Kebakaran di Kampar, Riau Hanguskan 7 Hektare Lahan dan Hutan

17 September 2023 15:20 WIB·72
6505b9726e96e.jpg

KuatBaca.com - Sebuah insiden besar melanda Desa Koto Ranah di Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar, Riau pada Sabtu (16/9/2023). Kebakaran hutan dan lahan (dikenal sebagai Karhutla) membakar sekitar 7 hektare tanah, menyulut keprihatinan lokal dan meningkatkan urgensi pencegahan kebakaran di masa mendatang.

1. Aktivitas Pembukaan Lahan

Ketika berbicara mengenai kejadian tersebut, Sertu Halomoan Lubis, seorang anggota Bintara Pembina Desa (Babinsa) dari Koramil 13/Koto Kampar, menyampaikan kesulitan dalam mengendalikan kobaran api.

"Api bermula pada pukul 13.00 WIB dan warga sekitar memberitahukannya kepada kami. Meski kami, bersama tim BPBD Kampar dan bantuan masyarakat, berupaya keras memadamkannya, namun hingga sore api belum bisa kita kendalikan," tutur Halomoan.

Sejauh ini, sebagian besar lahan yang terbakar merupakan area perkebunan karet. Terdapat juga beberapa bagian yang tampaknya baru saja dibuka oleh masyarakat setempat. Sertu Halomoan Lubis mengungkapkan dugaan sementara mengenai penyebab kebakaran.

"Dugaan awal menunjukkan bahwa api mungkin berasal dari aktivitas pembukaan lahan dengan metode pembakaran," ungkapnya.

Tidak hanya mempengaruhi lahan dan hutan, kebakaran tersebut juga mempengaruhi kualitas udara di sekitarnya. Asap yang dihasilkan sangat tebal, menyulitkan proses pemadaman serta berpotensi mengganggu kesehatan penduduk setempat.

"Kepadatan asap mempersulit kami dalam upaya pemadaman. Ini bukan hanya masalah kebakaran, tetapi juga kualitas udara yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat," tambah Halomoan.

2. Petugas Menggunakan Peralatan Seadanya

Dalam menghadapi kebakaran tersebut, petugas harus beradaptasi dengan peralatan yang ada. Diketahui bahwa sebagian dari mereka hanya menggunakan kayu dalam usaha pemadaman. Situasi ini menyoroti pentingnya sumber daya dan peralatan yang lebih memadai dalam menghadapi kebakaran besar di masa depan.

Menyikapi peristiwa tersebut, Halomoan mengajak masyarakat untuk lebih bijaksana dalam penggunaan lahan.

"Kami menghimbau masyarakat untuk berpikir dua kali sebelum membuka atau membersihkan lahan dengan metode pembakaran. Ini adalah cara yang berisiko dan dapat menyebabkan bencana bagi komunitas dan lingkungan sekitarnya," pesannya.

Kebakaran seperti ini menjadi peringatan bagi semua pihak tentang betapa pentingnya pencegahan dan persiapan yang tepat dalam menghadapi musim kering dan potensi kebakaran lahan. Masyarakat, pemerintah, dan berbagai instansi terkait harus bekerja sama untuk memastikan keamanan dan keberlanjutan lingkungan di Indonesia.(*)

Fenomena Terkini






Trending