
Kuatbaca.com-Pemerintah Indonesia belum memfinalisasi isu-isu strategis yang akan dibahas dalam pertemuan perdana Comprehensive Strategic Dialogue (CSD) Indonesia-China yang akan digelar besok.
Direktur Asia Timur Kementerian Luar Negeri RI, Arifianto Sofiyanto mengatakan pembahasan masih dimatangkan oleh kedua negara. Hal itu disampaikan dalam press briefing Kemlu, Kamis (20/8/2026).
Menurutnya, CSD RI-China akan membahas lima pilar kemitraan strategis, yakni politik, ekonomi, hubungan antarmasyarakat, maritim, serta keamanan. Namun, untuk pertemuan kali ini, kedua negara sepakat memberikan penekanan lebih pada sektor ekonomi.
"Jadi sekarang kedua pihak sedang mematangkan isu-isu mana yang perlu dibahas oleh kedua Menlu," kata Arifianto.
Ia menegaskan, isu yang akan dibawa dalam CSD masih belum terfinalisasi. Pemerintah Indonesia juga belum memastikan apakah isu tertentu seperti Natuna maupun latihan militer akan menjadi pembahasan khusus.
"Jadi ada beberapa isu ini memang masih dipetakan sehingga belum terfinalisasi," ujarnya.
Terkait kerja sama maritim, Arifianto mengatakan hubungan kedua negara terus berkembang, mulai dari kerja sama Coast Guard, Navy-to-Navy Talks, hingga kunjungan pelabuhan. Kerja sama juga mencakup sektor perikanan, bio-ekonomi, serta research and development.
Sementara soal joint development di perairan Natuna yang sebelumnya masuk dalam joint statement kedua negara pada 2024, Arifianto tidak memberikan rincian perkembangan spesifik.
"Kalau untuk apa namanya bagaimana progresnya ini berbeda-beda. Tapi intinya kedua pihak terus berupaya menindaklanjuti understanding yang dicapai oleh kedua pemimpin negara," katanya.
Ia juga menyebut penguatan investasi dan perdagangan menjadi salah satu target utama CSD. Indonesia berharap kemitraan ekonomi dengan China semakin kuat, termasuk dalam peningkatan investasi China di Indonesia dan dukungan terhadap sektor prioritas pemerintah.
"Secara garis besar itu target utama dari kedua pihak bahwa memang keberlanjutan komitmen ini, penguatan kemitraan ekonomi masih masih terus kuat di tengah-tengah dinamika geo-ekonomi saat ini," ujar Arifianto.
Sementara itu, Juru Bicara Pertama Kemlu RI Yvonne Mewengkang meminta publik tidak mengaitkan jadwal CSD dan pertemuan 2+2 dengan latihan militer yang berlangsung sebelumnya.
"Jadi dan bukan merupakan respons terhadap suatu kegiatan tertentu," kata Yvonne. Ia juga mengingatkan agar isu tersebut tidak dibaca secara berlebihan.
"Dari kami, maybe kita jangan terlalu overread the calendar ya teman-teman," ujarnya.
Adapun pertemuan 2+2 RI-China akan digelar bersamaan dengan CSD. Pertemuan tersebut akan lebih berfokus pada isu politik, pertahanan, dan keamanan. Sementara CSD menjadi forum strategis yang cakupannya lebih luas.
Arifianto mengatakan hasil dan outcome pembahasan CSD nantinya akan disampaikan setelah pertemuan kedua negara.
"Jadi nanti mungkin kakak-kakak sekalian bisa langsung tahu outcome dan hasil pembahasan CSD itu seperti apa," pungkasnya.