Sopir Angkot Tangerang Terjepit Setoran dan Sepinya Penumpang, Sistem “Nembak” Jadi Pilihan

20 August 2026 18:44 WIB
6a86b5f4f13c3.jpg

1. Pendapatan Sopir Angkot Tangerang Makin Tertekan

Kondisi angkutan kota (angkot) tradisional di Tangerang menghadapi tantangan yang semakin berat. Di tengah lalu lintas yang tetap dipenuhi kendaraan umum, banyak sopir justru harus berjuang keras untuk mendapatkan pendapatan yang cukup bagi kebutuhan keluarga. Persaingan dengan transportasi online serta semakin banyaknya pilihan kendaraan yang dianggap lebih nyaman membuat jumlah penumpang angkot cenderung terbatas. Situasi tersebut membuat aktivitas menarik penumpang dari pagi hingga malam belum tentu menghasilkan pemasukan yang sebanding dengan waktu dan tenaga yang dikeluarkan. Bagi sebagian sopir, persoalannya bukan hanya mencari keuntungan, tetapi bagaimana memastikan biaya operasional seperti bahan bakar dan setoran kepada pemilik kendaraan tetap terpenuhi. Kondisi ini terlihat dari aktivitas sejumlah angkot yang masih harus menunggu penumpang di titik-titik keramaian, termasuk kawasan pusat perbelanjaan dan pasar. Ketika jumlah penumpang tidak menentu, pengemudi harus mencari cara agar tetap bisa membawa pulang uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

2. Setoran Harian dan Biaya Bensin Menggerus Penghasilan Sopir

Beban terbesar yang dirasakan sopir angkot berasal dari biaya operasional yang harus dikeluarkan setiap hari. Pengemudi angkot rute Cikokol–Kalideres, Sapri (50), misalnya, harus menyiapkan sekitar Rp 140.000 untuk setoran harian. Di luar angka tersebut, kebutuhan bahan bakar juga menjadi tanggung jawab pengemudi. Jika biaya bensin mencapai sekitar Rp 100.000 dalam sehari, seorang sopir setidaknya harus mendapatkan pemasukan Rp 240.000 hanya untuk menutup biaya dasar sebelum menghitung uang yang dapat dibawa pulang. Pendapatan sekitar Rp 350.000 sekalipun belum tentu membuat penghasilan bersih terasa memadai karena masih harus dikurangi kebutuhan operasional lainnya. Kondisi tersebut memperlihatkan betapa tipisnya selisih antara pendapatan kotor dan uang yang benar-benar menjadi penghasilan sopir. Persaingan dengan layanan transportasi online juga semakin terasa karena sebagian masyarakat memiliki alternatif perjalanan yang dianggap lebih praktis. Akibatnya, sopir angkot harus bekerja lebih lama untuk mengejar jumlah penumpang yang diperlukan agar target setoran harian dapat terpenuhi.

3. Ada Sopir yang Hanya Membawa Pulang Puluhan Ribu Rupiah

Tekanan serupa dialami Yudi (37), pengemudi angkot biru rute Pasar Serpong–Pasar Anyar. Dengan sistem setoran harian sekitar Rp 130.000 hingga Rp 140.000, pemasukan yang diperoleh dari penumpang terkadang tidak mampu menutup kebutuhan operasional. Dalam kondisi tertentu, perjalanan dari Serpong menuju Pasar Anyar hanya menghasilkan pemasukan yang sangat kecil. Ketika jumlah penumpang sedang sepi, pendapatan yang diperoleh bahkan bisa habis untuk membeli bahan bakar. Setelah bekerja sejak pagi hingga malam, Yudi terkadang hanya dapat membawa pulang sekitar Rp 50.000. Jumlah tersebut masih harus digunakan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga. Setelah dikurangi biaya parkir dan bahan bakar, uang yang tersisa semakin sedikit. Kondisi tersebut menjadi semakin berat karena Yudi memiliki tiga anak yang masih bersekolah, sementara kebutuhan keluarga tetap harus dipenuhi setiap hari. Situasi yang dialami para sopir angkot ini menggambarkan persoalan ekonomi pekerja transportasi konvensional yang sangat bergantung pada jumlah penumpang. Ketika penumpang berkurang, pendapatan mereka langsung ikut terdampak, sedangkan kewajiban setoran tetap berjalan.

4. Sistem “Nembak” Dipilih untuk Mengurangi Beban Saat Penumpang Sepi

Di tengah ketidakpastian pendapatan, sebagian pengemudi memilih pola setoran yang berbeda. Salah satunya adalah Iqbal (33), sopir angkot rute Cikokol–Pasar Serpong, yang menggunakan sistem “nembak”. Dalam sistem tersebut, jumlah setoran ditentukan berdasarkan jumlah perjalanan atau rit yang berhasil dilakukan. Iqbal menyebut satu rit dikenakan setoran sekitar Rp 80.000 sehingga tiga rit menghasilkan kewajiban setoran Rp 240.000. Pola ini dianggap lebih mudah diatur karena pengemudi dapat menyesuaikan jumlah perjalanan dengan kondisi di lapangan. Ketika penumpang sedang ramai, sopir bisa mengejar beberapa rit untuk memenuhi target. Sebaliknya, saat kondisi sepi, sistem berdasarkan rit dinilai memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai beban yang harus ditanggung. Bagi pengemudi seperti Iqbal, pilihan tersebut bukan semata-mata soal mencari keuntungan lebih besar, tetapi strategi agar tetap memiliki uang yang bisa dibawa pulang setelah menyelesaikan pekerjaan. Sistem “nembak” menjadi salah satu cara yang dipilih sopir untuk menghadapi kondisi pendapatan yang tidak stabil.

5. Masa Depan Sopir Angkot Tangerang di Tengah Persaingan Transportasi Modern

Persoalan yang dialami sopir angkot Tangerang menunjukkan bahwa transportasi konvensional masih menghadapi tantangan besar di tengah perubahan kebiasaan masyarakat. Kehadiran transportasi online, kendaraan pribadi, serta layanan transportasi umum yang semakin beragam membuat angkot harus bersaing mendapatkan penumpang. Di sisi lain, sopir tetap menghadapi biaya tetap berupa setoran dan pengeluaran operasional yang tidak otomatis turun ketika jumlah penumpang berkurang. Kondisi tersebut membuat sebagian pengemudi mengambil langkah bertahan, mulai dari memperpanjang jam kerja hingga memilih sistem setoran yang dianggap lebih sesuai dengan kondisi pendapatan. Jika situasi ini terus berlangsung, keberlanjutan profesi sopir angkot dapat menjadi persoalan tersendiri, terutama bagi mereka yang menjadi tulang punggung keluarga. Perbaikan layanan, penataan rute, dukungan terhadap pengemudi, serta integrasi angkot dengan sistem transportasi modern dapat menjadi salah satu jalan keluar agar angkutan konvensional tetap memiliki tempat. Bagi para sopir, yang paling penting bukan sekadar mempertahankan keberadaan angkot, tetapi memastikan pekerjaan tersebut masih mampu memberikan penghasilan yang layak untuk memenuhi kebutuhan hidup.

EkonomiRakyat
TransportasiUmum
AngkotTangerang

Fenomena Terkini






Trending