
Kuatbaca - Guru selama ini identik dengan sosok yang berdiri di depan kelas, menyampaikan materi, memberikan tugas, lalu menilai hasil belajar siswa. Namun, peran seorang guru sesungguhnya jauh lebih luas daripada sekadar menyampaikan pengetahuan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti kembali menekankan bahwa guru memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter dan masa depan peserta didik. Menurutnya, guru menjalankan dua fungsi yang saling berkaitan, yakni sebagai agen pembelajaran atau agent of learning dan agen peradaban atau agent of civilization.
Sebagai agen pembelajaran, guru memiliki tanggung jawab untuk membantu siswa memperoleh pengetahuan, keterampilan, sekaligus kemampuan memahami berbagai persoalan. Proses tersebut tidak hanya berlangsung melalui buku pelajaran atau materi yang disampaikan di kelas.
Sikap guru ketika berbicara, menyelesaikan masalah, menghargai orang lain, hingga memperlakukan siswa juga menjadi bagian dari proses pendidikan. Karena itu, guru dituntut menjadi figur yang dapat memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari.
Konsep tersebut berkaitan dengan pandangan bahwa guru merupakan sosok yang dapat digugu dan ditiru. Apa yang dilakukan seorang guru berpotensi menjadi referensi bagi siswa dalam membangun sikap dan kebiasaan mereka.
Abdul Mu'ti memandang pendidikan tidak cukup jika hanya berorientasi pada kemampuan akademik. Sekolah juga memiliki tanggung jawab untuk membentuk manusia yang memiliki karakter, kemampuan sosial, empati, dan sikap menghargai orang lain.
Pandangan tersebut telah beberapa kali disampaikan dalam berbagai agenda pendidikan. Kemendikdasmen juga menempatkan penguatan kompetensi guru sebagai salah satu bagian penting dari peningkatan mutu pendidikan nasional.
Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai ujian atau kemampuan siswa menjawab soal. Perubahan perilaku dan berkembangnya kemampuan siswa untuk hidup bersama di tengah masyarakat juga menjadi bagian dari tujuan pendidikan.
Ketika berbicara mengenai guru sebagai agen peradaban, cakupannya menjadi lebih luas. Guru tidak hanya bertugas membuat siswa memahami materi pelajaran, tetapi ikut menanamkan nilai yang nantinya dibawa siswa ke lingkungan keluarga dan masyarakat.
Nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, toleransi, disiplin, empati dan penghormatan terhadap perbedaan tidak selalu cukup diajarkan melalui teori. Nilai tersebut membutuhkan contoh nyata agar siswa dapat melihat bagaimana prinsip tersebut diterapkan dalam kehidupan.
Di titik inilah keteladanan guru menjadi bagian penting. Cara guru menghadapi perbedaan pendapat, menyikapi kesalahan siswa, serta membangun komunikasi di kelas dapat menjadi pengalaman pendidikan yang melekat dalam diri peserta didik.
Pesan mengenai guru sebagai agen peradaban kembali mengemuka ketika Abdul Mu'ti membahas pentingnya menciptakan budaya sekolah yang aman dan nyaman. Dalam agenda pendidikan pada 2 Oktober 2026, ia menekankan peran guru dalam mencegah kekerasan melalui keteladanan, toleransi dan keterbukaan terhadap perbedaan.
Lingkungan sekolah yang aman tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik. Rasa aman juga menyangkut bagaimana siswa diperlakukan, bagaimana perbedaan dihargai, serta bagaimana konflik diselesaikan.
Guru berada di posisi yang cukup dekat dengan siswa untuk mengenali perubahan perilaku maupun persoalan yang muncul dalam keseharian mereka. Karena itu, kemampuan guru membangun komunikasi yang sehat menjadi bagian penting dalam menciptakan suasana belajar yang nyaman.
Peran guru semakin kompleks seiring perubahan teknologi dan cara anak memperoleh informasi. Siswa saat ini dapat menemukan berbagai pengetahuan melalui internet hanya dalam hitungan detik.
Kondisi tersebut membuat fungsi guru sebagai sumber informasi tunggal semakin berubah. Guru justru dituntut membantu siswa memilah informasi, memahami konteks, berpikir kritis, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Kemendikdasmen dalam berbagai program pengembangan kompetensi juga mendorong guru untuk terus belajar. Pelatihan pembelajaran mendalam, koding dan kecerdasan artifisial menjadi bagian dari upaya memperluas kemampuan pendidik menghadapi perubahan dunia pendidikan.
Tuntutan agar guru menjadi teladan tidak berarti guru harus selalu mengetahui semua hal. Justru perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat kemampuan untuk terus belajar menjadi semakin penting.
Guru yang mau memperbarui pengetahuan dapat menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik. Mereka juga dapat memahami perubahan cara belajar generasi baru tanpa kehilangan tujuan utama pendidikan.
Dalam pandangan Kemendikdasmen, peningkatan kompetensi guru menjadi bagian dari upaya menghadirkan pendidikan bermutu. Program pengembangan profesional juga diarahkan agar guru tidak berhenti belajar setelah menyelesaikan pendidikan formal atau memperoleh sertifikasi.
Pembentukan karakter siswa juga tidak mungkin sepenuhnya dibebankan kepada guru. Pendidikan berlangsung melalui hubungan antara sekolah, keluarga dan lingkungan sosial.
Guru dapat memberikan teladan dan membangun budaya positif di sekolah, tetapi kebiasaan yang dibentuk di ruang kelas membutuhkan dukungan dari lingkungan di luar sekolah. Karena itu, komunikasi antara guru dan orang tua tetap menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.
Sekolah juga perlu memastikan bahwa aturan yang dibuat benar-benar diterapkan secara konsisten. Nilai yang diajarkan kepada siswa akan lebih mudah dipahami ketika mereka melihat adanya kesesuaian antara aturan, tindakan guru dan budaya sekolah.
Penguatan peran guru juga berjalan seiring dengan penerapan pendekatan pembelajaran mendalam atau deep learning. Dalam pendekatan ini, proses belajar diarahkan agar siswa tidak sekadar menghafal materi, tetapi memahami, menghubungkan dan menerapkan pengetahuan.
Guru memiliki peran penting dalam menciptakan proses pembelajaran yang bermakna. Materi pelajaran dapat dikaitkan dengan persoalan yang ditemui siswa dalam kehidupan sehari-hari sehingga pembelajaran tidak terasa terpisah dari realitas mereka.
Pendekatan tersebut juga memberi ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan memahami persoalan dari berbagai sudut pandang.
Bagi Abdul Mu'ti, menjadi guru tidak berhenti pada kemampuan menyampaikan materi. Guru juga diharapkan mampu menginspirasi siswa melalui sikap dan proses pembelajaran.
Kemendikdasmen bahkan menekankan prinsip bahwa proses mengajar seharusnya membawa inspirasi, pembentukan karakter dan keteladanan. Prinsip tersebut menjadi salah satu arah dalam penguatan Pendidikan Profesi Guru (PPG).
Artinya, keberadaan guru di sekolah diharapkan meninggalkan pengalaman yang lebih panjang daripada sekadar catatan pelajaran. Siswa dapat mengingat bagaimana seorang guru memperlakukan mereka, memberikan kesempatan untuk berkembang, atau membantu ketika menghadapi kesulitan.
Peran sebagai agen peradaban pada akhirnya berkaitan dengan generasi yang akan mengisi kehidupan masyarakat pada masa mendatang. Siswa yang saat ini berada di bangku sekolah nantinya akan menjadi pekerja, pemimpin, orang tua, pelaku usaha, profesional maupun bagian dari berbagai kelompok masyarakat.
Apa yang mereka pelajari di sekolah akan ikut membentuk cara mereka mengambil keputusan dan berinteraksi dengan orang lain. Karena itu, pendidikan karakter memiliki dampak yang jauh lebih panjang daripada masa belajar siswa di sekolah.
Guru menjadi salah satu figur yang memiliki kesempatan untuk memengaruhi proses tersebut secara langsung.
Kemajuan teknologi pendidikan juga tidak serta-merta menghapus peran guru. Justru ketika informasi semakin mudah diperoleh, kemampuan manusia untuk membimbing, memberikan konteks dan membangun karakter menjadi semakin penting.
Teknologi dapat membantu menyampaikan materi dan memperluas akses terhadap pengetahuan. Namun, hubungan antara guru dan siswa tetap memiliki dimensi manusiawi yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh perangkat digital.
Karena itu, peningkatan kemampuan guru dalam menggunakan teknologi perlu berjalan bersama dengan penguatan kemampuan pedagogis dan karakter pendidik.
Penekanan terhadap guru sebagai agen pembelajaran sekaligus agen peradaban menunjukkan bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kurikulum, fasilitas maupun teknologi.
Kualitas pendidik tetap menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan bagaimana proses belajar berlangsung. Guru yang memiliki kompetensi, mampu beradaptasi dan memberikan keteladanan dapat membantu sekolah membangun lingkungan yang lebih aman serta mendukung perkembangan siswa.
Pada akhirnya, tugas guru memang dimulai dari mengajar. Namun, dampaknya dapat jauh melampaui batas ruang kelas. Pengetahuan yang diberikan, nilai yang ditanamkan, serta contoh yang ditunjukkan kepada siswa dapat ikut membentuk cara generasi berikutnya memandang dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan tempat mereka hidup.