
Kuatbaca.com-Kedutaan Besar Prancis di Indonesia melalui Institut français d’Indonésie (IFI), bekerja sama dengan Pemerintah Kota Semarang, resmi meluncurkan "Residensi Rimbaud", sebuah program residensi sastra bilateral pertama antara Prancis dan Indonesia. Peluncuran ini diresmikan di Kediaman Duta Besar Prancis di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Program ini digagas untuk merayakan peringatan 150 tahun tibanya penyair legendaris Prancis, Arthur Rimbaud, di Semarang pada tahun 1876. Jejak sejarah tersebut kini diubah menjadi wadah pertukaran sastra kontemporer yang dinamis bagi kedua negara.
Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, Fabien Penone, dalam pidato pembukaannya menyampaikan kebanggaannya atas inisiatif ini.
"Tepat 150 tahun yang lalu, pada tahun 1876, Arthur Rimbaud yang saat itu berusia 21 tahun berlayar ke Jawa. Setelah tiba di Batavia sekarang Jakarta ia melanjutkan perjalanan ke Semarang sebelum mencapai Salatiga," ungkap Dubes Penone. "150 tahun kemudian, kisah ini menjadi titik awal bagi kerja sama sastra baru yang menghubungkan Prancis, dunia Frankofon, dan Indonesia."
Dubes Penone juga menegaskan alasan di balik pemilihan ibu kota Jawa Tengah tersebut sebagai kota tuan rumah pertama. "Pemilihan Semarang adalah hal yang alami, mengingat hubungannya dengan masa tinggal Rimbaud di Jawa. Namun yang terpenting, residensi ini tidak akan terwujud tanpa komitmen dari Pemerintah Kota Semarang," tambahnya, seraya menyambut kehadiran Wali Kota Semarang, Dr. Agustina Wilujeng Pramestuti, dalam acara tersebut.
Program Residensi Rimbaud edisi perdana ini menghadirkan tokoh terkemuka dalam sastra berbahasa Prancis kontemporer, Louis-Philippe Dalembert. Lahir di Port-au-Prince, Haiti, dan kini menetap di Paris, Dalembert adalah seorang novelis, penyair, dan esais pemenang berbagai penghargaan bergengsi, termasuk Prix Orange du Livre 2017 dan finalis Prix Goncourt 2021.
Mulai September hingga November 2026, Dalembert akan menghabiskan waktu tiga bulan di Semarang. Uniknya, ia akan melanjutkan penulisan karya sastranya di bangunan bersejarah Lawang Sewu. Selain menulis, ia dijadwalkan untuk berinteraksi langsung dengan para penulis, mahasiswa, peneliti, dan pembaca Indonesia melalui berbagai pertemuan publik, lokakarya, dan diskusi.
Lebih dari sekadar mendatangkan penulis asing ke Indonesia, Residensi Rimbaud didasarkan pada prinsip resiprokal (timbal balik). Setelah Dalembert menyelesaikan residensinya di Semarang pada 2026, giliran seorang penulis Indonesia yang akan diberangkatkan ke Prancis pada awal tahun 2027. Penulis Indonesia tersebut akan ditempatkan di Cité internationale de la langue française di Villers-Cotterêts.
"Timbal balik ini sangat penting. Ini bukan sekadar membawa penulis Frankofon ke Indonesia. Ini tentang memungkinkan para penulis, karya, bahasa, dan imajinasi untuk bersirkulasi di kedua arah," tegas Dubes Penone mengutip transkrip pidatonya.
Inisiatif residensi ini merupakan turunan langsung dari pengadopsian "Deklarasi Borobudur tentang Strategi Budaya Bersama" yang disepakati oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden RI Prabowo Subianto pada Mei 2025.
Ke depannya, Kedutaan Besar Prancis merencanakan program ini sebagai langkah awal menuju kerja sama sastra jangka panjang. Dubes Penone membocorkan bahwa momentum ini akan berlanjut hingga tahun 2027 dengan pengembangan program residensi tambahan, yakni residensi penulisan di Banda Neira dan residensi penerjemahan di Makassar.
"Tujuan kami adalah untuk meningkatkan kesempatan bagi para penulis Prancis, Frankofon, dan Indonesia untuk bertemu dan berkolaborasi," tutup Penone.