
Yayasan Harapan Ibu Pondok Pinang (YHI-PP) memiliki sejarah panjang dalam dunia pendidikan di Jakarta Selatan. Yayasan yang awalnya bernama Yayasan Harapan Ibu (YHI) tersebut didirikan pada 7 Juni 1979 dengan semangat memperluas akses sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan bagi generasi muda. Selama hampir lima dekade, yayasan ini menaungi sejumlah jenjang pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, hingga sekolah menengah atas Islam. Dalam perjalanannya, Sekolah Harapan Ibu pernah berkembang cukup pesat dan menampung ribuan peserta didik. Namun, perjalanan panjang tersebut kini menghadapi persoalan serius setelah muncul polemik pengelolaan yayasan serta penemuan 995 senjata di salah satu bagian lingkungan sekolah. Kondisi tersebut membuat perhatian publik tertuju pada bagaimana pengelolaan lembaga pendidikan tersebut selama beberapa tahun terakhir.
Sejarah berdirinya Yayasan Harapan Ibu bermula dari kegiatan keagamaan yang dilakukan sejumlah tokoh pada akhir dekade 1970-an. Salah satu pendiri awal, Yan Sofyan Syafe’i, menceritakan bahwa gagasan membangun sekolah muncul setelah dirinya bersama beberapa tokoh berguru kepada KH Mawardi Labay el-Sulthani. Dari pertemuan dan kegiatan pengajian tersebut lahir gagasan untuk mendirikan lembaga pendidikan yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan umum, tetapi juga membangun karakter serta nilai keagamaan. Para penggagas kemudian berkomunikasi dengan Adam Malik yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia. Mereka mendapatkan arahan untuk memanfaatkan lahan milik Adam Malik di kawasan Pondok Pinang, Kebayoran, Jakarta Selatan. Dari lokasi tersebut, lembaga pendidikan kemudian berkembang dan menjadi bagian dari perjalanan pendidikan masyarakat di wilayah Jakarta Selatan.
Sejak awal, Yayasan Harapan Ibu tidak hanya diarahkan sebagai tempat memperoleh pendidikan formal. Para pendirinya memiliki cita-cita membentuk generasi yang mempunyai pengetahuan sekaligus karakter dan nilai agama. Konsep tersebut menjadi bagian penting dari visi awal yayasan, yakni mencerdaskan anak bangsa serta menyiapkan generasi yang mampu berkontribusi bagi masyarakat dan negara. Dalam beberapa dekade berikutnya, sekolah berkembang dan pernah memiliki jumlah peserta didik hingga sekitar 2.500 siswa. Perubahan demografi, munculnya banyak sekolah baru, serta perkembangan pilihan pendidikan membuat jumlah siswa kemudian menurun. Saat ini, jumlah peserta didik disebut berada di kisaran 500 orang. Meski mengalami perubahan, keberadaan sekolah tetap menjadi bagian dari sejarah pendidikan di kawasan Pondok Pinang dan sekitarnya.
Setelah 47 tahun berlalu, Yan Sofyan Syafe’i disebut menjadi satu-satunya pendiri awal yang masih hidup. Tokoh-tokoh lain yang terlibat dalam pendirian yayasan, termasuk Adam Malik, Letjen TNI (Purn) KPH Soerjo Wirjohadipoetro, dan KH Mawardi Labay el-Sulthani, telah meninggal dunia. Kondisi tersebut membuat Yan memiliki posisi emosional tersendiri terhadap perkembangan lembaga yang pernah dibangun bersama. Di satu sisi, ia bersyukur karena sekolah masih menjalankan aktivitas pendidikan hingga saat ini. Namun, di sisi lain, muncul keprihatinan terhadap persoalan yang terjadi di lingkungan yayasan. Pihak yayasan kini menyatakan ingin mengembalikan pengelolaan lembaga kepada semangat dan tujuan awal pendiriannya, terutama memastikan sekolah kembali berfokus pada pendidikan dan keselamatan peserta didik.
Polemik Yayasan Harapan Ibu semakin menjadi perhatian setelah ditemukan 995 pucuk senjata di lingkungan sekolah. Temuan tersebut menimbulkan pertanyaan besar mengenai asal-usul, kepemilikan, penyimpanan, serta bagaimana benda-benda tersebut bisa berada di lingkungan lembaga pendidikan. Pihak yayasan kemudian meminta agar aparat melakukan pemeriksaan dan sterilisasi menyeluruh terhadap area sekolah untuk memastikan tidak ada lagi barang berbahaya yang dapat mengancam keselamatan siswa maupun tenaga pendidik. Yayasan juga berupaya berkoordinasi dengan sejumlah lembaga negara untuk memperoleh pendampingan dan perlindungan dalam menyelesaikan persoalan tersebut. Di tengah proses pemeriksaan aparat, kegiatan pembelajaran bagi sekitar 580 siswa sementara dialihkan ke sistem pembelajaran jarak jauh selama satu pekan. Langkah tersebut diambil untuk memberikan waktu kepada pihak berwenang memastikan kondisi lingkungan sekolah benar-benar aman sebelum aktivitas pembelajaran tatap muka kembali dilakukan. Bagi yayasan, penyelesaian persoalan ini menjadi bagian penting dari upaya mengembalikan Sekolah Harapan Ibu pada fungsi utamanya sebagai tempat pendidikan yang aman dan terpercaya.