
Kuatbaca.com - Data terbaru mengenai kondisi pasar kerja Indonesia kembali menyoroti persoalan pengangguran di kalangan lulusan perguruan tinggi. Salah satu kajian yang menggunakan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS) Agustus 2025 menunjukkan bahwa lulusan dari sejumlah program studi tertentu memiliki kontribusi cukup besar terhadap jumlah penganggur berpendidikan minimal sarjana (S1). Temuan ini menjadi perhatian karena terjadi ketika akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi terus diperluas.
Kajian tersebut disusun oleh peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Muhammad Hanri, PhD dan Nia Kurnia Sholihah, ME. Fokus kajian tidak hanya membahas angka pengangguran, tetapi juga melihat kesiapan pasar kerja dalam menyerap lulusan pendidikan tinggi. Berikut lima jurusan yang tercatat menjadi penyumbang terbesar penganggur berpendidikan minimal S1 di Indonesia.
1. Manajemen Menjadi Jurusan dengan Kontribusi Terbesar
Program studi Manajemen berada di posisi teratas dalam daftar jurusan yang menyumbang penganggur lulusan minimal S1. Berdasarkan data yang dianalisis dalam kajian tersebut, sekitar 10,3 persen penganggur berpendidikan minimal S1 berasal dari bidang Manajemen.
Besarnya angka tersebut tidak serta-merta berarti lulusan Manajemen memiliki peluang kerja paling buruk. Manajemen merupakan salah satu program studi yang banyak tersedia di perguruan tinggi Indonesia dan memiliki jumlah mahasiswa serta lulusan yang relatif besar.
Lulusan Manajemen juga memiliki pilihan karier yang cukup beragam, mulai dari bidang sumber daya manusia, pemasaran, keuangan, operasional, administrasi bisnis hingga kewirausahaan. Karena jumlah lulusannya besar, secara matematis kelompok ini juga dapat menyumbang jumlah penganggur yang besar.
Temuan tersebut karena itu perlu dibaca dengan melihat konteks jumlah lulusan dan ukuran angkatan kerja dari masing-masing bidang studi.
2. Jurusan Hukum Menempati Posisi Berikutnya
Jurusan Hukum berada di posisi kedua dengan kontribusi sekitar 9 persen dari keseluruhan penganggur berpendidikan minimal S1 yang tercatat dalam kajian tersebut.
Secara umum, bidang Hukum memiliki jalur profesi yang cukup jelas. Lulusan dapat melanjutkan karier di berbagai bidang, baik yang berkaitan langsung dengan hukum maupun sektor lain yang membutuhkan kemampuan analisis, administrasi, kepatuhan, dan penyelesaian masalah.
Namun, tidak semua lulusan Hukum bekerja pada profesi yang secara langsung menggunakan latar belakang pendidikannya. Sebagian lulusan akhirnya masuk ke pasar kerja umum dan bersaing dengan lulusan dari berbagai jurusan lain.
"Banyak lulusan akhirnya bersaing pada pasar kerja umum, termasuk pekerjaan di perusahaan, perbankan, pemerintahan, administrasi, konsultasi, dan layanan profesional," demikian penjelasan dalam kajian tersebut.
Kondisi itu menunjukkan bahwa gelar sarjana saja tidak selalu menjamin seseorang mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang kuliahnya. Kompetensi tambahan dan kebutuhan pasar kerja juga menjadi faktor penting dalam proses penyerapan tenaga kerja.
3. Lulusan Ekonomi Juga Masuk Daftar Teratas
Bidang Ekonomi menjadi jurusan berikutnya dengan kontribusi sekitar 8,7 persen terhadap penganggur berpendidikan minimal S1. Sama seperti Manajemen dan Hukum, bidang Ekonomi memiliki cakupan pekerjaan yang cukup luas.
Lulusan Ekonomi dapat masuk ke sektor perbankan, perusahaan swasta, pemerintahan, lembaga keuangan, konsultan, riset, hingga berbagai bidang administrasi dan bisnis. Namun, luasnya pilihan tersebut juga berarti lulusan harus berkompetisi di pasar kerja yang lebih umum.
Tidak semua pekerjaan yang tersedia secara otomatis dapat menyerap seluruh lulusan dari bidang Ekonomi. Perubahan kebutuhan perusahaan, perkembangan teknologi, kondisi ekonomi nasional, serta persyaratan kompetensi tertentu dapat memengaruhi peluang seseorang memperoleh pekerjaan.
Karena itu, tingginya kontribusi lulusan Ekonomi terhadap angka pengangguran sarjana perlu dipahami sebagai gambaran jumlah, bukan sebagai penilaian bahwa jurusan tersebut tidak memiliki prospek karier.
4. Jurusan Pendidikan Menyumbang 7,1 Persen
Program studi Pendidikan tercatat menyumbang sekitar 7,1 persen dari penganggur berpendidikan minimal S1. Bidang ini memiliki karakteristik yang berbeda karena mencakup banyak program studi, mulai dari pendidikan guru, bahasa, ekonomi, sains hingga pendidikan vokasi.
Besarnya cakupan tersebut membuat peluang kerja lulusan Pendidikan sangat bergantung pada kebutuhan tenaga pendidik di setiap wilayah. Rekrutmen guru, jumlah formasi yang tersedia, kebutuhan sekolah, serta persyaratan profesi menjadi sejumlah faktor yang dapat menentukan cepat atau lambatnya lulusan terserap ke dunia kerja.
Dengan demikian, seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan di bidang keguruan belum tentu langsung mendapatkan pekerjaan sebagai guru. Ketersediaan formasi dan persyaratan yang berlaku turut menentukan peluang tersebut.
Kondisi ini juga menunjukkan adanya kemungkinan ketidaksesuaian antara jumlah lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan tenaga kerja pada sektor tertentu.
5. Akuntansi Berkontribusi 5,1 Persen
Program studi Akuntansi melengkapi lima besar jurusan yang menyumbang penganggur lulusan minimal S1, dengan persentase sekitar 5,1 persen.
Akuntansi merupakan salah satu bidang pendidikan yang memiliki keterkaitan erat dengan kebutuhan perusahaan dan organisasi. Lulusannya dapat bekerja sebagai staf keuangan, auditor, analis, konsultan, hingga berbagai posisi administrasi dan bisnis.
Namun, banyaknya kebutuhan tenaga kerja di sektor tertentu tidak otomatis membuat seluruh lulusan terserap. Persaingan antar-lulusan, persyaratan pengalaman, kemampuan menggunakan perangkat lunak, sertifikasi, dan keterampilan lain dapat memengaruhi peluang mendapatkan pekerjaan.
Jika lima bidang tersebut digabungkan, yaitu Manajemen, Hukum, Ekonomi, Pendidikan, dan Akuntansi, kontribusinya mencapai sekitar 40 persen dari seluruh penganggur berpendidikan minimal S1 berdasarkan data yang digunakan dalam kajian tersebut.
6. Angka Pengangguran Tidak Berarti Jurusannya Paling Buruk
Ada satu hal penting yang perlu diperhatikan ketika membaca data tersebut. Persentase kontribusi terhadap jumlah penganggur tidak sama dengan tingkat pengangguran dari suatu jurusan.
Bidang studi dengan jumlah mahasiswa dan lulusan yang sangat besar secara alami memiliki potensi menyumbang lebih banyak orang ke dalam kelompok penganggur. Karena itu, angka tersebut tidak bisa langsung digunakan untuk menyimpulkan bahwa Manajemen, Hukum, Ekonomi, Pendidikan, atau Akuntansi merupakan jurusan dengan prospek kerja paling buruk.
"Karena itu, data ini belum dapat digunakan untuk menyatakan bahwa Manajemen, Hukum, Ekonomi, atau Pendidikan memiliki prospek kerja paling buruk," demikian penjelasan dalam kajian tersebut.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat, jumlah penganggur dari masing-masing bidang studi perlu dibandingkan dengan total angkatan kerja dari bidang studi yang sama. Perbandingan tersebut akan menghasilkan gambaran mengenai proporsi lulusan yang benar-benar menghadapi risiko pengangguran.
7. Tantangan Pendidikan Tinggi Bukan Sekadar Membuka Jurusan Populer
Temuan mengenai pengangguran lulusan sarjana juga memiliki kaitan dengan rencana perluasan akses pendidikan tinggi, termasuk rencana pembangunan Universitas Republik Indonesia (URI).
Pembukaan perguruan tinggi baru perlu mempertimbangkan kondisi pasar kerja agar tidak sekadar menambah jumlah lulusan dari bidang yang sudah memiliki pasokan tenaga kerja cukup besar. Program studi yang ditawarkan idealnya disesuaikan dengan kebutuhan tenaga kerja di masa mendatang.
Peneliti LPEM UI menilai pemetaan kebutuhan kompetensi menjadi hal penting. Perguruan tinggi perlu melihat bidang keahlian yang masih kekurangan tenaga profesional, kebutuhan tenaga terdidik di daerah tertentu, serta sektor industri yang diperkirakan berkembang.
Dengan pendekatan tersebut, pendidikan tinggi tidak hanya berfungsi meningkatkan jumlah lulusan sarjana, tetapi juga membantu menciptakan sumber daya manusia yang relevan dengan kebutuhan ekonomi.