Pengawalan Polisi: Mengutamakan Kenyamanan Masyarakat dalam Tugas

Kuatbaca.com - Dalam menjalankan tugasnya, polisi tidak hanya bertanggung jawab terhadap keamanan pejabat VVIP dan VIP, tetapi juga kepada masyarakat yang dilalui. Brigjen Pol Raden Slamet Santoso, Dirgakkum Korlantas Polri, menekankan pentingnya pengawalan yang tidak hanya efektif tetapi juga sensitif terhadap kebutuhan masyarakat. Hal ini mencerminkan komitmen kepolisian untuk menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan.
Etika Pengawalan yang Harus Diterapkan
Pengawalan untuk pejabat penting memerlukan pendekatan yang lebih hati-hati. Salah satu fokus utama adalah bagaimana pengawalan tersebut tidak menimbulkan ketidaknyamanan bagi masyarakat yang dilewati. Raden Slamet mengimbau kepada seluruh personel untuk melaksanakan tugas pengawalan dengan memperhatikan pedoman Tribrata dan Catur Prasetya, yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dan pelayanan publik.
Kepolisian harus berupaya agar proses pengawalan tidak menjadi gangguan. "Kami ingin masyarakat merasa aman dan nyaman saat melewati rombongan yang dikawal. Tugas kami adalah melindungi semua pihak tanpa menimbulkan rasa terganggu," jelas Slamet.
Respons Terhadap Keluhan Masyarakat
Pernyataan ini juga mencerminkan respon terhadap banyaknya keluhan yang muncul dari masyarakat mengenai pengawalan yang dilakukan oleh pihak kepolisian. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebelumnya juga menyampaikan pentingnya kepolisian untuk memiliki kepekaan sosial dalam menjalankan tugasnya, terutama saat situasi lalu lintas padat.
Kepolisian diharapkan untuk lebih sensitif dan responsif terhadap kondisi jalan, terutama saat permintaan untuk memberikan jalan di saat kemacetan. Hal ini penting agar tidak terjadi friksi antara aparat dan masyarakat yang bisa menimbulkan ketidakpuasan.
Suara Sirene yang Perlu Diperhatikan
Salah satu sorotan lainnya adalah penggunaan sirene yang terlalu nyaring dan mengganggu. Jenderal Sigit menyarankan agar suara sirene dari kendaraan pengawalan diubah menjadi lebih ramah bagi masyarakat. Suara sirene yang lebih lembut diharapkan dapat menyampaikan pesan bahwa ada kegiatan pengawalan, tanpa mengganggu kenyamanan publik.
“Suara sirene seharusnya tidak hanya berfungsi untuk memperingatkan, tetapi juga harus bisa diterima dengan baik oleh masyarakat. Dengan mengubah suaranya menjadi lebih pas, diharapkan bisa meminimalisir rasa terganggu dari masyarakat yang mendengarnya,” ungkap Sigit.
Pentingnya Pelatihan untuk Anggota Polisi
Pengawalan yang efektif tidak hanya memerlukan pengetahuan teknis, tetapi juga keterampilan interpersonal. Sigit menekankan bahwa anggota polisi perlu dilatih untuk meningkatkan “sense of crisis” mereka. Pelatihan ini bertujuan agar polisi dapat merespons situasi dengan cepat dan efisien, sambil tetap memperhatikan dampak terhadap masyarakat.
“Sikap yang baik dan kesadaran sosial harus dilatih. Ini penting agar pengawalan yang dilakukan tidak menimbulkan kecemburuan atau ketidakpuasan di masyarakat,” tuturnya.
Mematuhi Peraturan Lalu Lintas
Selain etika pengawalan, Sigit juga menegaskan pentingnya mematuhi peraturan lalu lintas selama proses pengawalan. Dengan mengikuti aturan yang ada, polisi dapat memberikan contoh yang baik bagi masyarakat. Ini juga diharapkan dapat mengurangi konflik antara polisi dan masyarakat.
“Masyarakat berhak mendapatkan pelayanan yang baik dari kami. Oleh karena itu, kami akan mengajarkan kepada semua anggota kami untuk selalu tertib dan tidak menimbulkan masalah yang dapat merugikan masyarakat,” pungkasnya. (*)