
Di balik hiruk pikuk Kota Jakarta, terdapat sebuah ruang belajar sederhana yang berdiri di bawah kolong jembatan di kawasan Cipinang, Jatinegara, Jakarta Timur. Tempat yang awalnya hanya berupa lahan kosong itu kini telah menjadi rumah belajar bagi puluhan anak dari keluarga prasejahtera. Berkat dedikasi Daniel Polii bersama rekan-rekannya melalui Komunitas Gumul Juang (KGJ), ruang belajar tersebut berkembang pesat hingga memiliki 97 murid aktif. Selama lebih dari satu dekade, komunitas ini membuktikan bahwa kepedulian dan semangat gotong royong mampu menghadirkan akses pendidikan bagi anak-anak yang membutuhkan.
Komunitas Gumul Juang (KGJ) memulai perjalanannya dengan sangat sederhana. Saat pertama kali dibentuk, hanya tiga anak yang rutin mengikuti kegiatan belajar di bawah kolong jembatan. Namun, berkat konsistensi para relawan dalam memberikan pendidikan gratis, jumlah peserta terus bertambah hingga kini mencapai 97 anak. Ruang belajar tersebut telah menjadi tempat kedua bagi anak-anak untuk memperdalam pelajaran sekolah, membaca buku, mengikuti permainan edukatif, hingga membangun karakter. Meski fasilitasnya sederhana, suasana belajar yang hangat dan penuh kebersamaan membuat tempat ini memiliki arti besar bagi masyarakat sekitar.
Perjalanan Komunitas Gumul Juang bermula pada tahun 2010 ketika Daniel Polii dan lima rekannya masih berstatus mahasiswa. Saat itu mereka aktif menjadi relawan dalam penanganan banjir besar yang melanda Jakarta. Dari pengalaman membantu warga terdampak bencana, mereka melihat banyak anak yang mengalami kesulitan memperoleh pendampingan belajar. Kondisi tersebut mendorong mereka untuk mendirikan komunitas pendidikan gratis yang dapat menjadi wadah belajar sekaligus memberikan harapan baru bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera. Sejak saat itu, kegiatan belajar terus berjalan secara sukarela tanpa mengharapkan imbalan maupun dukungan pendanaan tetap.
Selama 16 tahun, Komunitas Gumul Juang menjalankan seluruh aktivitasnya tanpa lembaga resmi maupun sumber pendanaan yang berkelanjutan. Operasional komunitas bergantung pada kontribusi para relawan, donasi masyarakat, dan semangat gotong royong. Perjuangan panjang tersebut akhirnya mulai mendapat perhatian dari berbagai pihak. Bantuan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari Lemonilo serta dukungan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menjadi momentum penting bagi perkembangan komunitas. Dukungan tersebut tidak hanya menghadirkan fasilitas baru, tetapi juga membuka jalan agar keberadaan KGJ semakin dikenal dan mendapat perhatian lebih luas dari pemerintah maupun masyarakat.
Seiring berkembangnya teknologi digital, Daniel menyadari bahwa tantangan pendidikan tidak lagi sebatas menyediakan akses belajar. Anak-anak juga perlu dibimbing agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak. Bantuan berupa laptop dan smart TV yang diterima komunitas akan dimanfaatkan untuk memperkuat proses pembelajaran berbasis digital. Melalui fasilitas tersebut, para relawan ingin mengenalkan penggunaan teknologi sebagai sarana belajar yang kreatif dan produktif, bukan sekadar untuk hiburan. Pendampingan ini dinilai penting karena anak-anak dari berbagai latar belakang kini telah akrab dengan media sosial dan internet, sehingga membutuhkan arahan agar mampu menggunakan teknologi secara positif.
Kisah Daniel Polii dan Komunitas Gumul Juang menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil. Dari hanya tiga murid hingga kini melayani hampir seratus anak, komunitas ini menjadi simbol bahwa pendidikan dapat hadir di mana saja selama ada kepedulian dan komitmen untuk berbagi. Ruang belajar di bawah kolong jembatan bukan sekadar tempat mengajar, tetapi juga menjadi ruang tumbuh bagi anak-anak untuk membangun mimpi, meningkatkan kepercayaan diri, serta memperoleh kesempatan yang lebih baik di masa depan. Keberhasilan KGJ menjadi inspirasi bahwa kolaborasi antara relawan, masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta mampu memperluas akses pendidikan bagi mereka yang membutuhkan.