Orangtua Pelajar yang Tewas Saat Ujian Silat Terima Permintaan Maaf Perguruan, Proses Hukum Tetap Berjalan

Oleh Kuatbaca - 23 September 2022 11:26

SURABAYA - Orangtua, pelajar di Sidoarjo yang tewas saat ujian kenaikan tingkat (UKT) silat, Dedik Hainul Akbar (47), mengaku telah didatangi pihak perguruan silat saat tahlilan hari kedua meninggalnya Arif Rifki Al-Masih (17).


Kedatangan perwakilan perguruan silat itu, kata Dedik, untuk menyampaikan belasungkawa dan permohonan maaf atas insiden itu.


"Saya sudah bilang bilang ke mereka, bahwa permohonan maaf dan ucapan belasungkawa saya maafkan, perkara ini biarkan berjalan sesuai aturan hukum yang berlaku," kata Dedik saat berbincang di kediamannya, Dusun Jenggolo, Kelurahan Pucang, Sidoarjo, Kamis (22/9/2022).


Dedik mengatakan, keluarga tak bisa mengintervensi penyidik Polri yang sedang bekerja mengungkap kasus itu. Keluarga pun telah menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus itu kepada polisi.


"Semoga ini lekas selesai agar semuanya bisa tenang. Saya tenang karena sudah ada kepastian hukum, mereka bisa tinggal menjalani hukumannya," kata Dedik.


Dedik mengaku sengaja membawa perkara ini ke ranah hukum untuk memberikan efek jera kepada oknum perguruan silat itu. Ia berharap hal ini jadi pelajaran agar tak ada tindakan berlebihan saat latihan atau ujian silat.


"Biarkan saja ini biar jadi efek jera ke mereka, jangan sampai ada korban seperti ini lagi, kasihan toh mereka peserta hanya anak-anak, kalau ada yang melanggar jangan sampai ada kekerasan fisik, toh kalau pun ada jangan area vital yang dipukul, lagi pula ini bukan perang," jelas Dedik.


Dedik kecewa karena perguruan silat yang menjadi penyelenggara UKT terkesan menutupi kejadian sebenarnya. Bahkan, salah satu perwakilan perguruan silat yang menyampaikan kabar ke rumah Dedik, menyebut Arif pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Nyatanya, Dedik mendapati Arif dalam kondisi koma di RS.


"Kok bisa anak saya cuma berlari pingsan sampai semaput, pas saya nyampek di rumah sakit kaget anak saya sudah dipenuhi selang dari mulut dan dadanya, ini jelas enggak beres, anakku ini koma," papar dia.


Karena merasa tak puas, Dedik kembali bertanya kepada pelatih tersebut dengan nada kecewa.


"Iki temenan tah, soale lek koyok ngene gak mungkin karena lari (Ini beneran ya, soalnya anakku ini koma, gak mungkin kalau hanya lari)," kata Dedik mengulangi percakapannya.

 

Dedik menyebut, pelatih yang diutus ke rumahnya merupakan penanggung jawab perguruan silat di wilayah kuat. Kecurigaan Dedik menguat setelah menginterogasi khusus pelatih tersebut. Akhirnya, pelatih itu mengaku mendapat informasi dari orang lain.


"Wong dia enggak ada di lokasi kejadian, kok bisa kamu berani ngomong kayak gini, dia jawab aku katanya si A, si B dan si C," kata dia.


Paman korban, juga sempat mengancam melaporkan perwakilan perguruan silat itu kepada polisi. Namun, pelatih itu mengaku hanya mendapat informasi dari orang lain.


"Kamu kalau enggak tahu kejadian jangan begitu, Itu anak saya koma, kalau cuma lari dan pingsan enggak akan kayak itu," kata Dedik.


Paman korban, Yusak (32), melihat keponakannya penuh memar di bagian wajah.


"Saya lihat sendiri waktu di RS, kalau orang meninggal itu biasa ya, ini enggak wajar wajah ponakan saya biru. Kayaknya juga ulu hatinya yang dipukul, padahal itu daerah rawan kok bisa pukul bagian itu," kata Yusak kepada Kompas.com.


Yusak juga kesal dengan penjelasan perwakilan perguruan silat yang memberi kabar ke kediaman keponakannya. Pria yang membawa kabar itu membawa nama instansi dinas yang fokus di bagian kepemudaan di Pemkab Sidoarjo.


"Saya enggak sukanya dia nyebut nama dinas, ini urusan nyawa keponakan saya," ujar dia.


Yusak menanggapi positif tindakan polisi mengumumkan empat tersangka dalam kasus dugaan penganiayaan tersebut. Ia akan fokus mengawal perkara itu hingga pelaku mendapat hukuman setimpal.


"Kita akan kawal nanti di persidangan, jangan sampai ada yang berani menurunkan tuntutan dari pasal yang disangkakan kepolisian, kalau pun 15 tahun penjara itu masih bisa kembali lagi dengan keluarga, sedangkan kita nyawa Arif hilang dan tak mungkin kembali. Jadi 15 tahun ini sudah cukup kalau bisa jangan dikurangi lagi," jelas dia.




Sumber: https://surabaya.kompas.com/read/2022/09/23/083759978/orangtua-pelajar-yang-tewas-saat-ujian-silat-terima-permintaan-maaf?page=all


Tag :

sidoarjokorban tewasperguruan silat