
Kuatbaca.com - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA menyambut positif rencana pengalihan kepemilikan saham PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) kepada pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Bagi WIKA, langkah tersebut berpotensi memberikan dampak positif terhadap kondisi keuangan perseroan karena selama ini investasi melalui PSBI turut memengaruhi kinerja konsolidasi perusahaan.
Pemerintah sebelumnya merencanakan pengambilalihan 60 persen kepemilikan saham KCIC yang berada di tangan konsorsium BUMN melalui PSBI. Sementara itu, 40 persen saham lainnya tetap berada pada konsorsium China, Beijing Yawan HSR Co. Ltd. Pemerintah menyebut proses pengalihan saham tersebut masih melalui tahapan finalisasi dan evaluasi.
Bagi WIKA, perubahan struktur kepemilikan tersebut menjadi perhatian penting karena perseroan merupakan salah satu pemegang saham PSBI. Selama investasi tersebut masih berada dalam struktur perusahaan, kinerja KCIC ikut memberikan pengaruh terhadap laporan keuangan WIKA.
1. Return Negatif KCIC Menekan Kinerja Keuangan WIKA
Direktur Keuangan WIKA Mulyadi menjelaskan bahwa kondisi keuangan KCIC selama ini memberikan tekanan terhadap laporan keuangan perseroan. Salah satu penyebabnya adalah imbal hasil investasi atau return dari proyek kereta cepat yang masih negatif.
Karena WIKA memiliki kepentingan di PSBI, dampak kinerja KCIC kemudian tercermin dalam laporan keuangan secara konsolidasi. Situasi tersebut membuat investasi yang diharapkan memberikan manfaat jangka panjang justru menjadi salah satu faktor yang menekan kinerja keuangan perusahaan dalam periode berjalan.
"Terkait bagaimana jika kereta cepat nanti diambil alih oleh pemerintah, ini memberikan dampak positif bagi WIKA. Jadi saat ini konsolidasi keuangan, WIKA melakukan konsolidasi berdampak ke ekuitas negatif karena saat ini kereta cepat itu menghasilkan return yang negatif," ujar Mulyadi dalam paparan publik WIKA secara virtual pada Kamis, 1 Oktober 2026.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pengalihan saham KCIC kepada pemerintah dipandang penting dari perspektif keuangan WIKA. Jika kepemilikan tersebut tidak lagi berada dalam struktur PSBI yang dimiliki WIKA, pengaruh kinerja negatif KCIC terhadap laporan keuangan perseroan berpotensi berubah.
2. Konsolidasi KCIC Ikut Mempengaruhi Laporan Laba Rugi
Kepemilikan WIKA di PSBI membuat kinerja investasi tersebut perlu diperhitungkan dalam laporan keuangan perseroan. Ketika KCIC menghasilkan return negatif, bagian kinerja tersebut turut memberikan tekanan terhadap laporan keuangan WIKA.
Mulyadi menjelaskan bahwa posisi WIKA sebagai bagian dari pemegang saham membuat dampak negatif tersebut masuk dalam proses konsolidasi. Dengan kata lain, persoalan kinerja investasi KCIC bukan hanya berkaitan dengan proyek kereta cepat, tetapi juga memiliki konsekuensi terhadap kondisi keuangan salah satu BUMN konstruksi tersebut.
"Karena WIKA menjadi bagian dari pemegang saham, maka secara konsolidasi WIKA membukukan bagian dari konsolidasi yang negatif, sehingga di profit and loss WIKA, kinerja keuangan WIKA itu berdampak negatif atas konsolidasi kereta cepat," ungkap Mulyadi.
Pernyataan tersebut menjelaskan mengapa rencana pengalihan kepemilikan KCIC menjadi perhatian bagi WIKA. Perubahan struktur kepemilikan diharapkan dapat mengurangi tekanan yang selama ini berasal dari konsolidasi kinerja KCIC.
3. Pengambilalihan KCIC Diharapkan Memperbaiki Kinerja WIKA
Mulyadi menyatakan bahwa apabila pengambilalihan saham KCIC oleh pemerintah dapat direalisasikan, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kinerja keuangan WIKA secara langsung maupun tidak langsung.
"Sehingga apabila kereta cepat ini diambil alih oleh pemerintah ataupun nanti dari kementerian yang ditunjuk oleh pemerintah, maka secara langsung atau tidak langsung akan meningkatkan kinerja keuangan WIKA. Dan mudah-mudahan pengambilalihan kereta cepat ini bisa terjadi juga di tahun 2026, sehingga nanti akhir 2026 kinerja keuangan WIKA akan semakin bagus lagi," jelasnya.
Harapan tersebut berkaitan dengan upaya WIKA memperbaiki struktur keuangan dan menyelesaikan berbagai kewajiban perseroan. WIKA sendiri tengah menjalankan strategi restrukturisasi, termasuk rencana divestasi sejumlah aset secara bertahap hingga 2028. Perseroan menargetkan nilai divestasi sekitar Rp5,5 triliun sebagai bagian dari strategi restrukturisasi keuangan.
Dengan demikian, pengalihan saham KCIC bukan satu-satunya langkah yang berkaitan dengan pemulihan kondisi keuangan WIKA. Perseroan juga menjalankan sejumlah strategi lain untuk memperkuat kondisi keuangan dan memenuhi kewajiban kepada kreditur.
4. Kepemilikan PSBI dan Struktur Saham KCIC
PSBI merupakan kendaraan konsorsium BUMN Indonesia yang selama ini memegang 60 persen saham KCIC. Dalam struktur PSBI, terdapat beberapa perusahaan BUMN yang memiliki kepentingan, termasuk PT Kereta Api Indonesia (Persero), WIKA, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, dan perusahaan perkebunan negara.
Adapun 40 persen saham KCIC lainnya berada pada konsorsium China. Dengan skema tersebut, proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh selama ini dijalankan melalui kerja sama antara pemegang saham dari Indonesia dan China.
Rencana pengalihan 60 persen saham yang berada di PSBI kepada pemerintah akan mengubah posisi kepemilikan tersebut. Berdasarkan informasi pemerintah, porsi tersebut akan berada dalam kendali unit Special Mission Vehicle (SMV) di bawah Kementerian Keuangan. Pemerintah juga menyatakan pengelolaan melalui skema tersebut tidak dimaksudkan menjadi beban langsung terhadap APBN.
5. Due Diligence Pengalihan Saham Masih Berjalan
Direktur Manajemen Risiko & Legal WIKA Vera Kirana mengatakan proses pengalihan saham PSBI masih melibatkan tahapan uji tuntas atau due diligence. Proses tersebut dilakukan bersama para pemegang saham PSBI lainnya.
"Jadi untuk kepemilikan saham di PSBI itu WIKA bersama KAI, demikian juga PT Perkebunan Nusantara dan Jasa Marga, itu saat ini sudah melakukan due diligence dan sebagaimana proses yang ada saat ini, kami sesama pemegang saham senantiasa berkoordinasi dengan Danantara, BP BUMN, maupun ke Kementerian Keuangan. Saat ini sudah berproses untuk due diligence-nya," tutur Vera.
Due diligence menjadi tahapan penting sebelum transaksi atau pengalihan saham diselesaikan. Pemerintah sebelumnya juga menyampaikan bahwa evaluasi mencakup aspek finansial, bisnis, operasional, dan hukum, termasuk evaluasi nilai saham PSBI yang akan dialihkan.
Artinya, meskipun arah kebijakan pengambilalihan sudah jelas, penyelesaian administrasi dan proses penilaian tetap menjadi bagian penting sebelum seluruh transaksi dapat dituntaskan.
6. Pengalihan Saham Whoosh Jadi Bagian dari Restrukturisasi WIKA
Bagi WIKA, perubahan kepemilikan KCIC memiliki kaitan dengan agenda perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan. Tekanan dari investasi KCIC menjadi salah satu faktor yang ingin diminimalkan melalui perubahan struktur kepemilikan tersebut.
Di sisi lain, WIKA juga masih menjalankan sejumlah langkah restrukturisasi lainnya. Strategi divestasi aset senilai sekitar Rp5,5 triliun yang direncanakan hingga 2028 merupakan salah satu upaya perusahaan untuk mendukung penyelesaian kewajiban finansial.
Dengan berbagai langkah tersebut, perseroan berharap kondisi keuangannya dapat semakin sehat secara bertahap. Namun, dampak akhir terhadap laporan keuangan WIKA tetap bergantung pada penyelesaian pengalihan saham KCIC dan implementasi skema yang disepakati pemerintah.