
Kuatbaca.com - Minat investor global terhadap instrumen keuangan Indonesia kembali menunjukkan tren positif. Hal ini tercermin dari keberhasilan Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara atau Danantara dalam menerbitkan obligasi global senilai US$ 1,5 miliar atau setara sekitar Rp26,5 triliun.
Penerbitan surat utang tersebut menjadi salah satu pencapaian penting bagi Danantara yang baru berdiri sebagai lembaga pengelola investasi strategis nasional. Respon pasar yang sangat tinggi memperlihatkan bahwa investor internasional masih memandang Indonesia sebagai negara dengan prospek ekonomi yang menjanjikan di tengah ketidakpastian global.
Keberhasilan ini sekaligus menjadi sinyal positif bagi pasar keuangan nasional bahwa instrumen investasi yang diterbitkan Indonesia masih memiliki daya tarik kuat di mata investor asing.
1. Permintaan Investor Melonjak hingga Tiga Kali Lipat
Kesuksesan penerbitan obligasi Danantara terlihat dari tingginya jumlah pemesanan yang masuk selama masa penawaran. Total permintaan investor tercatat mencapai sekitar US$ 4,6 miliar atau lebih dari Rp81 triliun.
Angka tersebut jauh melampaui nilai obligasi yang diterbitkan, sehingga mencatatkan kondisi oversubscribe atau kelebihan permintaan hingga tiga kali lipat dari jumlah yang ditawarkan.
Fenomena oversubscribe biasanya menjadi indikator bahwa instrumen investasi tersebut mendapatkan tingkat kepercayaan tinggi dari pasar. Semakin besar permintaan yang masuk, semakin kuat pula keyakinan investor terhadap kemampuan penerbit dalam memenuhi kewajibannya di masa mendatang.
Keberhasilan ini juga mendapat perhatian sejumlah media internasional yang menyoroti pencapaian Danantara dalam memasuki pasar obligasi global.
2. Yield Rendah Menjadi Indikator Tingginya Kepercayaan Pasar
Selain tingginya permintaan, indikator lain yang menunjukkan keberhasilan penerbitan obligasi Danantara adalah tingkat imbal hasil atau yield yang relatif rendah.
Danantara menerbitkan dua seri obligasi dengan tenor berbeda, yaitu lima tahun dengan yield 5,35 persen dan tenor 10 tahun dengan yield 5,95 persen.
Dalam dunia investasi, yield yang rendah pada instrumen surat utang umumnya menunjukkan bahwa investor memandang risiko investasi tersebut relatif kecil. Sebaliknya, apabila tingkat kepercayaan rendah, investor biasanya akan meminta imbal hasil yang jauh lebih tinggi sebagai kompensasi risiko.
CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, menilai capaian tersebut menjadi bukti nyata bahwa investor global masih memiliki keyakinan kuat terhadap perekonomian Indonesia.
"Bond kita ini memang sangat sukses, dilihat dari segi permintaannya, dilihat dari segi yield-nya yang relatif rendah. Karena kalau mereka tidak percaya, pastinya mereka minta yield premium yang sangat tinggi, ini tidak mereka minta. Bahkan kita lihat yield-nya sangat-sangat kompetitif sekali."
3. Danantara Buka Peluang Terbitkan Obligasi Hingga Tenor 30 Tahun
Melihat tingginya minat pasar, Danantara tidak menutup kemungkinan untuk kembali menerbitkan obligasi global dalam jangka waktu yang lebih panjang.
Menurut Rosan, investor menunjukkan ketertarikan yang besar terhadap instrumen investasi jangka panjang karena menilai fundamental ekonomi Indonesia masih berada pada jalur yang stabil.
Potensi penerbitan obligasi dengan tenor hingga 30 tahun bahkan mulai dipertimbangkan sebagai salah satu opsi pendanaan di masa mendatang.
"Rencananya kita kalau menerbitkan obligasi, kita akan lihat bisa sampai yang 30 tahun, karena appetite-nya itu sangat besar juga, karena mereka melihat bahwa, ya, Indonesia ini growth-nya ini relatif stabil. Iya memang ada naik turunnya, itu memang dalam cycle selalu ada, apalagi di tengah tension geopolitik, geoekonomi, itu adalah hal-hal yang memang selalu ada dalam cycle ekonomi kita."
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa investor global tidak hanya melihat kondisi ekonomi saat ini, tetapi juga memiliki keyakinan terhadap prospek pertumbuhan Indonesia dalam jangka panjang.