Kasus Keracunan MBG di Lombok Timur Melonjak, Siswa dan Ibu Hamil Jadi Korban

Kuatbaca.com - Kasus dugaan keracunan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), menjadi perhatian serius. Jumlah korban yang awalnya tercatat 21 orang meningkat tajam menjadi 29 orang hanya dalam beberapa jam. Peristiwa ini terjadi setelah para siswa menyantap makanan yang dibagikan di lingkungan sekolah, memicu kekhawatiran masyarakat terkait kualitas makanan dalam program tersebut.
1. Gejala Muncul Tak Lama Setelah Menyantap Makanan
Para siswa yang menjadi korban berasal dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) Yadinu Banok di Desa Jurit, Kecamatan Pringgasela. Mereka mengalami gejala seperti mual, muntah, dan sakit perut dalam waktu singkat setelah mengonsumsi makanan. Kondisi tersebut membuat suasana sekolah berubah panik karena banyak siswa tiba-tiba jatuh sakit secara bersamaan.
Salah satu siswa, Baiq Namira Fitri, mengungkapkan pengalaman yang dialaminya: "Sekitar pukul sembilan pagi kami menerima MBG, setelah 15 menit mulai terasa mual dan sakit perut."
Ia juga menjelaskan menu yang dikonsumsi saat itu: "Mi bihun dicampur pakai sayuran juga, sudah agak berubah rasanya."
2. Menu Makanan Diduga Jadi Pemicu
Menu yang dibagikan dalam program MBG saat kejadian meliputi bihun dengan campuran sayur, telur goreng, susu, dan pisang. Beberapa siswa mengaku merasakan perubahan rasa pada makanan yang dikonsumsi, sehingga memunculkan dugaan bahwa kualitas makanan menjadi faktor utama dalam insiden ini.
3. Penanganan Awal dan Evakuasi Darurat
Pihak sekolah sempat memberikan pertolongan pertama kepada para siswa dengan memberikan air kelapa muda. Namun, kondisi para siswa tidak menunjukkan perbaikan yang signifikan. Akhirnya, pihak sekolah memutuskan untuk segera membawa para korban ke fasilitas kesehatan terdekat.
Kepala sekolah, Lalu Imran, menjelaskan langkah yang diambil: "Sempat kami memberikan kelapa muda ke siswa kami, tetapi tidak juga berubah kondisinya makanya kami memutuskan untuk dibawa ke Puskesmas saja."
Keterbatasan jumlah ambulans membuat proses evakuasi dilakukan secara darurat menggunakan sepeda motor.
"Karena nggak muat di ambulans kami pakai motor, kami kasih tahu juga para orang tua siswa," tambahnya.
4. Orang Tua Murid Sampaikan Kekecewaan
Seiring bertambahnya jumlah korban, para orang tua siswa mulai berdatangan ke Puskesmas Pengadangan. Mereka mengungkapkan kekhawatiran sekaligus kekecewaan terhadap insiden yang menimpa anak-anak mereka.
Salah satu wali murid, Maesun, menyampaikan reaksinya: "Anak saya tiba-tiba saja muntah, kami kecewa pada MBG ini, tiba-tiba saja anak saya muntah."
Ia juga menuntut adanya tanggung jawab dari pihak terkait: "Kami minta pertanggungjawaban MBG ini, jangan gara-gara kami miskin terus semaunya memberikan kami menu yang seperti ini, kami harapkan ke depannya lebih baik lagi."
5. Korban Bertambah Hingga Sore Hari
Hingga sore hari, jumlah korban terus meningkat hingga mencapai 29 orang. Dari jumlah tersebut, beberapa korban masih membutuhkan perawatan intensif, termasuk satu ibu hamil yang turut terdampak dalam kejadian ini.
Kepala Puskesmas Pengadangan, Suhamdi, menjelaskan kondisi terbaru: "Semula 22 orang, tapi hingga pukul 15.00 Wita, jumlah pasien bertambah menjadi 29 orang. Enam orang siswa sekolah dan 1 orang ibu hamil."
Ia juga memastikan kondisi ibu hamil tersebut dalam pengawasan medis: "Untuk ibu hamil sudah ditangani oleh dokter, Insyaallah aman bayinya."
6. Penyebab Masih Menunggu Hasil Laboratorium
Hingga saat ini, penyebab pasti kejadian tersebut belum dapat dipastikan. Pihak Puskesmas masih menunggu hasil uji laboratorium untuk mengetahui apakah benar keracunan disebabkan oleh makanan yang dikonsumsi.
Suhamdi menyampaikan: "Kalau dari indikasinya memang mengarah ke keracunan, tapi kita belum dapat pastikan penyebabnya, tunggu hasil lab dulu."
7. Sampel Makanan Dikirim untuk Pengujian
Kasus ini telah dilaporkan kepada pihak terkait, termasuk Satuan Tugas MBG di tingkat provinsi dan nasional. Sampel makanan yang diduga menjadi penyebab juga telah dikirim untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak berwenang.
Ketua Satgas MBG NTB, Fathul Gani, menjelaskan langkah yang telah diambil: "Laporannya sudah kami terima dan sudah kami teruskan ke BGN terkait kronologi lengkap kejadian dan penanganan lebih lanjut."
Sementara itu, Ketua Satgas MBG Lombok Timur, Ahyan, menambahkan: "Sampel makanan sudah dikirim ke BPOM."