
Kuatbaca - Selama hampir lima dekade, China menjalankan salah satu program penghijauan terbesar di dunia. Sejak 1978, sekitar 66 miliar pohon telah ditanam dalam rangkaian program yang dikenal luas sebagai Great Green Wall atau Tembok Hijau Raksasa.
Program tersebut dikembangkan untuk menghadang perluasan wilayah gurun di bagian utara China, terutama Gurun Gobi dan Gurun Taklamakan. Pepohonan ditanam di kawasan yang sebelumnya didominasi lahan kering dan rentan mengalami degradasi akibat desertifikasi.
Upaya tersebut bukan sekadar proyek menambah tutupan hijau. Vegetasi juga diharapkan dapat mengurangi dampak angin kencang, menahan pergerakan pasir, melindungi lahan di sekitarnya, sekaligus membantu menyerap karbon dioksida dari atmosfer.
Setelah puluhan tahun berlangsung, program tersebut kini memberikan bahan baru bagi para ilmuwan untuk memahami bagaimana hutan buatan manusia berkembang dibandingkan hutan alami.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Geophysical Research Letters menemukan adanya perbedaan menarik antara hutan yang ditanam manusia dan hutan yang tumbuh secara alami. Berdasarkan analisis data satelit dan pemodelan, hutan yang ditanam di China mengalami peningkatan luas daun sekitar 66 persen lebih cepat dibandingkan hutan alami pada periode pengamatan 2000 hingga 2022.
Temuan tersebut cukup menarik karena luas daun atau leaf area index dapat memberikan gambaran mengenai kepadatan tajuk dan aktivitas vegetasi. Semakin berkembang tajuk pohon, semakin besar pula kemampuan tanaman melakukan fotosintesis, meskipun ukuran tersebut tidak secara langsung sama dengan jumlah karbon yang tersimpan di seluruh ekosistem.
Angka pertumbuhan yang lebih cepat sekilas dapat memberikan kesan bahwa hutan hasil penanaman manusia otomatis lebih unggul daripada hutan alami. Namun, penelitian tersebut menunjukkan persoalannya jauh lebih kompleks.
Sebagian besar perbedaan pertumbuhan ternyata berkaitan dengan usia hutan. Hutan hasil penanaman umumnya lebih muda dibandingkan hutan alami. Pohon yang masih muda cenderung mengalami pertumbuhan tajuk lebih cepat sebelum kecepatannya berkurang ketika memasuki usia yang lebih tua.
Karena itu, perbandingan antara dua jenis hutan tidak cukup hanya melihat seberapa cepat area hijau bertambah. Usia pohon, komposisi spesies, kondisi lingkungan, kepadatan tanaman, serta cara hutan tersebut dikelola turut menentukan hasil akhirnya.
Salah satu aspek yang menarik perhatian peneliti adalah respons hutan tanaman terhadap meningkatnya konsentrasi karbon dioksida atau CO₂ di atmosfer.
Tanaman membutuhkan CO₂ dalam proses fotosintesis. Ketika konsentrasi gas tersebut meningkat, sejumlah tanaman dapat menunjukkan peningkatan aktivitas pertumbuhan. Penelitian menunjukkan bahwa hutan tanaman di China tampaknya memiliki respons yang lebih kuat terhadap peningkatan CO₂ dibandingkan hutan alami dalam kondisi tertentu.
Namun, temuan ini belum dapat diartikan bahwa seluruh tambahan CO₂ akan otomatis menghasilkan penyerapan karbon dalam jumlah yang sama. Pertumbuhan daun hanyalah salah satu bagian dari proses yang jauh lebih luas.
Karbon yang diserap tanaman pada akhirnya dapat tersimpan di batang, cabang, akar, tanah, maupun bagian ekosistem lainnya. Karena itu, kemampuan sebuah hutan dalam menyimpan karbon dalam jangka panjang tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan seberapa cepat tajuknya bertambah.
Penelitian tersebut juga menemukan pola yang menarik terkait usia hutan. Keunggulan pertumbuhan hutan tanaman dibandingkan hutan alami terlihat semakin jelas pada kisaran usia sekitar 30 hingga 40 tahun.
Setelah melewati usia 40 tahun, perbedaan tersebut mulai mengecil. Kondisi ini menunjukkan bahwa keuntungan pertumbuhan cepat yang dimiliki hutan tanaman tidak berlangsung selamanya.
Hutan alami mungkin berkembang lebih lambat pada periode tertentu, tetapi pertumbuhannya berlangsung dengan pola yang berbeda dan dapat memberikan manfaat ekologis dalam jangka panjang. Karena itu, umur hutan menjadi salah satu variabel penting ketika para ilmuwan menghitung kontribusi hutan terhadap perubahan iklim.
Pertumbuhan cepat pada hutan tanaman juga tidak terlepas dari cara manusia memilih dan merawat vegetasi. Hutan hasil penanaman dapat didominasi spesies yang memang memiliki karakter pertumbuhan cepat.
Selain pemilihan jenis pohon, pengelolaan lahan juga dapat mengurangi persaingan dengan tumbuhan lain dalam memperoleh cahaya, air, dan unsur hara. Pada beberapa kawasan, pemeliharaan bahkan dapat mencakup pengendalian vegetasi pesaing dan pemberian pupuk.
Kondisi tersebut berbeda dengan hutan alami yang berkembang melalui proses ekologis yang jauh lebih kompleks. Berbagai jenis tumbuhan hidup berdampingan dan bersaing sekaligus membentuk hubungan dengan tanah, air, mikroorganisme, serangga, serta satwa lainnya.
Istilah Great Green Wall sering menggambarkan seolah-olah China sedang membangun sebuah tembok yang terdiri dari satu garis pepohonan. Kenyataannya, program tersebut merupakan rangkaian proyek penghijauan dalam wilayah yang sangat luas.
Vegetasi ditanam untuk membantu menghadapi persoalan desertifikasi dan dampak badai pasir. Di sejumlah kawasan, keberadaan tanaman dapat membantu menstabilkan permukaan tanah dan mengurangi pergerakan pasir.
Dampaknya juga berkaitan dengan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan rawan degradasi lahan. Ketika tanah lebih terlindungi dari erosi dan pasir, tekanan terhadap aktivitas pertanian maupun permukiman dapat dikurangi.
Program penghijauan China belum berhenti pada angka 66 miliar pohon. Negara tersebut juga memiliki rencana untuk menambah sekitar 34 miliar pohon hingga pertengahan abad ini.
Besarnya skala penanaman membuat pengalaman China menjadi bahan kajian penting dalam diskusi global mengenai penghijauan dan perubahan iklim. Negara lain juga menggunakan penanaman pohon sebagai salah satu pendekatan untuk memulihkan lahan terdegradasi dan meningkatkan penyerapan karbon.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa keberhasilan program seperti ini tidak seharusnya hanya dihitung berdasarkan jumlah bibit yang masuk ke tanah.
Pertanyaan yang lebih sulit justru muncul setelah pohon tumbuh. Berapa banyak karbon yang benar-benar tersimpan? Berapa lama karbon tersebut bertahan? Bagaimana kondisi pohon ketika memasuki usia tua? Dan bagaimana perubahan iklim memengaruhi kemampuan hutan mempertahankan pertumbuhannya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting karena strategi mitigasi perubahan iklim membutuhkan penyimpanan karbon dalam jangka panjang. Hutan tanaman yang tumbuh cepat dapat memberikan penyerapan karbon yang besar pada fase tertentu, tetapi manfaat tersebut perlu dilihat bersama usia, jenis vegetasi, kondisi tanah, serta keberlanjutan pengelolaannya.
Para peneliti juga menilai model ekosistem global perlu memperhitungkan perbedaan antara hutan alami dan hutan hasil penanaman dengan lebih baik. Selama ini, kedua jenis hutan tidak selalu diperlakukan secara berbeda dalam sejumlah pemodelan perubahan iklim.
Temuan tersebut akhirnya membawa perhatian pada satu hal penting: penghijauan bukan sekadar persoalan menanam pohon sebanyak mungkin.
Pemilihan jenis tanaman, umur hutan, kondisi lingkungan, pola pengelolaan, ketersediaan air, hingga kemampuan ekosistem bertahan dalam jangka panjang semuanya memiliki peran.
Hutan buatan China memang menunjukkan kemampuan luar biasa dalam mempercepat pertumbuhan tajuk pada fase tertentu. Namun, fakta bahwa pertumbuhan tersebut lebih cepat tidak otomatis berarti hutan tanaman dapat menggantikan seluruh fungsi hutan alami.
Justru dari 66 miliar pohon tersebut, para ilmuwan mendapatkan gambaran bahwa hubungan antara hutan, karbon, dan perubahan iklim jauh lebih rumit daripada sekadar menghitung jumlah pohon yang ditanam. Upaya penghijauan tetap menjadi bagian penting dalam pemulihan lingkungan, tetapi keberhasilannya perlu dinilai dari manfaat ekologis yang bertahan dalam jangka panjang.