Harga Emas Diprediksi Kembali ke Rp3 Juta per Gram, Kapan Terjadi?

9 September 2026 10:46 WIB
potret-butik-antam-saat-harga-emas-naik-1_169.jpeg

Kuatbaca.com- Harga emas Antam dalam beberapa hari terakhir bergerak melemah. Setelah sempat berada di level tinggi, harga logam mulia kembali terkoreksi dan mengalami penurunan hingga belasan ribu rupiah per gram. Meski demikian, pelemahan tersebut dinilai belum mengubah prospek emas dalam jangka menengah dan panjang.

Pada Selasa, 8 September 2026, harga emas Antam tercatat turun Rp10.000 menjadi Rp2.627.000 per gram. Sehari sebelumnya, harga emas juga telah mengalami penurunan Rp3.000 sehingga berada di level Rp2.637.000 per gram.

Pergerakan tersebut membuat sebagian investor mulai mempertimbangkan kembali strategi investasinya. Namun, koreksi harga justru dapat menjadi peluang bagi masyarakat yang ingin mengoleksi emas secara bertahap.

1. Harga Emas Diproyeksikan Bisa Menyentuh Rp3 Juta

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan harga emas Antam berpeluang kembali menembus Rp3 juta per gram. Proyeksi tersebut terutama berkaitan dengan ketidakpastian ekonomi global dan kondisi geopolitik yang masih belum sepenuhnya mereda.

Menurutnya, konflik yang berlangsung di kawasan Timur Tengah dan Eropa Timur berpotensi meningkatkan minat terhadap emas. Ketika ketidakpastian meningkat, investor biasanya mencari aset yang dianggap mampu menjadi pelindung nilai atau safe haven.

"Logam mulia kembali ke level Rp 3 juta, ya dalam akhir tahun kemungkinan besar akan terjadi. Karena hampir semua bank-bank besar ya, J.P. Morgan, Lehman Brothers, ya itu pun juga mengatakan bahwa kemungkinan besar permasalahan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur ini yang akan membuat harga emas dunia naik dan logam mulia pun juga akan kembali menguat," kata Ibrahim.

Dengan proyeksi tersebut, level Rp3 juta per gram masih menjadi salah satu target yang diperhatikan pelaku pasar menjelang penghujung 2026.

2. Konflik Geopolitik Jadi Salah Satu Pendorong

Ketidakpastian geopolitik menjadi salah satu faktor penting yang dapat memengaruhi harga emas dunia. Ketika risiko global meningkat, sebagian investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih defensif.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan permintaan emas, baik dalam bentuk logam mulia maupun instrumen investasi berbasis emas. Jika permintaan global meningkat sementara pasokan relatif terbatas, harga emas berpotensi mendapatkan tekanan naik.

Konflik di Timur Tengah dan Eropa Timur juga menjadi perhatian karena perkembangan situasinya dapat memengaruhi pasar keuangan global. Selain aspek keamanan, ketegangan geopolitik dapat berdampak pada harga energi, inflasi, nilai tukar, serta kebijakan bank sentral.

3. Suku Bunga The Fed Masih Menjadi Perhatian Investor

Selain faktor geopolitik, arah kebijakan Federal Reserve atau The Fed turut menentukan pergerakan harga emas. Data tenaga kerja Amerika Serikat yang menunjukkan perbaikan dapat membuat pasar memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.

Suku bunga tinggi biasanya menjadi tantangan bagi emas karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil berupa bunga. Ketika instrumen berbasis dolar menawarkan tingkat pengembalian yang menarik, sebagian investor dapat memilih aset tersebut dibandingkan emas.

Namun, kondisi tersebut tidak selalu berlangsung permanen. Jika tekanan inflasi mulai mereda dan The Fed membuka peluang pelonggaran kebijakan moneter, emas berpotensi kembali mendapatkan momentum positif.

Ibrahim menilai perkembangan inflasi dan kebijakan moneter AS akan tetap menjadi salah satu faktor utama yang perlu diperhatikan investor emas dalam beberapa bulan mendatang.

4. Harga Minyak Ikut Memengaruhi Prospek Emas

Faktor lain yang menjadi perhatian adalah kenaikan harga minyak mentah dunia. Harga minyak yang tinggi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi, terutama di Amerika Serikat.

Ketika harga energi meningkat, biaya produksi dan distribusi berbagai barang dapat ikut terdorong. Situasi tersebut berpotensi membuat inflasi bertahan lebih lama. Jika inflasi tetap tinggi, bank sentral dapat mempertahankan suku bunga tinggi untuk mengendalikan kenaikan harga.

"Pada saat inflasi tinggi, berarti Bank Sentral Amerika akan mempertahankan suku bunga tinggi. Dan ini yang membuat akhirnya apa, harga emas yang tadinya sempat mengalami lonjakan-lonjakan ke US$ 4.600, kemudian terpengaruh penurunan," ujar Ibrahim.

Artinya, pergerakan emas saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh permintaan safe haven, tetapi juga oleh hubungan antara inflasi, harga minyak, suku bunga, dan kekuatan dolar AS.

5. Koreksi Harga Emas Dinilai Bisa Menjadi Peluang

Di tengah penurunan harga emas dalam beberapa hari terakhir, investor justru dapat melihat kondisi tersebut dari perspektif yang berbeda. Koreksi dapat menjadi kesempatan untuk membeli secara bertahap, terutama bagi investor dengan orientasi jangka panjang.

Strategi pembelian bertahap dapat membantu mengurangi risiko membeli seluruh emas ketika harga sedang berada di titik tinggi. Investor dapat menentukan alokasi dana dan melakukan pembelian secara berkala sesuai kemampuan.

Ibrahim juga melihat pelemahan harga saat ini belum tentu mencerminkan perubahan fundamental jangka panjang. Ketidakpastian global, perkembangan geopolitik, kebijakan bank sentral, serta kondisi ekonomi dunia masih dapat menjadi faktor pendukung harga emas.

"Jadi turunnya harga emas ini sebenarnya harusnya dimanfaatkan oleh para investor atau masyarakat yang belum mengoleksi logam mulia untuk melakukan pembelian terhadap logam mulia," ujarnya.

harga emas
investasi
prediksi
logam mulia

Fenomena Terkini






Trending