
Kuatbaca.com - Harga bawang putih di sejumlah daerah di Indonesia terus mengalami kenaikan pada Juli 2026. Bahkan, di beberapa wilayah, harga komoditas ini telah menembus angka Rp100 ribu per kilogram. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena kenaikan harga terjadi secara luas dan berdampak langsung terhadap kebutuhan pokok masyarakat.
Berdasarkan pemantauan terbaru, kenaikan harga bawang putih terjadi di ratusan kabupaten dan kota di Indonesia. Selain dipengaruhi oleh faktor nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), lonjakan biaya logistik internasional juga disebut menjadi salah satu penyebab utama mahalnya harga bawang putih impor yang beredar di pasaran.
1. Kenaikan Harga Bawang Putih Terjadi di Sebagian Besar Wilayah Indonesia
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan harga bawang putih telah terjadi di 269 kabupaten dan kota atau sekitar 74,72 persen wilayah yang dipantau. Angka tersebut menjadikan bawang putih sebagai salah satu komoditas pangan dengan penyebaran kenaikan harga paling luas dibandingkan komoditas lainnya.
Kondisi ini menjadi perhatian karena bawang putih merupakan bahan pangan yang hampir selalu digunakan dalam berbagai kebutuhan rumah tangga maupun industri kuliner. Kenaikan harga secara merata berpotensi meningkatkan biaya produksi makanan dan memengaruhi pengeluaran masyarakat.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menegaskan bahwa situasi tersebut perlu mendapat perhatian serius.
Ia mengatakan:
"Bawang putih perlu mendapatkan perhatian secara serius karena sudah ada 269 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga bawang putih."
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah terus memantau perkembangan harga komoditas pangan untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas terhadap inflasi.
2. Harga Nasional Melebihi Acuan, Papua Pegunungan Tembus Rp100 Ribu
Secara nasional, rata-rata harga bawang putih kini berada di kisaran Rp42.611 per kilogram. Nilai tersebut telah melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) yang menjadi pedoman pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan.
Di sejumlah daerah, lonjakan harga bahkan jauh lebih tinggi. Papua Pegunungan tercatat menjadi wilayah dengan harga bawang putih tertinggi yang mencapai Rp100 ribu per kilogram.
Selain itu, beberapa daerah lain juga mengalami kenaikan signifikan, seperti Aceh Selatan dan Gorontalo Utara yang masing-masing mencatat harga sekitar Rp50 ribu per kilogram. Sementara di Kabupaten Deiyai, Papua Tengah, harga bawang putih mencapai Rp79 ribu per kilogram.
Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan:
"Kabupaten Aceh Selatan harganya Rp 50 ribu per kg, perubahan IPH-nya sudah 36,38% dan harga ini 31,6% di atas HAP. Selanjutnya Gorontalo Utara harganya Rp 50 ribu per kg, perubahan IPH-nya 20,98% dan harganya 31,58% di atas HAP. Kalau di Kabupaten Deiyai harganya Rp 79 ribu, dia 107,89% di atas HAP."
Perbedaan harga antardaerah dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk biaya distribusi dan akses transportasi menuju wilayah tujuan.
3. Impor Naik, Namun Harga Tetap Melambung
Menariknya, kenaikan harga bawang putih bukan disebabkan oleh berkurangnya pasokan impor.
Data menunjukkan bahwa sepanjang Januari hingga Juni 2026, volume impor bawang putih justru mengalami peningkatan sebesar 28,44 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Total impor mencapai sekitar 229,76 ribu ton.
Artinya, pasokan bawang putih secara nasional relatif tersedia. Namun, kenaikan biaya yang terjadi di sepanjang rantai distribusi membuat harga jual di tingkat konsumen tetap mengalami peningkatan.
Hal ini menunjukkan bahwa stabilitas harga pangan tidak hanya bergantung pada jumlah pasokan, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global dan biaya pengiriman internasional.
4. Pelemahan Rupiah dan Kenaikan Biaya Logistik Jadi Faktor Utama
Menurut BPS, salah satu penyebab utama naiknya harga bawang putih adalah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Karena sebagian besar kebutuhan bawang putih Indonesia masih berasal dari impor, perubahan nilai tukar secara langsung memengaruhi harga pembelian dari negara asal.
Selain itu, biaya logistik internasional juga mengalami kenaikan sehingga harga bawang putih impor menjadi lebih mahal ketika tiba di Indonesia.
Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan:
"Kenaikan harga dari bawang putih salah satunya ada faktor dari pelemahan nilai tukar rupiah dan meningkatnya biaya logistik internasional."
Kombinasi kedua faktor tersebut membuat biaya impor meningkat meskipun volume barang yang masuk ke Indonesia bertambah.
5. Krisis Selat Hormuz Ikut Berdampak pada Ongkos Pengiriman
Selain faktor nilai tukar, pemerintah juga menyoroti dampak situasi geopolitik terhadap biaya distribusi internasional.
Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Nawandaru, menjelaskan bahwa meningkatnya biaya logistik tidak terlepas dari kondisi yang terjadi di kawasan Selat Hormuz.
Ia mengatakan:
"Pasca adanya krisis Selat Hormuz, kapal-kapal berbendera China diperebutkan banyak negara. Ini menjadi salah satu pemicu kenaikan biaya logistik atau distribusi dari negara produsen, yaitu China, ke Indonesia."
Kondisi tersebut membuat biaya pengangkutan barang dari negara pemasok menuju Indonesia menjadi lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.
6. Pemerintah Siapkan Strategi Menekan Harga di Indonesia Timur
Untuk mengurangi beban biaya distribusi, Kementerian Perdagangan mulai berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah mendorong importir agar kapal pengangkut bawang putih dapat langsung bersandar di pelabuhan utama di kawasan timur Indonesia.
Dengan sistem distribusi yang lebih singkat, biaya pengiriman diharapkan dapat ditekan sehingga harga bawang putih di daerah tujuan menjadi lebih terjangkau.
Nawandaru menjelaskan:
"Kami berharap pelaku usaha dapat mengarahkan dropping langsung ke pelabuhan utama di kawasan timur sehingga biaya logistik berkurang dan distribusi ke daerah-daerah yang saat ini mengalami tekanan harga tinggi menjadi lebih efisien."
Langkah tersebut dinilai dapat mempercepat distribusi sekaligus mengurangi biaya transportasi lanjutan menuju berbagai wilayah di Indonesia Timur.