
Kuatbaca.com - Gempa bumi kembali mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (26/9/2026) dini hari. Gempa berkekuatan magnitudo 4,9 tersebut terjadi ketika sebagian warga masih tertidur dan getarannya dirasakan di sejumlah wilayah Manggarai hingga Manggarai Barat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa terjadi pada pukul 03.39.29 Wita atau 02.39.29 WIB. Pusat gempa berada di laut dengan jarak sekitar 46 kilometer di utara Ruteng, Kabupaten Manggarai, pada kedalaman 9 kilometer. Data BMKG menempatkan episenter pada koordinat 8,23 derajat Lintang Selatan dan 120,31 derajat Bujur Timur.
Guncangan yang terjadi dini hari tersebut membuat sebagian warga terkejut. Sejumlah warga memilih segera keluar dari rumah setelah merasakan getaran yang cukup kuat.
1. Gempa M4,9 Terjadi Saat Warga Masih Terlelap
Guncangan gempa Flores pada Sabtu dini hari membuat suasana di sejumlah wilayah Manggarai berubah dalam waktu singkat. Warga yang sedang tidur langsung terbangun setelah merasakan rumah dan benda-benda di sekitarnya bergetar.
Sunardi, salah seorang warga Manggarai Barat, mengatakan dirinya bersama warga lainnya langsung keluar rumah setelah merasakan guncangan.
"Gempa terjadi lagi, Goncangan yang begitu kuat. Kami semua lari keluar rumah," ujar Sunardi, warga Manggarai Barat.
Kesaksian serupa disampaikan warga lainnya bernama Beni. Ia menggambarkan getaran yang dirasakan saat gempa terjadi cukup kencang sehingga membuat warga kembali waspada terhadap aktivitas gempa susulan di Flores.
"Gempa lagi. Getaran kencang sekali," ujar Beni.
Peristiwa tersebut menjadi perhatian karena kawasan Flores masih berada dalam periode aktivitas gempa susulan setelah gempa besar yang terjadi pada Agustus 2026.
2. Episenter Gempa Berada di Laut Utara Ruteng
Berdasarkan informasi BMKG, gempa M4,9 pada 26 September 2026 memiliki episenter di laut, sekitar 46 kilometer sebelah utara Ruteng, Manggarai. Kedalamannya tercatat 9 kilometer sehingga gempa tersebut termasuk gempa dangkal.
Koordinat episenter berada pada 8,23 derajat LS dan 120,31 derajat BT. Informasi BMKG juga menyebutkan masyarakat perlu tetap berhati-hati terhadap kemungkinan gempa susulan yang dapat terjadi setelah guncangan utama.
Lokasi gempa yang berada di laut tidak serta-merta berarti setiap guncangan akan menghasilkan tsunami. Potensi tsunami ditentukan oleh sejumlah parameter, termasuk kekuatan gempa, kedalaman, lokasi episenter, serta mekanisme pergerakan sumber gempa.
Untuk gempa yang terjadi pada Sabtu dini hari tersebut, hasil pemodelan BMKG menunjukkan tidak terdapat potensi tsunami.
"Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami," kata Kepala Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama.
Dengan demikian, warga di wilayah terdampak tetap perlu memperhatikan informasi resmi kebencanaan, tetapi tidak perlu menyebarkan informasi yang belum terverifikasi mengenai ancaman tsunami.
3. Gempa Flores Berkaitan dengan Aktivitas Flores Back-Arc Thrust
Selain lokasi dan kedalaman, BMKG juga menganalisis sumber serta mekanisme gempa yang mengguncang Flores. Gempa tersebut disebut sebagai gempa dangkal yang berkaitan dengan aktivitas Flores Back-Arc Thrust.
Arief Tyastama menjelaskan bahwa berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposentrumnya, gempa tersebut merupakan jenis gempa dangkal. Hasil analisis mekanisme sumber juga menunjukkan adanya mekanisme pergerakan naik atau thrust.
Flores Back-Arc Thrust merupakan salah satu struktur tektonik yang berperan dalam aktivitas kegempaan di kawasan Nusa Tenggara. Gempa besar M7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 juga oleh BMKG dikaitkan dengan aktivitas tektonik di Flores Back-Arc Thrust dan memiliki mekanisme sesar naik.
Karakteristik tersebut menjelaskan mengapa aktivitas gempa masih dapat terjadi setelah gempa utama berlalu. Setelah gempa besar, energi tektonik pada sistem patahan dapat memicu rangkaian gempa susulan dengan kekuatan yang beragam.
4. Gempa M4,9 Masih Menjadi Bagian dari Rangkaian Susulan
Gempa yang mengguncang Flores pada Sabtu dini hari bukan merupakan kejadian yang berdiri sendiri. BMKG menyebut aktivitas tersebut masih termasuk rangkaian gempa susulan setelah gempa utama berkekuatan M7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026.
Gempa utama tersebut terjadi pada pukul 04.58.23 WIB dan berdasarkan pemutakhiran BMKG memiliki magnitudo 7,7 dengan kedalaman sekitar 15 kilometer. Episenternya berada di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, Flores, NTT.
Gempa utama pada Agustus lalu juga memicu tsunami yang terdeteksi di sejumlah lokasi. BMKG mencatat gelombang tsunami teramati, antara lain, di Labuan Bajo, Sikka, dan Dompu setelah gempa tersebut.
Dalam perkembangan berikutnya, aktivitas gempa susulan terus dipantau BMKG. Pada 15 September 2026, BMKG menyatakan aktivitas susulan pascagempa M7,7 telah memasuki fase peluruhan secara signifikan. Hingga 30 hari setelah gempa utama, BMKG mencatat 15.722 gempa susulan dengan magnitudo antara M0,9 hingga M6,2, termasuk 190 gempa yang dirasakan masyarakat.
Angka tersebut menunjukkan tingginya aktivitas seismik yang mengikuti gempa utama Flores. Namun, pola aktivitas gempa susulan dapat berubah dari waktu ke waktu sehingga pemantauan tetap diperlukan.
5. Warga Manggarai Diminta Tetap Waspada
Guncangan M4,9 yang kembali dirasakan warga menunjukkan bahwa aktivitas seismik di kawasan Flores masih perlu mendapat perhatian. Meski gempa terbaru tidak berpotensi tsunami, masyarakat tetap disarankan waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan.
BMKG melalui informasi gempa terkini juga mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap gempa susulan yang mungkin terjadi. Informasi mengenai perkembangan gempa sebaiknya diperoleh melalui kanal resmi BMKG untuk menghindari kepanikan akibat kabar yang tidak dapat dipastikan kebenarannya.
Kewaspadaan terutama penting bagi warga yang tinggal atau beraktivitas di bangunan yang sebelumnya mengalami kerusakan akibat gempa. Bangunan yang mengalami retak atau kerusakan struktural sebaiknya tidak digunakan sebelum dinyatakan aman oleh pihak yang berwenang.
Pada saat gempa terjadi, masyarakat dapat melakukan langkah keselamatan sederhana seperti berlindung di bawah meja yang kokoh, menjauh dari kaca dan benda yang berpotensi jatuh, serta keluar menuju tempat terbuka setelah guncangan berhenti apabila kondisi memungkinkan.
6. Aktivitas Gempa Flores Terus Dipantau BMKG
Rangkaian gempa Flores menjadi perhatian BMKG sejak gempa besar M7,7 mengguncang wilayah tersebut pada 15 Agustus 2026. Dalam beberapa pekan setelahnya, gempa susulan dengan berbagai kekuatan masih tercatat di sekitar Flores dan wilayah sekitarnya.
BMKG sebelumnya juga mencatat sejumlah gempa susulan yang dirasakan cukup kuat oleh masyarakat. Salah satunya gempa M5,7 pada 19 Agustus 2026 yang dirasakan di Manggarai, Manggarai Barat, dan Nagekeo. Beberapa hari kemudian, gempa M5,7 lainnya tercatat di wilayah Manggarai Timur.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas tektonik pascagempa besar dapat berlangsung dalam periode tertentu. Meski frekuensi gempa susulan telah mengalami penurunan menurut pemantauan BMKG pada pertengahan September, masyarakat tetap diminta mengikuti informasi terbaru karena aktivitas gempa dapat berubah.
Gempa M4,9 yang terjadi pada 26 September 2026 menjadi salah satu catatan terbaru dalam rangkaian aktivitas tersebut. Tidak adanya potensi tsunami berdasarkan pemodelan BMKG menjadi informasi penting bagi masyarakat, sementara kewaspadaan terhadap gempa susulan tetap diperlukan.