
JAKARTA – Warga terdampak kebakaran di permukiman padat Jalan Batu Ceper, Kelurahan Kebon Kelapa, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, masih membutuhkan sejumlah bantuan penting di lokasi pengungsian. Meski kebutuhan makanan dan air bersih saat ini relatif tercukupi, beberapa perlengkapan khusus untuk bayi, lansia, serta perempuan masih terbatas. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena pengungsian dihuni puluhan keluarga dengan kebutuhan yang berbeda-beda. Bantuan yang diperlukan antara lain popok bayi, popok untuk lansia, alas tidur atau kasur, pembalut, pakaian dalam, serta perlengkapan kebersihan. Situasi ini menunjukkan bahwa distribusi bantuan pascakebakaran tidak hanya perlu berfokus pada makanan dan minuman, tetapi juga harus memperhatikan kebutuhan kelompok rentan yang berada di tempat pengungsian.
Sebanyak kurang lebih 60 keluarga terdampak kebakaran saat ini menempati tenda pengungsian yang didirikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta di lapangan kosong di depan Pos RW 01. Para warga harus meninggalkan tempat tinggal mereka setelah kebakaran melanda kawasan permukiman padat tersebut. Kondisi tenda yang menjadi tempat tinggal sementara membuat kebutuhan ruang dan fasilitas istirahat menjadi cukup penting. Jumlah pengungsi yang cukup banyak juga menyebabkan kapasitas tempat tidur belum sepenuhnya mencukupi. Sebagian warga masih harus beristirahat dengan fasilitas seadanya, sehingga tambahan alas tidur dan kasur menjadi salah satu kebutuhan yang diharapkan segera tersedia. Bagi warga yang harus menghabiskan malam di pengungsian, kenyamanan tempat beristirahat menjadi faktor penting untuk menjaga kondisi fisik selama masa pemulihan setelah bencana.
Sejak warga mulai mengungsi, bantuan berupa makanan, air minum, dan kebutuhan konsumsi lainnya terus berdatangan ke lokasi. Kondisi tersebut membuat kebutuhan pangan untuk para korban kebakaran saat ini relatif aman. Bahkan, jumlah makanan yang tersedia disebut sudah cukup banyak sehingga warga berharap bantuan berikutnya dapat dialihkan kepada kebutuhan lain yang masih kurang. Penyaluran bantuan secara tepat sasaran menjadi penting agar tidak terjadi penumpukan pada jenis logistik tertentu, sementara kebutuhan lainnya belum terpenuhi. Selain makanan dan air, pakaian juga telah diterima oleh warga. Namun, bantuan umum tersebut belum sepenuhnya menjawab kebutuhan spesifik pengungsi, terutama bayi, balita, lansia, dan perempuan. Karena itu, koordinasi antara pihak yang menyalurkan bantuan dengan pengelola posko menjadi penting agar barang yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan warga di lapangan.
Salah satu kebutuhan yang paling dirasakan warga di pengungsian adalah popok atau pampers untuk bayi dan lansia. Keberadaan bayi dan balita di antara para pengungsi membuat kebutuhan tersebut tidak dapat ditunda karena popok merupakan perlengkapan sehari-hari yang harus tersedia secara rutin. Ketika stok bantuan belum datang, keluarga korban terpaksa membeli sendiri dari warung atau toko di sekitar lokasi pengungsian. Kondisi serupa juga dialami lansia, terutama mereka yang sedang sakit atau memiliki keterbatasan mobilitas. Kebutuhan popok lansia menjadi semakin penting karena sebagian warga lanjut usia membutuhkan bantuan khusus selama berada di pengungsian. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa bantuan untuk korban bencana sebaiknya tidak hanya berupa kebutuhan pokok secara umum, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan berdasarkan usia dan kondisi masing-masing pengungsi.
Selain kebutuhan bayi dan lansia, warga juga masih memerlukan kasur serta alas tidur tambahan. Padatnya kondisi tenda pengungsian membuat ruang untuk beristirahat menjadi terbatas. Sebagian pengungsi bahkan masih menggunakan tandu sebagai tempat tidur sementara. Bagi korban kebakaran yang kehilangan tempat tinggal dan harus tinggal di posko dalam beberapa waktu, fasilitas istirahat yang memadai sangat dibutuhkan agar mereka dapat memulihkan tenaga. Kekurangan kasur juga dapat menjadi persoalan bagi lansia, anak-anak, dan warga yang sedang mengalami kondisi fisik tertentu. Oleh sebab itu, tambahan kasur, matras, selimut, dan perlengkapan tidur lainnya menjadi salah satu prioritas bantuan yang perlu diperhatikan. Warga berharap perlengkapan tersebut dapat segera tersedia sehingga para korban kebakaran bisa menjalani malam di pengungsian dengan kondisi yang lebih layak dan nyaman.
Kebutuhan lain yang tidak kalah penting adalah perlengkapan pribadi bagi pengungsi perempuan. Warga menyebut pembalut, pakaian dalam, dan perlengkapan mandi masih diperlukan di lokasi pengungsian. Barang-barang tersebut sering kali luput dari daftar bantuan umum karena ukurannya kecil dan sifatnya pribadi, padahal sangat dibutuhkan selama berada di tempat pengungsian. Dengan kondisi warga yang harus meninggalkan rumah secara mendadak, banyak barang pribadi yang kemungkinan tidak sempat diselamatkan saat kebakaran terjadi. Karena itu, bantuan berupa perlengkapan kebersihan pribadi perlu menjadi bagian dari dukungan untuk korban. Selain membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, ketersediaan barang tersebut juga dapat menjaga kebersihan dan kenyamanan warga selama berada di pengungsian. Penyaluran bantuan selanjutnya diharapkan dapat lebih memperhatikan kebutuhan bayi, lansia, perempuan, serta perlengkapan tidur agar bantuan yang diterima korban kebakaran di Gambir benar-benar merata dan sesuai dengan kondisi mereka.