
Kuatbaca.com - Kemacetan panjang sempat terjadi di jalur menuju Pelabuhan Penyeberangan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur. Antrean kendaraan, khususnya truk logistik yang hendak menyeberang menuju Gilimanuk, Bali, bahkan sempat mencapai beberapa kilometer.
Kondisi tersebut kini mulai menunjukkan perbaikan setelah berbagai langkah dilakukan untuk mempercepat pergerakan kendaraan. Meski antrean sudah berkurang cukup signifikan, arus kendaraan di kawasan Pelabuhan Ketapang masih menghadapi sejumlah kendala operasional.
Kepala KSOP Kelas III Tanjung Wangi Purgana mengatakan kepadatan kendaraan tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Tingginya jumlah kendaraan logistik bertemu dengan keterbatasan kapasitas angkut kapal dan kondisi fasilitas di Pelabuhan Gilimanuk yang sedang mengalami perbaikan.
Menurut pemantauan pada Senin pukul 16.00 WIB, antrean kendaraan logistik tercatat sekitar 2,5 kilometer dari Pelabuhan Ketapang. Ujung antrean berada di sekitar depan Terminal Sritanjung. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan kondisi pada Minggu malam ketika antrean sempat mencapai sekitar 9,4 kilometer.
1. Volume Truk Logistik Tinggi Jadi Salah Satu Pemicu
Tingginya mobilitas kendaraan logistik menjadi salah satu penyebab utama kepadatan di jalur menuju Pelabuhan Ketapang. Lintas Ketapang-Gilimanuk merupakan jalur penting bagi distribusi barang antara Pulau Jawa dan Bali sehingga peningkatan jumlah truk dapat dengan cepat memengaruhi antrean apabila kapasitas penyeberangan tidak seimbang dengan volume kendaraan.
Selain tingginya jumlah kendaraan, perbaikan salah satu dermaga di Pelabuhan Gilimanuk juga turut memengaruhi kelancaran proses bongkar muat dan pergerakan kapal. Kondisi tersebut membuat pola pelayanan penyeberangan harus disesuaikan dengan fasilitas yang tersedia.
Faktor lainnya adalah berkurangnya kapasitas angkut kapal. Dari empat kapal milik Atosim Lampung Pelayaran atau ALP yang biasanya mendukung layanan, satu kapal masih menjalani perawatan atau docking.
Keterbatasan armada tersebut secara langsung membuat kemampuan mengangkut kendaraan menjadi lebih terbatas. Ketika jumlah kendaraan yang datang ke pelabuhan lebih besar daripada kemampuan kapal membawa kendaraan keluar dari area tersebut, antrean pun berpotensi semakin panjang.
2. Kapasitas Kantong Parkir Truk Juga Terbatas
Selain persoalan armada kapal dan fasilitas dermaga, pengelolaan kendaraan sebelum masuk ke area pelabuhan turut menjadi tantangan. Kapasitas Kantong Parkir atau RTK ALP yang dikelola oleh BUMDes disebut masih terbatas.
Area tersebut hanya mampu menampung sekitar 85 kendaraan. Ketika jumlah truk yang datang melebihi daya tampung, sebagian kendaraan terpaksa menunggu di bahu jalan.
Situasi ini tentu dapat mempersempit ruang lalu lintas dan berpotensi memperpanjang antrean apabila tidak diatur dengan baik. Kondisi tersebut juga menunjukkan bahwa penyelesaian kemacetan di Pelabuhan Ketapang tidak hanya bergantung pada penambahan kapal, tetapi membutuhkan pengelolaan seluruh rantai pelayanan kendaraan.
"Selain faktor kapasitas kapal dan perbaikan dermaga, terdapat kendala operasional berupa keterbatasan kapasitas Kantong Parkir/RTK ALP yang dikelola BUMDes, yang hanya mampu menampung sekitar 85 unit kendaraan. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian truk terpaksa parkir di bahu jalan. Kami juga mencatat adanya kendala pada mekanisme ticketing melalui jasa pengurus truk," papar Purgana.
3. Pemerintah Optimalkan Operasional Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk
Untuk mengatasi kepadatan tersebut, KSOP Kelas III Tanjung Wangi memperkuat koordinasi dengan sejumlah pihak. Balai Pengelola Transportasi Darat atau BPTD, PT ASDP Indonesia Ferry, operator kapal, serta pemangku kepentingan lainnya dilibatkan dalam upaya memperlancar arus kendaraan.
Dari sisi kepelabuhanan, optimalisasi operasional kapal menjadi salah satu langkah yang dilakukan. Pengawasan terhadap kelaiklautan kapal juga terus dilakukan untuk memastikan armada yang beroperasi memenuhi persyaratan keselamatan.
Pengaturan pola sandar kapal turut disesuaikan dengan kondisi operasional di lapangan. Selain itu, pelayanan penerbitan Surat Persetujuan Berlayar atau SPB tetap dipastikan berjalan sesuai ketentuan keselamatan pelayaran.
Langkah tersebut penting karena percepatan antrean tidak boleh dilakukan dengan mengabaikan aspek keselamatan. Kapal yang beroperasi harus tetap memenuhi persyaratan teknis, sementara proses keberangkatan harus mengikuti prosedur yang telah ditetapkan.
4. Dua Kapal Tambahan Disiapkan untuk Menambah Kapasitas
Salah satu strategi yang disiapkan untuk mempercepat penguraian antrean adalah menambah armada penyeberangan. KMP Jatra I dijadwalkan tiba pada Selasa sekitar pukul 02.00 WIB. Setelah itu, KMP Port Link dijadwalkan tiba pada pukul 07.30 WIB.
Kehadiran kapal tambahan diharapkan dapat meningkatkan kapasitas angkut kendaraan dari Ketapang menuju Gilimanuk. Tambahan armada menjadi penting karena volume truk logistik yang tinggi membutuhkan kapasitas penyeberangan yang memadai agar antrean tidak kembali menumpuk.
Namun, penambahan kapal bukan berarti seluruh persoalan langsung selesai. Pengoperasian kapal tetap harus menyesuaikan kondisi dermaga, kedalaman perairan, serta aspek keselamatan lainnya.
"Rencana penambahan kapal dan optimalisasi fasilitas sandar diharapkan dapat meningkatkan kapasitas angkut sekaligus membantu mempercepat penguraian antrean. Namun, seluruh langkah operasional tetap harus memenuhi aspek keselamatan dan keamanan pelayaran," ujar Purgana.
5. Kondisi Dermaga Bulusan Turut Dikaji
Selain menambah kapal, pemerintah juga menyiapkan langkah untuk mengoptimalkan fasilitas sandar. Pada Selasa, 8 September 2026, direncanakan dilakukan survei bathimetri di sekitar Dermaga Bulusan.
Survei tersebut bertujuan mengetahui kondisi kedalaman perairan sekaligus posisi dolphin yang jatuh. Data dari survei akan digunakan sebagai bahan evaluasi keselamatan sebelum fasilitas tersebut dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas penyeberangan.
Dermaga Bulusan menjadi salah satu lokasi yang dikaji untuk mendukung rencana sandar KMP Port Link 7. Apabila kondisi fasilitas dan perairannya dinilai memenuhi persyaratan keselamatan, pemanfaatan dermaga tersebut dapat membantu meningkatkan fleksibilitas operasional penyeberangan.
Dengan demikian, upaya mengurai antrean tidak hanya dilakukan melalui penambahan armada, tetapi juga dengan mencari alternatif fasilitas yang dapat digunakan secara aman dan efektif.
6. Pengemudi Truk Diminta Ikuti Arahan Petugas
Di tengah upaya pemerintah mengurai kemacetan, pengemudi truk logistik dan pengguna jasa penyeberangan juga diminta berperan menjaga ketertiban. Pengendara diimbau mengikuti arahan petugas serta tidak menyerobot antrean.
Kedisiplinan pengguna jalan menjadi faktor penting karena antrean kendaraan dalam jumlah besar membutuhkan sistem pengaturan yang konsisten. Tindakan seperti berpindah jalur secara sembarangan atau menyerobot antrean justru dapat menghambat pergerakan kendaraan lainnya.
KSOP Kelas III Tanjung Wangi juga terus melakukan pemantauan terhadap kondisi lalu lintas kendaraan di kawasan pelabuhan. Koordinasi dengan berbagai instansi dilakukan untuk menyesuaikan langkah penanganan berdasarkan situasi terbaru di lapangan.
"Kami terus melakukan pemantauan dan berkoordinasi secara intensif dengan seluruh pemangku kepentingan guna memastikan kelancaran pelayanan serta keselamatan pelayaran di lintas Ketapang-Gilimanuk," tutup Purgana.