Rupiah Diprediksi Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, Investor Asing Dinilai Mulai Khawatir

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diprediksi masih berada dalam tekanan dan berpotensi menembus level Rp 18.000 per dolar AS dalam waktu dekat. Bahkan, sejumlah analis memperkirakan pelemahan mata uang Garuda bisa berlanjut hingga menyentuh kisaran Rp 18.200.
Analis komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah bukan hanya dipengaruhi faktor teknikal pasar atau kebijakan suku bunga Bank Indonesia, tetapi juga persoalan fundamental ekonomi nasional yang belum terselesaikan.
Menurutnya, ketergantungan Indonesia terhadap impor energi, khususnya minyak mentah, menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya tekanan terhadap rupiah.
Beban Impor Minyak dan Subsidi Dinilai Menekan Rupiah
Ibrahim menjelaskan asumsi harga minyak dalam APBN saat ini dinilai sudah tidak sesuai dengan kondisi pasar global. Ketika harga minyak dunia berada di atas US$ 90 per barel dan kurs rupiah mendekati Rp 18.000 per dolar AS, pemerintah harus mengeluarkan dana lebih besar untuk kebutuhan impor energi.
Sebagian besar impor minyak mentah tersebut juga berkaitan dengan subsidi energi yang terus membebani anggaran negara. Kondisi itu disebut memperbesar tekanan terhadap defisit transaksi berjalan serta kebutuhan dolar AS di dalam negeri.
Selain itu, kebutuhan perusahaan-perusahaan besar untuk membagikan dividen kepada investor asing turut meningkatkan permintaan dolar. Situasi ini dinilai mempersempit pasokan valuta asing di pasar domestik sehingga mempercepat pelemahan rupiah.
Investor Mulai Alihkan Dana ke Dolar AS
Di tengah ketidakpastian global, pergerakan harga emas dunia disebut masih cenderung fluktuatif. Namun penguatan dolar AS membuat sebagian investor memilih memindahkan aset mereka dari instrumen logam mulia ke mata uang dolar demi mengejar keuntungan jangka pendek.
Fenomena tersebut ikut memperkuat posisi dolar AS terhadap rupiah. Ibrahim menilai momentum penguatan dolar saat ini lebih menarik bagi investor dibandingkan instrumen investasi berbasis emas.
Kebijakan Ekspor Satu Pintu Dinilai Picu Ketidakpastian
Rencana pemerintah menerapkan sistem ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) juga menjadi sorotan pelaku pasar. Kebijakan itu disebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor asing karena dianggap menambah ketidakpastian regulasi.
Walau tujuan kebijakan tersebut dinilai baik untuk menekan praktik ekspor ilegal dan manipulasi dokumen perdagangan, implementasinya dianggap terlalu cepat di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil.
Menurut Ibrahim, sejumlah perusahaan tambang yang telah memiliki kontrak jangka panjang dengan mitra luar negeri berpotensi menghadapi tantangan baru akibat perubahan mekanisme ekspor tersebut.
Rupiah Berpotensi Mengarah ke Rp 19.000
Pandangan serupa disampaikan Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira. Ia menilai pelemahan rupiah berpotensi semakin cepat apabila level psikologis Rp 18.000 per dolar AS berhasil ditembus pasar.
Bhima mengatakan setelah melewati batas tersebut, tekanan terhadap rupiah dapat meningkat hingga mendekati Rp 19.000 per dolar AS karena sentimen negatif investor akan semakin besar.
Ia menilai para investor asing masih mempertanyakan konsistensi kebijakan ekonomi pemerintah, terutama terkait kebijakan ekspor satu pintu yang diumumkan tanpa proses sosialisasi yang memadai kepada pelaku usaha.
Kondisi Fiskal dan Program Pemerintah Jadi Sorotan
Selain persoalan regulasi, pelaku pasar juga disebut mencermati kondisi fiskal Indonesia. Kekhawatiran terhadap potensi pelebaran defisit APBN menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Bhima menyoroti besarnya anggaran subsidi energi serta sejumlah program pemerintah yang membutuhkan pembiayaan besar. Menurutnya, efektivitas program-program tersebut masih menjadi pertanyaan di kalangan pelaku pasar.
Situasi itu membuat investor cenderung lebih berhati-hati dalam menempatkan modal di Indonesia, terutama di tengah tekanan ekonomi global dan penguatan dolar AS yang masih berlangsung.