Nepal dan China Waspadai Banjir Susulan di Himalaya, Danau Akibat Longsor Berisiko Jebol

Kuatbaca.com - Wilayah Himalaya kembali menghadapi ancaman bencana setelah banjir bandang dahsyat menerjang kawasan perbatasan Nepal dan Tibet, China. Situasi belum sepenuhnya aman karena muncul danau yang terbentuk secara alami akibat material longsoran yang membendung aliran sungai. Penumpukan air tersebut kini menimbulkan kekhawatiran baru karena bendungan alami yang terbentuk dari bebatuan, lumpur, es, dan puing berpotensi tidak mampu menahan tekanan air.
1. Danau Akibat Longsor Menjadi Ancaman Baru
Danau yang terbentuk setelah bencana tersebut berada di kawasan yang sebelumnya telah mengalami kerusakan parah. Material longsor dalam jumlah besar menutup aliran sungai dan menciptakan semacam bendungan alami. Air yang terus mengalir dari wilayah pegunungan kemudian tertahan di belakang timbunan material tersebut sehingga permukaan danau terus mengalami peningkatan.
Kondisi ini menjadi sangat berbahaya apabila struktur bendungan alami tersebut runtuh. Air dalam jumlah besar dapat mengalir secara tiba-tiba ke wilayah yang lebih rendah dan menciptakan banjir susulan dengan daya rusak tinggi.
2. Hujan Deras Meningkatkan Risiko Danau Jebol
Ancaman tersebut semakin serius karena wilayah Himalaya masih berpotensi diguyur hujan dalam beberapa hari berikutnya. Curah hujan yang tinggi dapat menambah debit air yang masuk ke danau sehingga tekanannya terhadap timbunan longsoran semakin besar.
Perkiraan menunjukkan volume air yang masuk ke danau dapat mencapai sekitar 3 juta meter kubik dalam kurun tiga hari. Permukaan air diperkirakan terus meningkat hingga mencapai titik tertinggi sekitar 1 September 2026. Jika kondisi cuaca memburuk atau bendungan alami mengalami kerusakan, aliran air dapat bergerak cepat menuju kawasan hilir.
3. Kawasan Hilir Diminta Meningkatkan Kewaspadaan
Peringatan mengenai potensi banjir susulan terutama ditujukan kepada masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai. Warga, pelintas, maupun personel yang masih melakukan operasi penyelamatan diminta menjauh dari bantaran sungai dan lokasi yang dianggap rawan.
Langkah tersebut menjadi penting karena kondisi geografis Himalaya membuat perubahan debit air dapat berlangsung cepat. Sungai-sungai yang berada di kawasan pegunungan juga memiliki kemiringan tinggi, sehingga air yang keluar dalam jumlah besar berpotensi mengalir deras menuju wilayah yang lebih rendah.
4. Pelabuhan Gyirong Berpotensi Terdampak
Salah satu wilayah yang ikut mendapat perhatian adalah Pelabuhan Gyirong di Tibet. Kawasan tersebut berada di jalur penting yang menghubungkan wilayah China dengan Nepal dan menjadi salah satu area yang berpotensi terdampak apabila danau alami tersebut jebol.
Selain kawasan pelabuhan, daerah-daerah lain di sepanjang aliran sungai juga menghadapi risiko. Kerusakan dapat meluas apabila air bah membawa kembali material longsoran seperti batu, lumpur, pepohonan, dan pecahan es yang sebelumnya menutup aliran sungai.
5. Rekaman Udara Menunjukkan Kondisi Danau yang Mengkhawatirkan
Kondisi danau yang terbentuk akibat longsor telah terlihat melalui rekaman udara yang dibuat tim penyelamat. Dalam rekaman tersebut terlihat genangan air berwarna kecokelatan yang memenuhi cekungan di antara timbunan material longsor.
Sejumlah vegetasi seperti semak dan pepohonan tampak terendam. Di bagian tertentu, air terlihat tertahan oleh gundukan batu dan puing yang membentuk penghalang alami. Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana longsoran telah mengubah aliran air di kawasan pegunungan.
6. Banjir Bandang Sebelumnya Menimbulkan Korban Besar
Bencana banjir bandang yang melanda kawasan perbatasan Nepal dan Tibet pada 26 Agustus 2026 telah menyebabkan korban dalam jumlah sangat besar. Data sementara mencatat sedikitnya 584 orang meninggal dunia di kedua sisi perbatasan.
Nepal menjadi wilayah dengan jumlah korban terbesar. Otoritas setempat melaporkan sedikitnya 579 orang meninggal, sementara lima korban jiwa dilaporkan dari wilayah China. Angka tersebut masih dapat berubah seiring dengan proses pencarian dan pendataan korban yang terus berlangsung.
7. Ribuan Orang Masih Dilaporkan Hilang
Selain korban meninggal dunia, jumlah orang yang belum ditemukan juga mencapai ribuan. Data dari Nepal mencatat sekitar 1.924 orang masih dinyatakan hilang. Sementara itu, otoritas China melaporkan 558 orang belum ditemukan.
Jika digabungkan, jumlah orang hilang di kedua sisi perbatasan mencapai sekitar 2.482 orang. Angka tersebut menunjukkan besarnya dampak bencana dan sekaligus menggambarkan tantangan yang dihadapi tim penyelamat di kawasan pegunungan.
8. Pekerja PLTA Termasuk Kelompok yang Terdampak
Sebagian dari orang yang masih dinyatakan hilang merupakan pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air atau PLTA. Infrastruktur pembangkit listrik banyak dibangun di sekitar sungai-sungai pegunungan karena kawasan tersebut memiliki potensi energi hidro yang besar.
Namun, posisi proyek-proyek tersebut di dekat aliran sungai membuat para pekerja dan fasilitas pendukungnya rentan ketika terjadi banjir bandang maupun longsor. Data sementara mencatat ratusan pekerja proyek PLTA termasuk dalam daftar orang yang belum ditemukan.
9. Warga Negara Asing Juga Masuk Daftar Orang Hilang
Dampak bencana tidak hanya dirasakan oleh penduduk lokal. Sejumlah warga negara asing juga dilaporkan masuk dalam daftar orang yang belum ditemukan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kawasan perbatasan tersebut tidak hanya menjadi tempat tinggal masyarakat, tetapi juga menjadi jalur aktivitas ekonomi, proyek infrastruktur, dan mobilitas lintas wilayah.
Proses identifikasi dan pencarian korban menjadi semakin rumit karena sebagian kawasan terdampak mengalami kerusakan infrastruktur yang berat.
10. Jalan, Jembatan, dan Jaringan Komunikasi Rusak
Upaya pencarian korban menghadapi kendala besar akibat rusaknya berbagai fasilitas penting. Sejumlah jalan dan jembatan mengalami kerusakan sehingga akses menuju lokasi bencana menjadi sulit.
Gangguan jaringan telekomunikasi dan listrik juga memperlambat koordinasi di lapangan. Kondisi ini membuat beberapa wilayah yang mengalami kerusakan paling parah belum dapat dijangkau secara optimal oleh tim bantuan.