
1. Digitalisasi Pendidikan Jadi Strategi Pemerintah Tingkatkan Kualitas Belajar
Presiden Prabowo Subianto mendorong transformasi pendidikan nasional melalui pemanfaatan teknologi digital sebagai salah satu strategi untuk memperluas akses dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Dalam dua tahun terakhir, pemerintah menjalankan sejumlah program pendidikan, mulai dari pengembangan Sekolah Rakyat dan Sekolah Unggul Garuda hingga penyediaan perangkat pembelajaran digital. Upaya tersebut diarahkan untuk membantu sekolah menghadapi tantangan geografis sekaligus mengurangi kesenjangan mutu pendidikan antardaerah. Pemerintah juga mengembangkan Papan Interaktif Digital (PID), Studio Guru, platform Rumah Pendidikan, serta memperluas ketersediaan internet dan listrik di lingkungan sekolah.
2. Tantangan Geografis Jadi Alasan Percepatan Transformasi Digital
Pemerataan pendidikan masih menjadi pekerjaan besar karena banyak sekolah berada di wilayah terpencil dengan keterbatasan sarana dan prasarana. Prabowo mencatat sekitar 288.000 sekolah tersebar di berbagai lokasi yang memiliki tantangan geografis. Kondisi tersebut membuat akses terhadap sumber belajar dan fasilitas pendidikan berkualitas belum sepenuhnya merata. Melalui digitalisasi, pemerintah berupaya menghadirkan materi pembelajaran yang lebih beragam dan membantu guru menyampaikan pelajaran secara lebih interaktif. Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, pada 20 Juli 2026, Prabowo kembali menegaskan pentingnya upaya memperbaiki kondisi sekolah di seluruh Indonesia agar peserta didik memperoleh kesempatan belajar yang lebih baik.
3. Ratusan Ribu Papan Interaktif Digital Mulai Didistribusikan
Salah satu program utama dalam transformasi pendidikan adalah pengadaan Papan Interaktif Digital atau Interactive Flat Panel (IFP), yang juga dikenal sebagai smartboard. Perangkat berupa layar digital ini dapat digunakan guru untuk menampilkan materi pelajaran, video, gambar, dan berbagai konten pendukung pembelajaran. Pada November 2025, pemerintah meluncurkan 215.572 layar interaktif untuk digunakan di sekolah-sekolah di Indonesia. Program pengadaan tersebut kemudian mencakup sekitar 288.000 sekolah, dengan masing-masing sekolah memperoleh satu panel interaktif berukuran 75 inci. Pada awal Februari 2026, jumlah layar yang tercatat telah mencapai 288.865 unit. Pemerintah selanjutnya merencanakan distribusi tambahan hingga satu juta layar sepanjang 2026.
4. Target Enam Ruang Kelas dengan Panel Digital di Setiap Sekolah
Pemerintah tidak hanya berfokus pada pengadaan perangkat, tetapi juga menargetkan pemanfaatan teknologi yang lebih luas di ruang kelas. Prabowo menginginkan setidaknya enam ruang kelas di setiap sekolah dilengkapi Papan Interaktif Digital untuk mendukung proses belajar-mengajar. Kehadiran perangkat tersebut diharapkan membuat penyampaian materi lebih menarik, mendorong keterlibatan siswa, serta membantu guru mengembangkan metode pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Teknologi ini juga berpotensi memperkaya pengalaman belajar melalui penggunaan materi visual dan multimedia. Meski demikian, keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah perangkat yang disalurkan, melainkan juga dari kesiapan guru, pemeliharaan peralatan, ketersediaan listrik, serta kualitas akses internet di setiap sekolah.
5. Pengakuan Internasional dan Tantangan Keberlanjutan Program
Prabowo menyampaikan bahwa upaya digitalisasi pendidikan Indonesia memperoleh pengakuan internasional melalui penghargaan dari International Telecommunication Union (ITU), lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa, dalam kategori pemerintahan elektronik dan digitalisasi pendidikan. Penghargaan tersebut menjadi salah satu penanda perkembangan transformasi digital yang dijalankan pemerintah. Prabowo juga menilai teknologi memungkinkan pemantauan proses pembelajaran dilakukan secara lebih luas, termasuk untuk melihat kualitas pengajaran dan respons siswa di berbagai daerah. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh perangkat benar-benar digunakan secara optimal dan tidak hanya menjadi fasilitas pelengkap. Pemerataan infrastruktur, peningkatan kompetensi guru, serta evaluasi hasil belajar perlu berjalan beriringan agar digitalisasi mampu memberikan manfaat nyata bagi siswa, terutama mereka yang berada di wilayah terpencil.