Skandal Hanania Travel: Kronologi Lengkap Dugaan Penipuan Umrah Rp 60 Miliar yang Bikin Ribuan Jemaah Gagal Berangkat

Kuatbaca.com - Kasus dugaan penipuan yang menyeret nama Hanania Travel menjadi sorotan setelah ribuan calon jemaah umrah gagal diberangkatkan ke Tanah Suci. Peristiwa ini tidak hanya menimbulkan kekecewaan besar, tetapi juga kerugian finansial yang diperkirakan mencapai sekitar Rp 60 miliar. Direktur Utama perusahaan tersebut, Ahmad Syah Farhan, akhirnya dilaporkan oleh para korban ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Metro Jaya pada Kamis malam, 28 Mei 2026.
Para jemaah yang berasal dari berbagai daerah mengaku sudah melakukan pembayaran penuh bahkan jauh sebelum jadwal keberangkatan. Namun, harapan untuk beribadah ke Makkah berubah menjadi kekecewaan mendalam ketika keberangkatan dibatalkan secara sepihak.
1. Strategi Promosi Hanania Travel yang Meyakinkan Banyak Korban
Sebelum kasus ini mencuat, Hanania Travel dikenal sebagai penyelenggara perjalanan umrah yang cukup dipercaya oleh sebagian masyarakat. Reputasi positif terbentuk dari strategi pemasaran berbasis rekomendasi mulut ke mulut, testimoni jemaah sebelumnya, hingga promosi melalui media sosial.
Banyak calon jemaah merasa yakin karena melihat ulasan yang tampak positif serta promosi yang terlihat profesional. Tidak sedikit pula influencer yang ikut mempromosikan paket perjalanan yang ditawarkan.
Salah satu jemaah, Joko (47), mengungkapkan bahwa harga yang ditawarkan cukup bersaing dan menjadi salah satu alasan utama dirinya memilih agen tersebut.
“Promonya menarik dan secara cost memang murah ya dengan angka yang mereka tawarkan, plus Dubai 1 hari gitu. Dan memang marketing paling efektif kan mulut ke mulut ya, memang review-nya travel ini bagus. Jadi dari teman-teman yang udah merasakan servisnya mereka bagus, sehingga kita tertarik,” ujar Joko saat ditemui di Mapolda Metro Jaya.
2. Paket Umrah Murah dan Bonus Transit yang Menggoda
Hanania Travel menawarkan paket umrah dengan harga berkisar antara Rp 30 juta hingga Rp 35 juta per orang. Paket tersebut juga disebut-sebut memberikan bonus perjalanan transit di Dubai selama satu hari, yang membuat banyak calon jemaah semakin tertarik.
Skema harga yang dianggap kompetitif ini menjadi daya tarik utama, terutama bagi jemaah yang mencari paket hemat namun tetap menjanjikan fasilitas tambahan. Namun, di balik penawaran tersebut, muncul dugaan adanya pengelolaan dana yang tidak transparan.
3. Pembayaran Besar dan Kepercayaan yang Terlanjur Terbangun
Banyak jemaah bahkan telah melakukan pelunasan penuh jauh sebelum jadwal keberangkatan. Salah satu korban, Mareta, mengaku telah membayar biaya perjalanan dalam jumlah besar setelah tergiur promo pelunasan cepat.
“Aku tergiur tuh, terus aku lunasi cepat jadi aku Rp 115 juta total aku bayarkan untuk keluarga,” tutur Mareta.
Tidak hanya itu, sebagian jemaah juga merupakan pelanggan lama yang sebelumnya pernah berangkat umrah melalui agen yang sama. Hal ini semakin memperkuat rasa percaya mereka terhadap Hanania Travel.
4. Tanda-Tanda Kejanggalan Menjelang Keberangkatan
Kecurigaan mulai muncul ketika jadwal keberangkatan kloter Syawal yang direncanakan antara akhir Maret hingga April 2026 tiba-tiba dibatalkan secara sepihak. Pembatalan tersebut terjadi sekitar 18 Maret, atau hanya delapan hari sebelum keberangkatan grup pertama.
Pihak travel kemudian memberikan alasan bahwa keberangkatan tidak dapat dilakukan karena kondisi darurat atau force majeure yang berkaitan dengan situasi konflik di kawasan Timur Tengah.
5. Alasan Force Majeure dan Klaim Situasi Perang
Dalam penjelasannya kepada jemaah, Hanania Travel menyebut bahwa pembatalan terjadi akibat kondisi perang di Iran yang berdampak pada jalur penerbangan dan transit di Dubai. Kondisi ini disebut membuat perjalanan tidak memungkinkan untuk dilakukan sesuai rencana.
Mareta menuturkan bahwa alasan tersebut menjadi dasar pembatalan keberangkatan.
“Dibilang ada force majeure, karena perang Iran dan kondisi Timur Tengah. Karena kan kita lewat Dubai transitnya sebagian besar, jadi kami dibilang karena itu tidak bisa pergi,” ucap Mareta.
Pihak travel juga mengklaim bahwa sebagian dana telah digunakan untuk membantu sekitar 300 jemaah lain yang disebut sempat tertahan di Jeddah selama lebih dari 10 hari akibat situasi tersebut.
6. Ribuan Jemaah Melapor ke Polisi
Merasa dirugikan dan tidak mendapatkan kejelasan, ribuan jemaah akhirnya mengambil langkah hukum. Laporan resmi dilayangkan ke Polda Metro Jaya dengan dugaan penipuan dan penggelapan dana perjalanan ibadah.
Total kerugian sementara yang dihimpun dari para korban mencapai sekitar Rp 60 miliar, angka yang menunjukkan skala besar dari kasus ini.