Rekor Surplus Neraca Perdagangan Indonesia Berlanjut, Tembus 72 Bulan Berturut-Turut hingga April 2026

3 June 2026 08:30 WIB
neraca-perdagangan-september-surplus-us-342-miliar_169.jpeg

Kuatbaca.com - Kinerja perdagangan luar negeri Indonesia kembali menunjukkan hasil positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang Indonesia masih berada di zona hijau pada April 2026 dengan surplus sebesar US$ 89,1 juta. Meski nilainya tidak sebesar beberapa bulan sebelumnya, capaian ini tetap menjadi sinyal bahwa aktivitas ekspor nasional masih mampu mengimbangi tingginya kebutuhan impor.

Surplus yang dibukukan pada April 2026 juga memperpanjang tren positif yang telah berlangsung selama enam tahun terakhir. Dengan tambahan surplus tersebut, Indonesia kini berhasil mempertahankan catatan surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut tanpa terputus sejak Mei 2020.

Pencapaian ini menjadi salah satu indikator penting yang menunjukkan daya saing produk ekspor Indonesia masih cukup kuat di pasar internasional, meskipun kondisi ekonomi global masih dibayangi berbagai tantangan seperti perlambatan pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara dan ketidakpastian geopolitik dunia.

1. BPS Ungkap Rekor Surplus Perdagangan Terpanjang Indonesia

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa surplus perdagangan Indonesia pada April 2026 kembali memperpanjang rekor surplus yang telah berlangsung selama puluhan bulan berturut-turut.

"Pada April 2026 neraca perdagangan barang mencatat surplus sebesar US$ 89,1 juta. Neraca perdagangan Indonesia dengan demikian telah mencatatkan surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020," kata Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik Pudji Ismartini dalam konferensi pers, Selasa (2/6/2026).

Catatan tersebut menjadi salah satu periode surplus perdagangan terpanjang dalam sejarah Indonesia. Keberlanjutan surplus ini memberikan kontribusi positif terhadap stabilitas ekonomi nasional, terutama dalam menjaga cadangan devisa dan memperkuat nilai tukar rupiah.

2. Komoditas Nonmigas Jadi Penopang Utama Surplus

Jika ditelusuri lebih dalam, surplus perdagangan Indonesia pada April 2026 sebagian besar berasal dari sektor nonmigas. Nilai surplus nonmigas tercatat mencapai US$ 3,53 miliar dan menjadi penyeimbang terhadap tingginya defisit sektor energi.

Beberapa komoditas unggulan yang memberikan kontribusi terbesar terhadap surplus tersebut berasal dari kelompok lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral, serta produk besi dan baja. Ketiga sektor ini selama beberapa tahun terakhir memang menjadi andalan ekspor Indonesia ke berbagai negara tujuan.

Produk turunan kelapa sawit masih menjadi salah satu komoditas yang berkontribusi besar terhadap penerimaan ekspor nasional. Selain itu, meningkatnya permintaan terhadap produk logam dan hasil tambang juga membantu menjaga performa perdagangan Indonesia di tengah dinamika pasar global.

3. Defisit Migas Masih Menjadi Tantangan Besar

Di balik capaian surplus perdagangan, sektor minyak dan gas bumi (migas) masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Pada April 2026, neraca perdagangan migas kembali mengalami defisit sebesar US$ 3,44 miliar.

Defisit tersebut terutama berasal dari tingginya impor minyak mentah, produk hasil pengolahan minyak, dan gas alam. Kebutuhan energi domestik yang terus meningkat membuat Indonesia masih bergantung pada pasokan energi dari luar negeri.

Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor energi masih menjadi faktor yang menekan kinerja perdagangan nasional. Oleh karena itu, berbagai upaya peningkatan produksi energi dalam negeri dan pengembangan energi alternatif dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan impor dalam jangka panjang.

4. Surplus Januari-April 2026 Capai US$ 5,64 Miliar

Secara akumulatif, kinerja perdagangan Indonesia sepanjang empat bulan pertama tahun 2026 juga menunjukkan hasil yang cukup solid. Neraca perdagangan Januari hingga April 2026 tercatat surplus sebesar US$ 5,64 miliar.

Menurut BPS, capaian tersebut masih ditopang oleh kuatnya kinerja ekspor nonmigas yang menghasilkan surplus jauh lebih besar dibandingkan defisit sektor energi.

"Surplus sepanjang Januari hingga April 2026 ini ditopang oleh surplus komoditas non migas yaitu sebesar US$ 14,16 miliar. Sementara komoditas migas masih mengalami defisit sebesar US$ 8,52 miliar," tambah Pudji.

Data tersebut memperlihatkan bahwa sektor nonmigas tetap menjadi fondasi utama perdagangan luar negeri Indonesia. Tanpa kontribusi sektor ini, kinerja perdagangan nasional berpotensi mengalami tekanan yang lebih besar akibat tingginya impor energi.

5. Ekspor dan Impor Sama-Sama Mengalami Kenaikan

Surplus perdagangan pada April 2026 terjadi karena nilai ekspor Indonesia masih sedikit lebih tinggi dibandingkan nilai impor. BPS mencatat total ekspor Indonesia mencapai US$ 25,30 miliar selama April 2026.

Jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, nilai ekspor tersebut meningkat sekitar 21,98 persen. Kenaikan ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap produk Indonesia di pasar internasional masih cukup baik.

Di sisi lain, impor Indonesia juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Nilai impor pada April 2026 tercatat mencapai US$ 25,21 miliar atau naik 22,49 persen dibandingkan April 2025.

Peningkatan impor umumnya dipengaruhi oleh kebutuhan bahan baku industri, barang modal, serta kebutuhan energi nasional yang terus meningkat. Kondisi ini juga dapat menjadi indikasi bahwa aktivitas produksi dan investasi dalam negeri masih bergerak aktif.

neraca perdagangan
bps

Fenomena Terkini






Trending