
Kuatbaca.com-Dedi Mulyadi menyampaikan bahwa bantuan dana kemanusiaan untuk penanganan korban bencana alam di wilayah Kabupaten Sukabumi telah terealisasi dengan total nilai mencapai Rp 6,09 miliar. Dana stimulan tersebut telah didistribusikan secara langsung ke sejumlah titik terdampak guna mendukung pemulihan awal warga penyintas, penyediaan logistik darurat, hingga pembukaan kembali akses lingkungan yang rusak. Penyaluran bantuan ini dilakukan secara bertahap demi memastikan seluruh warga terdampak di kantong-kantong pemukiman terpencil menerima hak pemulihan secara merata dan tepat sasaran.
Guna mempercepat proses normalisasi kehidupan warga pascabencana, Dedi Mulyadi menegaskan telah mempersiapkan kucuran dana bantuan tambahan senilai Rp 4,8 miliar pada tahap berikutnya. Anggaran lanjutan ini difokuskan untuk mendanai perbaikan hunian warga yang mengalami kerusakan berat, pembenahan saluran sanitasi, serta rekonstruksi fasilitas umum seperti jembatan penyeberangan dan sarana ibadah. Komitmen dukungan finansial ini ditargetkan mampu meminimalkan waktu tinggal warga di tenda pengungsian darurat dan mendorong percepatan pemulihan sosial di kawasan bencana.
Dalam proses distribusinya, penyaluran bantuan mengedepankan skema langsung kepada keluarga penerima manfaat serta kelompok masyarakat pengelola perbaikan mandiri. Pendekatan berbasis transparansi ini diterapkan guna memangkas birokrasi berbelit dan mencegah potensi pemotongan bantuan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Tim relawan lapangan bersama unsur aparat setempat diterjunkan untuk memverifikasi data kerusakan secara faktual, mencocokkan identitas penerima, serta mendampingi warga dalam pembelanjaan material bangunan yang dibutuhkan.
Selain pemulihan fisik dan finansial jangka pendek, Dedi Mulyadi menekankan urgensi penguatan tata ruang dan mitigasi bencana jangka panjang di wilayah rawan pergerakan tanah di Sukabumi. Pemerintah daerah dan masyarakat diimbau untuk memperketat tata kelola lingkungan, menghentikan alih fungsi lahan resapan air di lereng perbukitan, serta memasang sistem peringatan dini (early warning system) yang efektif. Kolaborasi gotong royong antara masyarakat, relawan, dan pemangku kebijakan diharapkan dapat memperkuat ketangguhan daerah menghadapi potensi ancaman bencana di masa depan.