Tragedi Banjir Bandang di Libya: Kisah Kesedihan, Kehilangan, dan Solidaritas

19 September 2023 02:20 WIB·16
banjir-bandang-libia-mayat-mayat-yang-tak-dikenali-setelah-bencana-melanda.jpeg

Kuatbaca - Dalam suasana duka di kota Derna, Libya selatan, seorang dokter dengan masker pelindung tekun memeriksa kantung mayat yang baru saja dibawa. Dengan teliti, ia mencoba mengidentifikasi jasad yang mulai membusuk akibat rendaman air. Proses ini telah menjadi bagian paling menyentuh dan krusial pasca bencana yang menimpa.

Setelah bencana banjir bandang melanda Libya, banyak korban yang belum dikenali keluarganya, dan beberapa jasad ditemukan terdampar di pantai. Para dokter bekerja keras, mengidentifikasi ciri-ciri khas korban dan mengambil sampel DNA, berharap dapat memberikan kepastian kepada keluarga yang sedang mencari anggota keluarganya.

1. Mengalami Kerusakan Parah

Kota Derna telah mengalami kerusakan parah. Pemerintah Libya menyebut lebih dari seperempat dari bangunannya rusak atau hancur total akibat banjir. Menurut data dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan, lebih dari 10.000 jiwa dinyatakan hilang, dengan angka kematian mencapai 11.300. Meskipun angka pastinya belum diketahui, tidak ada keraguan tentang skala kerusakan yang disebabkan oleh tragedi ini.

Salah satu warga, Muhammad Miftah, merasa yakin bahwa beberapa anggota keluarganya termasuk dalam korban. Ketika banjir datang, rumah adik perempuannya serta suaminya lenyap terseret arus. Dia hanya bisa merekam momen-momen ketika air mulai membanjiri rumah dan menerjang mobil, membawanya hanyut.

Namun, di tengah kepedihan dan kerusakan, solidaritas dan rasa kemanusiaan tetap menyala. Dengan bantuan internasional yang mulai tiba, berbagai negara seperti Prancis, Italia, Kuwait, dan Arab Saudi telah mengirimkan bantuan dalam bentuk suplai dan tenaga. Namun, tantangan koordinasi antara pemerintahan di Tripoli yang diakui internasional dengan pemerintah di Libya timur tetap menjadi hambatan.

Abdullah Bathily, Kepala Misi Dukungan Internasional PBB di Libya, menggarisbawahi pentingnya transparansi dalam pengelolaan bantuan. Dengan koordinasi yang tepat, bantuan tersebut dapat lebih efektif dalam menjangkau mereka yang membutuhkan.

Di tengah reruntuhan kota Derna, ada kilau harapan dan solidaritas. Seorang pria ditemukan memberikan syal kepada seorang wanita tua yang mungkin kehilangan rumahnya. Adegan sederhana namun mengharukan ini mengingatkan kita bahwa dalam setiap krisis, ada juga cerita tentang kebaikan dan kemanusiaan.

Di saat seperti ini, rakyat Libya membuktikan bahwa mereka dapat bersatu, saling membantu, dan bangkit kembali. Mereka berjuang bersama untuk menghadapi masa-masa sulit, dan kita semua berdoa agar pemulihan dan penyelesaian situasi dapat segera terwujud.

sosial budaya

Fenomena Terkini






Trending