Ketua RT di Duren Sawit Sulap Selokan Jadi Kolam Lele karena Lahan Terbatas

Kuatbaca - Di tengah padatnya permukiman di kawasan Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur, seorang ketua RT memiliki cara unik mengatasi keterbatasan lahan. Taufiq Supriadi, Ketua RT 08 RW 04, berinisiatif membangun kolam lele di atas selokan yang membentang di depan rumah warga. Ide itu muncul dari keinginannya untuk memberdayakan lingkungan sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru bagi warganya.
Kondisi wilayah yang telah tertutup beton membuat ruang hijau hampir tidak ada lagi. Taufiq menilai, daripada membiarkan saluran air hanya berfungsi sebagai pembuangan, lebih baik dimanfaatkan secara produktif. Dari situlah muncul gagasan untuk memadukan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi—sebuah konsep yang ia sebut sebagai “3P”: profit, people, dan planet.
Gotong Royong Warga Jadi Kunci
Sebelum proyek dimulai, Taufiq menggelar musyawarah bersama warga. Ide itu ternyata disambut antusias oleh sebagian besar masyarakat. Mereka sepakat untuk mengubah sebagian selokan menjadi kolam ikan tanpa mengganggu aliran air. Meski ada sebagian kecil warga yang menolak karena khawatir mengganggu kebersihan, mayoritas mendukung rencana tersebut dengan semangat gotong royong.
Pembangunan kolam dilakukan di atas saluran air sepanjang 14 meter, menggunakan beton berbentuk U-Ditch. Bagian bawah saluran tetap berfungsi untuk mengalirkan air kotor, sedangkan bagian atas disulap menjadi kolam ikan dengan kedalaman sekitar 25 sentimeter. Sementara bagian bawah setinggi 35 sentimeter tetap dibiarkan terbuka agar sistem drainase berjalan normal.
Terinspirasi dari Jepang dan IPB
Gagasan ini bukan tanpa referensi. Taufiq terinspirasi saat melihat sistem saluran air di Tokyo, Jepang, di mana ikan dapat hidup berdampingan dengan aliran air yang bersih dan teratur. Ia juga mencontoh inovasi serupa yang diterapkan di Institut Pertanian Bogor (IPB), tempat di mana mahasiswa dan peneliti memanfaatkan selokan untuk budidaya ikan tanpa mencemari lingkungan.
Dengan menggabungkan kedua konsep itu, Taufiq berharap lingkungannya bisa menjadi contoh bagi wilayah perkotaan lain yang menghadapi persoalan serupa—minim lahan tapi ingin tetap produktif dan berdaya.
Modal dari CSR dan Keuntungan untuk Warga
Untuk membangun kolam lele ini, Taufiq memperoleh dukungan dana sekitar Rp 20 juta dari program corporate social responsibility (CSR) sebuah perusahaan. Dana tersebut digunakan untuk konstruksi beton, pembelian bibit, dan pakan ikan yang menelan biaya sekitar Rp 6 juta.
Dalam satu periode budidaya, kolam sepanjang 14 meter itu diperkirakan mampu menghasilkan hingga 800 kilogram lele. Jika dijual dengan harga pasaran sekitar Rp 25 ribu per kilogram, hasil panen bisa mencapai Rp 20 juta. Sebagian keuntungan digunakan untuk perawatan kolam, sementara sisanya dibagikan untuk kegiatan lingkungan dan kesejahteraan warga.
Selain menambah pemasukan warga, kehadiran kolam lele ini ternyata membawa manfaat lain: mengurangi genangan air. Air dari selokan tetap mengalir lancar di bagian bawah, sementara bagian atas yang menjadi kolam membantu menahan sampah agar tidak menyumbat saluran. Taufiq mengaku, sejak kolam itu dibangun, wilayahnya tidak pernah mengalami banjir meski curah hujan tinggi.
Inovasi sederhana ini menjadi bukti bahwa keterbatasan tidak selalu menjadi hambatan. Dengan kreativitas dan kemauan untuk berkolaborasi, Taufiq berhasil menjadikan selokan sempit di tengah permukiman padat sebagai sumber ekonomi dan inspirasi lingkungan.
Bagi warga Malaka Jaya, kolam lele ini bukan sekadar tempat budidaya ikan, melainkan simbol semangat gotong royong dan kecerdikan warga kota dalam menghadapi keterbatasan ruang hidup.