
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menetapkan pengembangan teknologi semikonduktor sebagai salah satu fokus utama riset nasional dalam beberapa dekade mendatang. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan chip dari luar negeri sekaligus memperkuat daya saing industri nasional. Semikonduktor merupakan komponen penting dalam berbagai perangkat elektronik, mulai dari telepon pintar, komputer, kendaraan listrik, hingga peralatan pertahanan. Dengan memperkuat kemampuan riset dan pengembangan di bidang ini, Indonesia diharapkan mampu membangun ekosistem industri teknologi yang lebih mandiri, meningkatkan nilai tambah sektor manufaktur, serta memperkuat posisi negara dalam rantai pasok teknologi global.
Selain semikonduktor, BRIN juga menempatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai salah satu teknologi strategis yang akan dikembangkan secara intensif. Pemanfaatan AI dinilai mampu meningkatkan produktivitas di berbagai sektor, mulai dari industri, kesehatan, pendidikan, hingga layanan publik. Di sisi lain, BRIN juga memprioritaskan pengembangan teknologi genomik guna mendukung terciptanya benih unggul, obat-obatan, dan bioindustri berbasis sumber daya hayati Indonesia. Tidak berhenti di situ, teknologi kuantum juga menjadi fokus riset untuk mendukung keamanan data serta pengembangan komputasi masa depan. Kombinasi berbagai teknologi tersebut diharapkan mampu mempercepat transformasi Indonesia menuju negara yang berbasis inovasi dan ilmu pengetahuan.
BRIN juga terus mengembangkan riset di bidang teknologi nuklir dan antariksa sebagai bagian dari strategi memperkuat kedaulatan nasional. Pengembangan teknologi nuklir diarahkan untuk mendukung kebutuhan energi bersih, layanan kesehatan, pengembangan pertanian, hingga industri. Sementara itu, teknologi antariksa memiliki peran penting dalam pengawasan wilayah, komunikasi, mitigasi bencana, serta pemantauan sumber daya alam. Dengan penguasaan teknologi strategis tersebut, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi yang dikembangkan negara lain, tetapi mampu menciptakan inovasi sendiri yang memberikan manfaat luas bagi pembangunan nasional dan meningkatkan daya saing di tingkat internasional.
Dalam pertemuan bersama ratusan peneliti BRIN di Istana Negara, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang menguasai sains dan teknologi. Menurut Presiden, Indonesia membutuhkan semakin banyak talenta unggul yang mampu menghasilkan inovasi untuk menjawab berbagai tantangan masa depan. Oleh karena itu, pemerintah berkomitmen mendorong lahirnya generasi peneliti, ilmuwan, dan inovator melalui penguatan pendidikan, riset, serta dukungan terhadap pengembangan teknologi nasional. Investasi pada sumber daya manusia dinilai menjadi fondasi utama agar Indonesia mampu bersaing di tengah pesatnya perkembangan teknologi global.
Pemerintah memandang penguasaan teknologi sebagai faktor penentu dalam mewujudkan Indonesia sebagai negara maju. Kemampuan menciptakan inovasi sendiri akan mengurangi ketergantungan terhadap teknologi asing sekaligus membuka peluang lahirnya industri bernilai tambah tinggi. Untuk mencapai tujuan tersebut, pendidikan berkualitas, ekosistem riset yang kuat, serta kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan dunia industri menjadi elemen yang saling melengkapi. Dengan strategi yang terarah, pengembangan semikonduktor, AI, genomik, teknologi kuantum, nuklir, dan antariksa diharapkan menjadi motor penggerak transformasi ekonomi nasional serta memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan teknologi di kawasan pada masa mendatang.