Penjaga Warung hingga Penjual Ketoprak di Gandaria Jaksel Belajar Bahasa Inggris Gratis, Tak Kenal Usia

11 October 2026 20:52 WIB
6acb5d18d2ee4.jpeg

1. Program Bahasa Inggris Gratis di Gandaria Utara Disambut Antusias Warga

Semangat belajar bahasa Inggris terlihat di lingkungan RT 11 RW 7, Gandaria Utara, Jakarta Selatan. Warga dari berbagai kelompok usia mengikuti program pembelajaran bahasa Inggris gratis yang digagas oleh ketua RT setempat. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mempelajari bahasa asing tanpa harus mengikuti kursus berbayar.

Program tersebut menarik perhatian warga yang selama ini belum memiliki kesempatan belajar bahasa Inggris secara formal. Pesertanya berasal dari beragam latar belakang pekerjaan, mulai dari penjaga warung hingga pedagang makanan seperti penjual ketoprak. Mereka berusaha memahami kosakata baru dan membiasakan diri menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari.

Kehadiran kelas gratis ini menunjukkan bahwa kegiatan pendidikan dapat dilakukan di lingkungan tempat tinggal dengan cara yang sederhana dan dekat dengan kebutuhan masyarakat. Selain menambah pengetahuan, program tersebut juga membuka ruang bagi warga untuk saling mendukung dan belajar bersama tanpa dibatasi usia maupun latar belakang pendidikan.

2. Watini, Penjaga Warung Berusia 60 Tahun yang Tak Berhenti Belajar

Salah satu peserta yang menunjukkan antusiasme tinggi adalah Watini, warga berusia 60 tahun yang sehari-hari menjalankan usaha warung nasi bersama suaminya. Sepanjang hidupnya, ia belum pernah mendapatkan pembelajaran bahasa Inggris secara khusus, baik melalui pendidikan formal maupun kursus nonformal.

Pendidikan yang pernah ditempuh Watini hanya sampai tingkat madrasah yang setara dengan sekolah dasar. Pada masa itu, ia tidak mendapatkan pelajaran bahasa Inggris sehingga pengetahuannya mengenai bahasa asing tersebut sangat terbatas. Meski demikian, keterbatasan pendidikan tidak membuatnya kehilangan ketertarikan untuk mengenal bahasa Inggris.

Ketertarikan itu telah muncul sejak Watini masih berusia sekitar sembilan tahun. Ia mulai mengenal lagu-lagu berbahasa Inggris dari kakak sepupunya yang kerap memutar musik tersebut. Walaupun belum memahami seluruh arti liriknya, ia merasa senang mendengarkan lagu-lagu asing dan terus mempertahankan kebiasaan itu hingga usianya sekarang.

Kecintaannya terhadap musik berbahasa Inggris bahkan menjadi ciri khas yang dikenal oleh para tetangganya. Di rumah, Watini dan suaminya memiliki selera musik berbeda. Watini menyukai lagu berbahasa Inggris, sedangkan suaminya lebih senang mendengarkan lagu-lagu dangdut koplo, termasuk karya Didi Kempot.

3. Mengatur Waktu Berdagang demi Mengikuti Kelas pada Malam Hari

Kesungguhan Watini dalam belajar terlihat dari caranya mengatur ulang jadwal berjualan. Biasanya, ia harus bekerja hingga malam untuk menjalankan warungnya. Namun, setelah mengikuti program bahasa Inggris di lingkungannya, ia berusaha menyelesaikan aktivitas berdagang lebih awal agar tidak tertinggal pelajaran.

Setiap Senin hingga Jumat, Watini menargetkan sudah pulang sekitar pukul 17.00 WIB. Sesampainya di rumah, ia menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, mandi, dan beribadah sebelum mempersiapkan diri mengikuti kelas pada malam hari. Waktu yang tersisa juga dimanfaatkan untuk membaca serta menghafalkan materi yang akan dipelajari.

Rutinitas tersebut membutuhkan kedisiplinan karena Watini harus membagi waktu antara pekerjaan, urusan rumah tangga, dan kegiatan belajar. Meski begitu, ia tetap berusaha menjalani semuanya dengan penuh semangat. Baginya, kesempatan belajar bahasa Inggris merupakan pengalaman berharga yang tidak ingin dilewatkan begitu saja.

Sebelum kelas dimulai, Watini terbiasa membaca kembali lembar materi dan buku pembelajaran. Kebiasaan mengulang pelajaran itu menjadi salah satu cara untuk membantunya mengingat kosakata serta memahami materi secara bertahap. Ia membuktikan bahwa proses belajar tetap bisa dijalankan di tengah kesibukan sehari-hari selama ada kemauan dan usaha.

4. Materi Percakapan Sehari-hari Membuat Belajar Lebih Menyenangkan

Metode pembelajaran yang diterapkan dalam program tersebut menjadi salah satu hal yang membuat Watini nyaman mengikuti kelas. Ia menyukai suasana belajar yang tidak terlalu formal, sehingga peserta dapat mempelajari bahasa Inggris dengan lebih santai. Materi yang diberikan juga berhubungan dengan percakapan yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Pendekatan praktis seperti ini membantu peserta mengenali penggunaan bahasa Inggris dalam situasi sederhana. Mereka tidak hanya berhadapan dengan teori, tetapi juga berkesempatan membiasakan diri memahami dan menggunakan kosakata yang relevan dengan aktivitas sehari-hari.

Bagi warga yang baru mulai belajar pada usia dewasa, suasana kelas yang ramah dapat menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan diri. Peserta dapat belajar secara bertahap, mengulang materi yang belum dipahami, serta memperoleh pengalaman baru bersama tetangga mereka.

Program di Gandaria Utara juga memperlihatkan bahwa pendidikan bahasa asing tidak harus selalu berlangsung di lembaga kursus atau sekolah. Dengan inisiatif masyarakat dan metode yang sesuai kebutuhan peserta, lingkungan tempat tinggal dapat menjadi ruang belajar yang bermanfaat bagi banyak orang.

5. Semangat Watini Menjadi Contoh bagi Keluarga dan Lingkungan

Antusiasme Watini tidak hanya berhenti pada keinginannya sendiri untuk menguasai bahasa Inggris. Ia juga berusaha menularkan semangat belajar tersebut kepada cucunya yang kini duduk di kelas 2 sekolah dasar. Kebiasaan belajar di rumah diharapkan dapat membuat anak semakin tertarik mengenal bahasa Inggris sejak dini.

Pengalaman Watini menjadi gambaran bahwa keinginan untuk menambah pengetahuan tidak harus dibatasi oleh usia. Meskipun baru mendapatkan kesempatan belajar secara terstruktur ketika berusia 60 tahun, ia tetap bersedia meluangkan waktu untuk membaca materi, menghafalkan kosakata, dan menghadiri kelas secara rutin.

Kisah ini juga menyoroti pentingnya akses pendidikan yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat. Program sederhana di tingkat RT dapat menghadirkan kesempatan baru bagi warga yang sebelumnya terkendala biaya, waktu, maupun latar belakang pendidikan.

Melalui kegiatan tersebut, warga Gandaria Utara tidak hanya memperoleh kesempatan mempelajari bahasa Inggris, tetapi juga membangun kebiasaan belajar sepanjang hayat. Semangat Watini menjadi pengingat bahwa memulai sesuatu yang baru tidak mengenal kata terlambat, selama ada kemauan untuk terus mencoba dan memperbaiki kemampuan.

GandariaUtara
PendidikanMasyarakat
BelajarBahasaInggris

pendidikan

Fenomena Terkini






Trending