambah. Dengan menggabungkan sumber daya, teknologi, kapasitas produksi, serta pasar yang dimiliki negara anggota, BRICS dinilai memiliki peluang besar untuk membangun rantai industri yang lebih kuat dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
2. Sumber Daya BRICS Dinilai Bisa Menghasilkan Nilai Tambah Lebih Besar
Prabowo melihat negara-negara BRICS telah memiliki modal ekonomi yang besar, baik berupa sumber daya alam maupun kapasitas produksi. Potensi tersebut perlu dihubungkan agar tidak berjalan sendiri-sendiri dan dapat membentuk rantai pasokan yang lebih terintegrasi. Penguatan konektivitas antarindustri di negara anggota dinilai dapat meningkatkan nilai tambah berbagai komoditas sebelum dipasarkan ke negara lain. Dengan pendekatan tersebut, BRICS tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga dapat meningkatkan kemampuan dalam menghasilkan produk industri bernilai tinggi. Kerja sama semacam ini juga berpotensi memperkuat posisi negara-negara anggota dalam menghadapi persaingan ekonomi global.
3. Indonesia Jadi Contoh Perubahan dari Importir Menjadi Eksportir
Dalam forum tersebut, Prabowo turut menyinggung perkembangan Indonesia yang sebelumnya menjadi salah satu importir utama sejumlah komoditas pangan. Peningkatan kapasitas produksi dalam negeri membuat kondisi tersebut mulai berubah. Indonesia kini dinilai memiliki kemampuan untuk menghasilkan komoditas pangan yang tidak hanya mencukupi kebutuhan nasional, tetapi juga dapat mendukung pasar luar negeri. Perubahan tersebut menjadi contoh bahwa penguatan produksi nasional dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor sekaligus membuka peluang ekspor. Prabowo menilai pengalaman Indonesia tersebut dapat menjadi gambaran bagi negara-negara BRICS lainnya untuk terus mengoptimalkan kapasitas yang mereka miliki.
4. Kerja Sama Industri Bisa Buka Investasi dan Lapangan Kerja
Prabowo menilai industrialisasi bersama dapat menjadi salah satu cara bagi negara-negara BRICS untuk mengubah tantangan global menjadi peluang ekonomi. Integrasi sumber daya dan kapasitas produksi berpotensi mendorong masuknya investasi baru sekaligus memperkuat sektor industri di masing-masing negara. Perkembangan industri juga diharapkan menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesempatan ekonomi bagi masyarakat. Pertumbuhan ekonomi, menurut Prabowo, akan memberikan dampak yang lebih kuat apabila manfaatnya dapat menjangkau masyarakat dalam jumlah besar. Karena itu, kerja sama industri perlu diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan nilai perdagangan, tetapi juga memperkuat kesejahteraan rakyat.
5. BRICS Didorong Perkuat Rantai Pasokan dan Ekonomi Kolektif
KTT ke-18 BRICS berlangsung di Bharat Mandapam, New Delhi, India, pada 12-13 September 2026 di bawah kepemimpinan India. Kelompok BRICS saat ini mencakup Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, Ethiopia, Indonesia, dan Iran. Melalui forum tersebut, Indonesia mendorong penguatan kerja sama ekonomi dengan memanfaatkan potensi kolektif negara anggota. Industrialisasi bersama diharapkan dapat memperkuat rantai pasokan, meningkatkan nilai tambah sumber daya, memperluas investasi, serta menciptakan lapangan kerja. Langkah tersebut juga dapat memperkuat posisi BRICS sebagai kekuatan ekonomi yang mampu memberikan kontribusi lebih besar dalam menghadapi perubahan dan tantangan ekonomi dunia.