
Kuatbaca.com - Kondisi peternak ayam pedaging atau broiler di berbagai daerah tengah menghadapi tantangan berat. Harga ayam hidup (live bird) di tingkat kandang masih berada jauh di bawah harga acuan yang telah ditetapkan pemerintah. Situasi ini membuat banyak peternak harus menanggung kerugian besar, bahkan mencapai ratusan juta rupiah bagi mereka yang memiliki populasi ternak dalam jumlah besar.
Penurunan harga yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir membuat pendapatan peternak semakin tergerus. Di sisi lain, biaya produksi justru terus mengalami kenaikan sehingga margin usaha semakin menipis bahkan berubah menjadi kerugian.
1. Harga Jual Jauh di Bawah Acuan Pemerintah
Berdasarkan ketentuan yang berlaku, harga acuan pembelian ayam ras hidup di tingkat produsen sebenarnya berada pada angka Rp25.000 per kilogram. Namun kondisi di lapangan menunjukkan harga transaksi yang diterima peternak masih jauh di bawah angka tersebut.
Saat ini harga ayam hidup di sejumlah sentra peternakan hanya berkisar antara Rp15.500 hingga Rp16.000 per kilogram. Selisih yang cukup lebar antara harga acuan dan harga aktual membuat peternak kesulitan menutup biaya operasional yang terus meningkat.
Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada peternak skala kecil, tetapi juga pelaku usaha peternakan dengan kapasitas produksi besar yang harus menanggung kerugian dalam jumlah signifikan.
2. Peternak Mengaku Kehilangan Ratusan Juta Rupiah
Kerugian yang dialami peternak semakin terasa karena harga jual ayam tidak mampu menutupi biaya produksi. Bagi peternak yang memiliki populasi ayam dalam jumlah besar, nilai kerugian yang ditanggung bisa mencapai ratusan juta rupiah dalam satu periode produksi.
Peternak dari Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo), Asep Saepudin, mengungkapkan bahwa harga ayam di kandang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
"Harga masih ke tahan Rp 15.500-16.000/kg. Belum bisa naik lagi. (Kerugian) ratusan juta kalau yang punya populasi besar. Tapi kalau populasi kecil masih puluhaan karena per kg-nya masih rugi Rp 4.000."
Pernyataan tersebut menggambarkan betapa berat tekanan yang saat ini dirasakan peternak rakyat di berbagai daerah.
3. Kenaikan Harga Pakan Menambah Beban Produksi
Selain harga jual yang rendah, peternak juga harus menghadapi lonjakan biaya pakan yang menjadi komponen terbesar dalam usaha budidaya ayam broiler. Sepanjang tahun 2026, harga pakan tercatat mengalami kenaikan hingga berada pada kisaran Rp8.800 sampai Rp9.400 per kilogram.
Pakan merupakan kebutuhan utama dalam proses pemeliharaan ayam. Ketika harga pakan meningkat, otomatis biaya produksi ikut terdongkrak. Sayangnya, kenaikan biaya tersebut tidak diimbangi dengan peningkatan harga jual ayam di tingkat peternak.
Akibatnya, banyak pelaku usaha peternakan harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk menghasilkan ayam siap panen, tetapi memperoleh pendapatan yang lebih rendah saat menjual hasil produksinya.
4. Harga DOC Ikut Menekan Keuntungan Peternak
Tidak hanya pakan, harga Day Old Chick (DOC) atau anak ayam umur sehari juga masih berada pada level yang relatif tinggi. Kondisi ini semakin menambah tekanan terhadap struktur biaya produksi peternak.
Ketua Umum Permindo, Kusnan, menjelaskan bahwa harga DOC final stock masih berada pada kisaran Rp5.000 hingga Rp6.000 per ekor. Dengan harga tersebut, biaya pemeliharaan ayam sejak awal produksi menjadi lebih mahal dibandingkan periode sebelumnya.
Menurut perhitungannya, biaya produksi ayam broiler saat ini diperkirakan mencapai Rp21.000 hingga Rp22.000 per kilogram live bird.
"Akibat kenaikan berbagai komponen biaya tersebut, Harga Pokok Produksi (HPP) broiler saat ini diperkirakan telah mencapai Rp 21.000-Rp 22.000/kg live bird. Artinya, peternak rakyat saat ini menanggung kerugian sekitar Rp 5.000-Rp 7.000/kg live bird atau sekitar Rp10.000-Rp 14.000 per ekor ayam panen berbobot 2 kilogram."
5. Peternak Ajukan Tujuh Solusi kepada Pemerintah
Melihat kondisi yang semakin sulit, kalangan peternak menyampaikan sejumlah usulan kepada pemerintah guna membantu menstabilkan harga ayam hidup dan memperbaiki kesejahteraan peternak rakyat.
Usulan pertama adalah memperluas pemasaran produk unggas melalui jaringan ritel modern di seluruh Indonesia. Peternak berharap ayam karkas segar, ayam beku, dan telur dapat tersedia secara lebih luas di minimarket, supermarket, hingga pusat perbelanjaan modern.
Langkah ini dinilai mampu meningkatkan serapan produk unggas sekaligus membuka akses pasar yang lebih besar bagi peternak lokal.
6. Dorongan Pembentukan Program Serapan oleh BUMN Pangan
Usulan kedua adalah membangun mekanisme penyerapan ayam dan telur secara berkelanjutan melalui Bulog atau BUMN pangan lainnya. Konsep ini dinilai serupa dengan program pembelian gabah dan beras yang selama ini dilakukan pemerintah untuk menjaga harga di tingkat petani.
Dengan adanya penyerapan ketika terjadi surplus produksi, harga ayam di tingkat peternak diharapkan tidak mengalami kejatuhan yang terlalu dalam.
Selain itu, stok yang terserap dapat digunakan sebagai cadangan pangan nasional atau disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.
7. Integrasi Ayam dan Telur ke Program Sosial Nasional
Usulan ketiga berkaitan dengan pemanfaatan produk unggas dalam berbagai program pemerintah. Peternak mengusulkan agar ayam dan telur menjadi bagian dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), bantuan sosial, penanganan stunting, hingga kebutuhan institusi negara seperti sekolah, rumah sakit, pesantren, TNI, dan Polri.
Langkah ini dinilai mampu meningkatkan konsumsi protein hewani masyarakat sekaligus membantu menyerap produksi peternak dalam jumlah besar.
8. Penguatan Distribusi dan Peta Produksi Nasional
Usulan berikutnya adalah memperkuat distribusi antarwilayah melalui pembangunan rantai dingin (cold chain), penambahan fasilitas penyimpanan beku, serta peningkatan sistem logistik nasional.
Selain itu, peternak juga mendorong pemerintah menyusun peta produksi unggas yang lebih akurat. Saat ini sebagian besar populasi ayam nasional masih terkonsentrasi di Pulau Jawa sehingga sering memicu kelebihan pasokan dan menekan harga di tingkat peternak.
Mereka berharap investasi peternakan baru dapat diarahkan ke wilayah-wilayah di luar Jawa yang memiliki potensi pertumbuhan konsumsi lebih besar.