
Kuatbaca.com - Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) terus mempercepat pengembangan jaringan telekomunikasi generasi kelima atau 5G di Indonesia. Setelah beberapa tahun diperkenalkan secara terbatas, layanan 5G yang lebih optimal dan berkapasitas tinggi ditargetkan mulai bisa dirasakan masyarakat sebelum peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia pada Agustus 2026.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat transformasi digital nasional sekaligus meningkatkan kualitas layanan internet seluler di berbagai daerah. Saat ini proses seleksi spektrum frekuensi yang akan digunakan untuk memperluas jaringan 5G masih berlangsung dan memasuki tahap penting.
Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Kementerian Komdigi, Denny Setiawan, mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyelesaikan proses seleksi frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang akan menjadi fondasi pengembangan jaringan 5G nasional.
"Tadi ditanya kapan 5G akan dirilis, saat ini kita sedang dalam proses seleksi spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz. Mudah-mudahan sebelum Hari Kemerdekaan Indonesia sudah bisa dirilis," ujar Denny di Jakarta, Senin (8/6/2026).
1. Frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz Jadi Kunci Percepatan Jaringan 5G
Pengembangan layanan 5G di Indonesia tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada ketersediaan spektrum frekuensi yang memadai. Oleh karena itu, pemerintah membuka lelang dua pita frekuensi strategis, yaitu 700 MHz dan 2,6 GHz.
Frekuensi 700 MHz dikenal memiliki karakteristik cakupan sinyal yang luas. Spektrum ini memungkinkan operator menghadirkan jaringan internet yang lebih stabil di berbagai wilayah, termasuk daerah dengan kondisi geografis yang menantang. Selain itu, kemampuan penetrasi sinyal ke dalam gedung juga lebih baik dibandingkan frekuensi yang lebih tinggi.
Dalam proses lelang tersebut, Komdigi membuka pemanfaatan pita frekuensi 703-738 MHz untuk uplink dan 758-793 MHz untuk downlink dengan total lebar pita mencapai 70 MHz.
Sementara itu, frekuensi 2,6 GHz menawarkan kapasitas yang jauh lebih besar untuk mengakomodasi kebutuhan trafik data yang terus meningkat. Spektrum ini sangat cocok diterapkan di kawasan perkotaan yang memiliki kepadatan pengguna internet tinggi seperti pusat bisnis, kawasan industri, kampus, hingga pusat perbelanjaan.
Dengan total lebar pita mencapai 190 MHz, frekuensi ini diproyeksikan mampu menghadirkan pengalaman internet yang lebih cepat dan responsif bagi pengguna.
2. Operator Seluler Berebut Spektrum Strategis
Sejumlah operator telekomunikasi besar di Indonesia saat ini tengah bersaing untuk mendapatkan hak penggunaan spektrum tersebut. Persaingan ini menunjukkan tingginya kebutuhan industri telekomunikasi terhadap frekuensi baru guna meningkatkan kualitas layanan.
Tiga operator besar yang mengikuti proses seleksi adalah Indosat Ooredoo Hutchison, Telkomsel, dan XLSmart. Ketiganya melihat frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz sebagai aset penting untuk mendukung ekspansi jaringan 4G maupun 5G di masa depan.
Ketersediaan spektrum tambahan dinilai akan membantu operator meningkatkan kecepatan internet, memperluas jangkauan layanan, serta mengurangi kepadatan trafik yang selama ini menjadi tantangan di sejumlah wilayah.
3. Mengapa 5G Indonesia Dinilai Masih Seperti 4G?
Meski layanan 5G telah diperkenalkan sejak Mei 2021, banyak pengguna yang merasa pengalaman internet yang diperoleh belum jauh berbeda dengan jaringan 4G. Salah satu penyebab utamanya adalah keterbatasan spektrum yang dimiliki operator seluler.
Kondisi tersebut membuat operator belum dapat mengoptimalkan seluruh potensi teknologi 5G. Akibatnya, peningkatan kecepatan dan latensi rendah yang menjadi keunggulan utama 5G belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat luas.
Denny Setiawan menegaskan bahwa kehadiran spektrum baru akan menghadirkan pengalaman yang jauh berbeda dibandingkan layanan yang ada saat ini.
"Dan, nanti 5G-nya, 5G benaran, bukan 5G rasa 4G," ungkap Denny.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintah ingin memastikan implementasi 5G berikutnya benar-benar mampu menghadirkan performa sesuai standar teknologi generasi kelima.
4. XLSmart Siap Jadi Pelopor Pengembangan 5G Nasional
Di sisi industri, komitmen pemerintah mendapatkan respons positif dari operator telekomunikasi. Salah satunya datang dari XLSmart yang melihat 5G sebagai teknologi penting untuk meningkatkan daya saing perusahaan sekaligus memperluas manfaat digital bagi masyarakat.
Group Head Regulatory Diplomacy & Advocacy XLSmart, Alvin Iskandar Aslam, menyebut kehadiran 5G akan menjadi salah satu faktor pembeda dalam strategi pengembangan layanan perusahaan ke depan.
"Dari XLSmart, 5G menjadi satu pembeda bagi XLSmart untuk melayani masyarakat Indonesia ke depannya. Ketika kita bicara 5G, kita tidak lagi memikirkan penggunaan kapasitas atau infrastruktur jaringan yang biasa saja. Memang akan banyak pengembangan yang kita lakukan di jaringan XLSmart," tuturnya.
Menurut Alvin, pengembangan jaringan 5G tidak bisa ditunda karena teknologi ini berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi digital nasional secara lebih cepat.
"Kami di XLSmart memposisikan diri kalau bisa kami menjadi pionir. Makin cepat kami bisa roll out jaringan 5G kami, artinya makin cepat pula kami bisa membawa manfaat ke depan negeri ini. Kalau sebelumnya cuma satu titik, kami saat ini benar-benar lihat kota mana yang layak area 5G berkembang," ungkap Alvin.