
Pasar keuangan Indonesia mengalami tekanan setelah kabar pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI). Pada perdagangan Senin (27/7/2026), nilai tukar rupiah melemah hingga menembus level Rp 18.009 per dolar Amerika Serikat (AS), sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah. Menanggapi kondisi tersebut, Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan bahwa Bank Indonesia tetap berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan nasional di tengah meningkatnya gejolak pasar.
Usai menghadiri rapat koordinasi bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta, Pjs Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah tetap menjadi salah satu prioritas utama bank sentral. Menurutnya, Bank Indonesia akan terus menjalankan berbagai langkah yang selama ini diterapkan untuk menjaga kestabilan pasar keuangan. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons atas meningkatnya volatilitas pasar setelah pengunduran diri Perry Warjiyo dari kursi Gubernur BI.
Perdagangan pada Senin (27/7/2026) mencatat tekanan cukup besar terhadap aset keuangan domestik. Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 46 poin atau sekitar 0,26 persen menjadi Rp18.009 per dolar AS. Posisi tersebut merupakan level terlemah dalam tujuh hari perdagangan terakhir. Di saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga berakhir di zona negatif, mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap perkembangan ekonomi dan kebijakan moneter di Indonesia setelah pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan intervensi besar-besaran di pasar valuta asing, Destry menjelaskan bahwa Bank Indonesia tetap menjalankan strategi stabilisasi sebagaimana yang telah dilakukan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa bank sentral memilih menjaga kesinambungan kebijakan moneter selama masa transisi kepemimpinan. Dengan pendekatan tersebut, BI berupaya menjaga kepercayaan pelaku pasar sekaligus memastikan kondisi likuiditas dan stabilitas sistem keuangan tetap terkendali di tengah meningkatnya tekanan eksternal maupun domestik.
Sejumlah pelaku pasar menilai pengunduran diri Perry Warjiyo menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen investor pada perdagangan awal pekan. Pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia terjadi di tengah kondisi ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian, sehingga memunculkan kekhawatiran mengenai arah kebijakan moneter ke depan. Situasi tersebut turut memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah serta pasar saham domestik yang mengalami tekanan sejak kabar pengunduran diri tersebut diumumkan.
Selain faktor domestik, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, masih menjadi perhatian investor internasional. Kondisi tersebut meningkatkan permintaan terhadap aset-aset yang dianggap lebih aman, sehingga memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Di tengah tantangan tersebut, sinergi antara pemerintah, Bank Indonesia, dan otoritas sektor keuangan diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional serta memulihkan kepercayaan pasar dalam jangka menengah.