Ketegangan Memuncak! AS Serang Nuklir Iran, Putin Pilih Bungkam dari Trump

22 June 2025 20:16 WIB
presiden-as-donald-trump-klaim-vladimir-putin-siap-berunding-1747736714872_169.jpeg

1. Serangan AS Picu Ketegangan Baru, Putin Belum Berniat Bicara dengan Trump

Kuatbaca.com - Serangan Amerika Serikat terhadap tiga fasilitas nuklir milik Iran menambah panas konflik di kawasan Timur Tengah. Presiden Rusia, Vladimir Putin, memilih untuk tidak langsung berkomunikasi dengan Presiden AS Donald Trump pasca-serangan tersebut. Meskipun begitu, Kremlin menyatakan bahwa percakapan bisa saja diatur sewaktu-waktu jika diperlukan.

Langkah diam Putin menjadi sorotan karena Rusia merupakan salah satu sekutu terdekat Iran saat ini. Kedua negara bahkan telah menandatangani perjanjian kemitraan komprehensif pada Januari lalu yang memperkuat hubungan strategis mereka, meski perjanjian tersebut tidak mencakup kewajiban membela secara militer bila salah satu diserang.

Situasi ini menandai pergeseran besar geopolitik, dengan Iran makin memperkuat aliansinya dengan Moskow, di tengah memanasnya relasi dengan Barat. Belum ada sinyal bahwa Putin akan merespons langsung tindakan Trump melalui jalur diplomasi langsung.

Sementara itu, media CNN melaporkan bahwa Kremlin tetap membuka kemungkinan komunikasi lintas negara jika situasi semakin genting.

2. China dan Rusia Kutuk Serangan, Iran Segera Bertemu Putin

Di tengah lonjakan eskalasi, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping telah lebih dulu menyuarakan kecaman keras terhadap serangan militer Israel ke Iran, yang kemudian didukung penuh oleh AS. Dalam percakapan telepon yang terjadi pada Kamis (19/6), keduanya sepakat bahwa ketegangan ini perlu segera diredam.

Pernyataan dari pemerintah China menyebutkan bahwa kekuatan besar dunia seharusnya berperan sebagai penengah, bukan justru memperkeruh suasana. Meskipun tidak secara eksplisit menyebut AS atau Trump, arah kritik tersebut cukup jelas mengarah ke Barat.

Dalam perkembangan terbaru, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, telah menjadwalkan kunjungan penting ke Moskow. Ia akan bertemu langsung dengan Presiden Putin pada Senin (23/6) untuk membahas strategi bersama menyikapi aksi militer AS.

“Iran dan Rusia selalu berkonsultasi dalam momen-momen krisis. Kami adalah mitra strategis,” ujar Araghchi dalam konferensi pers di Istanbul.

3. Iran Geram, Tuduh AS Berkhianat dan Tak Termaafkan

Iran melabeli serangan Amerika ke fasilitas nuklirnya sebagai bentuk pengkhianatan yang tidak akan dimaafkan. Dalam pernyataan tegas, Araghchi menyebut bahwa tindakan AS mengancam stabilitas kawasan dan merupakan bentuk provokasi terhadap kedaulatan negaranya.

Ia juga mengungkapkan bahwa konsultasi dengan Rusia adalah bagian dari langkah strategis untuk menanggapi tekanan geopolitik. Sebagai negara penandatangan kesepakatan nuklir JCPOA, Rusia dinilai memiliki posisi penting dalam menjaga keseimbangan diplomatik.

“Pertemuan saya dengan Presiden Putin akan menjadi titik awal koordinasi lebih luas,” tegas Araghchi.

Sementara itu, berbagai negara di kawasan pun mulai menyuarakan keprihatinan atas potensi perang terbuka yang semakin nyata akibat intervensi militer ini.

4. Trump dan Netanyahu Kompak Dukung Serangan Nuklir

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump justru menyanjung serangan yang baru saja dilancarkan. Dalam pernyataannya, ia memuji militer AS dan Israel atas keberanian dan efektivitas operasi yang disebut “belum pernah terjadi dalam beberapa dekade.”

Ucapan terima kasih juga dilayangkan kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, atas kerja sama yang dianggap solid dan terkoordinasi. Keduanya mengklaim bahwa tindakan ini adalah bagian dari “menghapus ancaman terhadap Israel” dari wilayah Iran.

“Ini adalah kolaborasi tingkat tinggi antara dua negara sahabat,” ujar Trump dalam pidato singkat yang dikutip dari AFP.

Namun, ucapan tersebut memicu kritik dari berbagai pihak yang menilai bahwa tindakan sepihak semacam ini berisiko memperbesar konflik, bahkan membuka potensi perang regional yang melibatkan lebih banyak negara.

internasional

Fenomena Terkini






Trending