Banyak Berguguran, Apa yang Salah dari Bisnis Raffi & Kaesang?

18 September 2023 14:44 WIB·17
raffi-ahmad_169.jpeg

Kuatbaca.com-Belakangan ini, bisnis Raffi Ahmad dan Kaesang Pangarep menjadi sorotan publik karena banyak yang tutup secara permanen. Setidaknya ada 4 bisnis kuliner Kaesang dan 7 bisnis Raffi Ahmad yang gulung tikar.

Kegagalan keduanya menjadi bukti bahwa popularitas tidak menjamin kesuksesan dalam berbisnis. Dalam menjalankan bisnis pasti ada pasang surutnya. Tidak hanya modal, dibutuhkan juga strategi yang matang agar bisnis tetap bertahan dan terus berkembang.

1. Fomo

Pakar Marketing dan Managing Partner Inventure Yuswohady menilai sebagian besar bisnis artis hanya fomo atau mengikuti tren saja. Menurutnya, banyak artis yang mengikuti tren bisnis sebagai tempelan dan menaikkan popularitasnya.

"Artis ini kebanyakan bisnisnya yang hype seperti yang lagi hype resto apa atau makanan apa. Dulu grepek, sekarang geprek udah nggak begitu populer, ambil yang lain lagi. Nyari terus dari satu bisnis ke bisnis berikutnya. Dari satu hype ke hype berikutnya. Akhirnya, enggak akan pernah sustain," ujarnya, Minggu (17/9/2023).

Yuswohady mengatakan tidak semua artis mempunyai sifat businessman. Dalam berbisnis juga dibutuhkan kemampuan mengelola bisnis tersebut.

"Dia harus punya skill atau kompetensi. Misal punya bisnis resto mulai dari supply chain, pembelian barang, bagaimana menyusun, menu bagaimana marketing, bagaimana treat karyawan biar enggak keluar-keluar ada ilmu, butuh skill," katanya.

Selain kompetensi, Yuswohady menilai kualitas seorang pengusaha kualitas seorang pengusaha dilihat dari ketekunan berbisnis dalam jangka waktu yang panjang dan tidak menyerah saat bisnis dalam di ujung ambang kebangkrutan.

"Kedua, ketekunan. Kadang-kadang dia belum punya skill, tapi dia tekuni terus akhirnya skill terakuisisi gitu. Bisnis itu kuncinya ketekunan. Kualitas seorang entrepreneur itu ketekunan dalam waktu yang panjang, bukan cuma tiga bulan, enam bulan, setahun. Skill-nya jago pun kalau nggak istiqomah, nggak kerja keras, enggak tekun dalam jangka panjang, maka bisnis juga akan luruh, akan menguap," jelasnya.

2. Kualitas dan Keunikan

Menurut Yuswohady, popularitas artis memang menjadi faktor pendukung dalam menjalankan sebuah bisnis. Namun, ada beberapa faktor jauh yang lebih penting agar konsumen tertarik, yakni kualitas produk, inovasi produk, dan kepuasaan konsumen.

"Jadi, sebenarnya pengaruh dari artis yang brand-nya kuat bukan faktor yang terpenting. Yang terpenting adalah product quality, product innovation, di layanannya. Beli bukan karena melulu artisnya apalagi artisnya udah lalu. Jadi kuncinya tetap di produk," tuturnya.

Hal ini juga disetujui oleh Pakar Pemasaran sekaligus Founder and Chairman MCorp Hermawan Kartajaya. Menurutnya banyak orang mengira dengan branding berasal dari tokoh terkenal atau pengikut banyak di sosial media membuat bisnis berjalan dengan kuat. Yang paling penting dalam bisnis adalah bagaimana membuat keunikan atau diferensiasi yang kuat dari pesaing lainnya.

"Diferensiasi itu artinya pembeda, unik. Nggak usah jadi yang terbaik, nggak usah jadi yang bagus dari kompetitor, yang penting kamu punya keunikan. Makanya, itu keunikannya apa, bukan cuma murah, bukan cuma terkenal," katanya.

Dia menambahkan diferensiasi bisa dengan dua cara. Pertama, diferensiasi konteks berupa cara yang bisa membuat konsumen semakin tertarik, misalnya tampilan kemasan atau dekorasi restoran. Kedua, diferensiasi konten berupa produk atau jasa apa yang bisa ditawarkan kepada konsumen, seperti menu yang berbeda.

"Diferensiasi bisa konten bisa konteks. Kalau konteks kan oh ini punyanya Raffi Ahmad punyanya Kaesang, konten kan itu betul-betul makanan ini bedanya dimana. Kalau cuma populer tok nggak bisa, tapi beberapa bisnisnya Kaesang dan Raffi Ahmad memang berhasil. Ada diferensiasi misal ada Beach Club di Padang, itu punya Raffi Ahmad. Saya pernah pergi, kan itu unik," imbuhnya.(*)

Fenomena Terkini






Trending