
JAKARTA – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti memberikan keleluasaan kepada sekolah di wilayah terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau untuk menyesuaikan durasi dan jam belajar. Penyesuaian dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan serta tingkat dampak erupsi di masing-masing daerah.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memastikan kegiatan pendidikan tetap berjalan tanpa mengesampingkan keselamatan dan kesehatan siswa maupun tenaga pendidik. Sekolah tidak diwajibkan menjalankan seluruh jam pelajaran seperti dalam kondisi normal apabila situasi di wilayahnya belum memungkinkan.
Salah satu faktor yang dapat menjadi pertimbangan sekolah dan pemerintah daerah adalah kondisi kualitas udara yang tercermin melalui Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU).
Sekolah di wilayah terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau dapat melakukan penyesuaian terhadap lama waktu pembelajaran. Artinya, kegiatan belajar tidak harus berlangsung selama durasi normal apabila kondisi lingkungan berpotensi mengganggu kesehatan dan keselamatan warga sekolah. Penyesuaian jam belajar dapat dilakukan berdasarkan situasi aktual di masing-masing daerah. Kebijakan ini memberikan ruang bagi sekolah untuk mengambil keputusan yang lebih fleksibel sehingga proses pendidikan tetap dapat berlangsung dengan memperhatikan kondisi kebencanaan yang sedang terjadi.
Penentuan penyesuaian pembelajaran perlu mempertimbangkan kondisi wilayah yang terdampak sebaran abu vulkanik. Salah satu indikator yang dapat digunakan adalah nilai Indeks Standar Pencemaran Udara atau ISPU. Kondisi kualitas udara menjadi penting karena abu vulkanik dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan berpotensi berdampak terhadap kesehatan apabila paparannya cukup tinggi. Dengan melihat kondisi udara di wilayah masing-masing, sekolah dapat menentukan apakah pembelajaran tatap muka masih dapat dilakukan, perlu dipersingkat, atau harus dialihkan menggunakan metode lain.
Sejumlah daerah dilaporkan mengalami dampak cukup berat akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Di Provinsi Banten, Kabupaten Serang menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian. Sementara di Provinsi Lampung, wilayah yang disebut terdampak meliputi Tanggamus, Bandar Lampung, dan Lampung Selatan. Kondisi di setiap daerah tidak selalu sama sehingga pelaksanaan kegiatan belajar dapat disesuaikan berdasarkan tingkat dampak yang terjadi. Sekolah dan pemerintah daerah perlu terus memantau perkembangan kondisi lingkungan sebelum menentukan pola pembelajaran yang paling aman bagi siswa dan guru.
Untuk daerah yang mengalami dampak erupsi cukup berat, kegiatan pembelajaran dapat dialihkan dari sekolah ke rumah atau lokasi lain yang dinilai aman. Pembelajaran jarak jauh melalui sistem daring menjadi salah satu pilihan yang dapat diterapkan ketika kondisi tidak memungkinkan siswa dan guru berkegiatan secara langsung di sekolah. Dengan metode tersebut, proses pendidikan tetap dapat berjalan tanpa mengharuskan warga sekolah berada di lokasi yang berisiko terdampak abu vulkanik. Penerapan PJJ juga dapat disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi masing-masing satuan pendidikan.
Sekolah yang tidak terdampak langsung oleh erupsi Gunung Anak Krakatau masih dapat menyelenggarakan pembelajaran tatap muka. Namun, langkah perlindungan tetap perlu diterapkan untuk menjaga kesehatan siswa, guru, dan seluruh warga sekolah. Penggunaan masker dapat dilakukan untuk mengantisipasi paparan abu vulkanik, sementara kegiatan di luar kelas perlu dibatasi. Sekolah juga dapat menutup pintu dan jendela untuk mengurangi kemungkinan masuknya abu ke ruang belajar. Seluruh kebijakan tersebut pada akhirnya diarahkan untuk memastikan perlindungan, keselamatan, dan kesehatan warga sekolah tetap menjadi prioritas selama kondisi erupsi berlangsung.
Penyesuaian jam belajar dan metode pembelajaran menjadi langkah penting dalam menjaga keberlangsungan pendidikan di tengah situasi bencana. Pemerintah memberikan ruang bagi sekolah dan pemerintah daerah untuk menyesuaikan kegiatan berdasarkan kondisi masing-masing wilayah, sehingga tidak semua sekolah harus menerapkan kebijakan yang sama.
Erupsi Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan sebaran abu vulkanik ke sejumlah wilayah juga berdampak terhadap berbagai aktivitas masyarakat. Karena itu, sekolah perlu terus mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas gunung api dan kondisi kualitas udara sebelum menentukan kegiatan pembelajaran. Dengan pendekatan yang fleksibel, proses pendidikan diharapkan tetap berlangsung sekaligus memberikan perlindungan maksimal kepada siswa dan tenaga pendidik.