MBG Tetap Dibagikan Saat Puasa, Menu Kurma hingga Telur Rebus untuk Anak Sekolah dan Pesantren

30 January 2026 09:08 WIB
220420-bio-bisnis-24-kurma4_1708933977.JPG

Kuatbaca.com - Pemerintah memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan selama bulan Ramadan 2026. Program prioritas ini menargetkan anak-anak sekolah, santri di pondok pesantren, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita untuk mendapatkan asupan gizi seimbang.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menuturkan penyesuaian dilakukan agar menu MBG tetap aman dan layak dikonsumsi bagi penerima manfaat yang menjalankan ibadah puasa. Menu basah yang biasa diberikan diganti menjadi makanan kering sehingga tidak cepat basi saat dibawa pulang atau dijadikan menu buka puasa.

"Contohnya untuk puasa, kurma, telur rebus atau telur asin atau telur pindang, buah, susu, abon," jelas Dadan saat konferensi pers di Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Kamis (29/1/2026).

1. Penyesuaian Waktu Pemberian MBG

Selain menu, waktu pembagian MBG juga disesuaikan agar penerima dapat memanfaatkan makanan tersebut untuk berbuka. Untuk anak sekolah, MBG akan dibagikan pada siang hari agar mereka bisa membawanya pulang dan dimakan saat berbuka puasa.

Sementara bagi santri yang tinggal di pondok pesantren, makanan akan diberikan menjelang waktu berbuka dengan menu normal seperti biasa. Sedangkan ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, serta mereka yang tidak menjalankan puasa tetap mendapatkan MBG dengan menu dan waktu pemberian standar.

"Untuk SPPG di pesantren, karena penerima manfaatnya lokal, pelayanannya digeser ke sore hari dengan makanan normal," tambah Dadan.

2. Skala Program MBG di Seluruh Indonesia

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan atau Zulhas, menyebut jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG di seluruh Indonesia sudah mencapai 22.091 unit. Total penerima manfaat program MBG kini melebihi 60 juta orang, menjadikan program ini salah satu intervensi gizi terbesar di Tanah Air.

"Penerima manfaat sudah lebih dari 60 juta, jadi sudah tebus 60 juta ya," ucap Zulhas dalam konferensi pers, Rabu (29/1/2026).

3. Capaian Penerima Manfaat Berdasarkan Jenjang Pendidikan

Zulhas menjelaskan, dari total penerima MBG, cakupan anak sekolah di seluruh Indonesia sudah mencapai lebih dari 90% per sekolah yang memiliki SPPG. Namun, penerima manfaat di pesantren masih tergolong rendah, baru sekitar 20%.

"Kalau dari sekolah, hampir 100% siswanya sudah dapat MBG. Sedangkan di pesantren baru sekitar 20%," terang Zulhas.

Pemerintah berencana melakukan sinkronisasi data antara Kemenko Pangan dan Kementerian Agama untuk memastikan cakupan program MBG di pesantren meningkat.

4. Evaluasi Kinerja MBG untuk Pertumbuhan Anak

Pemerintah juga menekankan pentingnya evaluasi terhadap efektivitas program MBG, khususnya terhadap pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif penerima manfaat. Program ini menjadi salah satu indikator keberhasilan intervensi gizi nasional.

"Setelah satu tahun makan bergizi, kita ukur bagaimana pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak. Evaluasi ini akan dilanjutkan setiap tahun untuk memantau dampak jangka panjang," ujar Zulhas.

Dengan penyesuaian menu dan waktu pemberian selama Ramadan, program MBG tidak hanya memastikan anak-anak dan penerima manfaat lainnya tetap mendapat asupan gizi seimbang, tetapi juga mendukung kelancaran ibadah puasa tanpa mengurangi kualitas makanan yang diberikan.

5. Menu Bergizi Selama Puasa

Menu MBG saat puasa difokuskan pada makanan kering dan tahan lama, seperti:

  • Kurma sebagai sumber energi cepat
  • Telur rebus, telur asin, atau telur pindang untuk protein
  • Buah segar
  • Susu dan abon sebagai tambahan gizi

Menu ini dirancang agar tetap aman disimpan hingga waktu berbuka dan memudahkan anak-anak sekolah serta santri membawa makanan ke rumah atau pesantren.

ramadhan
MBG
BGN

Fenomena Terkini






Trending