Lonjakan Harga Minyak Dunia Dipicu Konflik AS-Israel dan Iran, Penutupan Selat Hormuz Ganggu Pasokan Global

16 March 2026 09:39 WIB
Lonjakan Harga Minyak Dunia Dipicu Konflik AS-Israel dan Iran, Penutupan Selat Hormuz Ganggu Pasokan Global.jpg

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global. Konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang telah berlangsung selama tiga pekan diperkirakan akan terus mendorong kenaikan harga minyak dunia, terutama setelah jalur strategis Selat Hormuz ditutup dan menghambat distribusi energi global.

Penutupan Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak

Harga minyak mentah jenis Brent dan West Texas Intermediate (WTI) dari Amerika Serikat tercatat melonjak lebih dari 40 persen sepanjang bulan ini. Kenaikan tersebut membawa harga minyak ke level tertinggi sejak tahun 2022.

Lonjakan ini dipicu oleh serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang kemudian memicu keputusan Teheran untuk menghentikan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute terpenting dalam perdagangan energi dunia karena mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak global.

Gangguan di jalur strategis tersebut membuat pasar energi internasional menghadapi risiko kekurangan pasokan dalam waktu singkat.

AS Siapkan Koalisi Militer untuk Amankan Jalur Energi

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, meminta negara-negara sekutu untuk mengerahkan kapal perang guna menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Pemerintah AS bahkan berencana membentuk koalisi internasional yang bertugas mengawal kapal tanker yang melintas di kawasan tersebut.

Rencana pembentukan koalisi pengamanan itu diperkirakan akan diumumkan dalam waktu dekat sebagai upaya meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan distribusi minyak dunia.

Ancaman Serangan Baru Perburuk Ketegangan

Situasi semakin memanas setelah Trump mengeluarkan ancaman akan melakukan serangan tambahan terhadap fasilitas ekspor minyak Iran di Pulau Kharg. Pernyataan tersebut muncul setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap target militer Iran pada Sabtu, 14 Maret 2026.

Ancaman tersebut memicu respons dari Iran yang meningkatkan serangan balasan. Tidak lama setelah insiden di Kharg, drone Iran dilaporkan menyerang terminal minyak utama di Fujairah, Uni Emirat Arab.

Terminal tersebut memiliki peran penting karena menjadi jalur ekspor bagi sekitar 1 juta barel minyak mentah Murban per hari, atau sekitar satu persen dari total permintaan minyak global.

Infrastruktur Energi Teluk Berada dalam Risiko Tinggi

Analis dari JP Morgan, Natasha Kaneva, menilai situasi ini menunjukkan eskalasi konflik yang semakin serius di kawasan Teluk.

Selain fasilitas di Fujairah, beberapa infrastruktur energi utama lainnya juga dinilai sangat rentan terhadap serangan. Di antaranya adalah terminal ekspor Ras Tanura dan fasilitas pengolahan minyak Abqaiq di Arab Saudi yang termasuk dalam daftar aset energi strategis di kawasan tersebut.

Kerentanan fasilitas-fasilitas ini meningkatkan kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan energi yang lebih luas.

Gangguan Pengiriman Turunkan Pasokan Minyak Global

Badan Energi Internasional memperkirakan pasokan minyak dunia dapat berkurang hingga 8 juta barel per hari pada Maret 2026 akibat gangguan pengiriman. Di saat yang sama, negara-negara produsen di Timur Tengah juga dilaporkan telah memangkas produksi hingga 10 juta barel per hari.

Kondisi tersebut semakin memperketat keseimbangan antara pasokan dan permintaan minyak global, sehingga berpotensi menjaga harga tetap tinggi dalam jangka pendek.

AS Perkirakan Konflik Berakhir Dalam Beberapa Pekan

Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, menyatakan pemerintah AS memperkirakan konflik dengan Iran tidak akan berlangsung lama. Menurutnya, perang tersebut kemungkinan akan berakhir dalam beberapa minggu ke depan.

Ia menambahkan bahwa setelah konflik mereda, pasokan minyak diprediksi akan kembali stabil dan harga energi berpotensi mengalami penurunan.

Upaya Diplomasi Belum Menemui Titik Temu

Di tengah meningkatnya ketegangan, sejumlah negara Timur Tengah dilaporkan telah mencoba mendorong dimulainya jalur diplomasi. Namun upaya tersebut belum mendapatkan respons positif dari pemerintahan Trump.

Sementara itu, Iran juga menyatakan tidak akan mempertimbangkan gencatan senjata selama serangan dari Amerika Serikat dan Israel masih berlangsung. Situasi ini membuat prospek penyelesaian konflik dalam waktu dekat masih penuh ketidakpastian.

harga minyak mentah dunia
konflik geopolitik
selat hormuz

internasional

Fenomena Terkini






Trending