Haikal: D-8 Belum Jadi Pemimpin Industri Halal Global, Kolaborasi Jadi Kunci

Kuatbaca.com - D-8 Halal Expo Indonesia (HEI) 2026 dibuka di Jakarta, Rabu (8/7/2026) dengan sebuah catatan penting. Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Ahmad Haikal Hasan mencermati bahwa negara-negara anggota D-8 belum masuk dalam daftar produsen halal terbesar dunia.
“Sayangnya, negara penghasil produk halal nomor satu dunia saat ini masih China, nomor dua Brasil, dan nomor tiga Amerika Serikat. Tidak satu pun dari D-8,” ujarnya.
Haikal menyebut kondisi tersebut sebagai tantangan bersama yang harus dijawab melalui penguatan kolaborasi, harmonisasi sertifikasi halal, dan integrasi ekonomi antarnegara anggota.
1. Indonesia Ingin Jadikan Halal Mesin Pertumbuhan Ekonomi
Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan menegaskan bahwa halal kini harus dipandang sebagai instrumen ekonomi yang inklusif. Menurutnya, sektor halal berpotensi menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional.
“Halal sekarang harus bertransformasi bagaimana pesan daripada Presiden, Pak Prabowo Subianto, transformasi arti halal menjadi milik semua, menjadi prosperity of life, menjadi simbol transparency, traceability and trustability,” kata Haikal.
Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta menambahkan bahwa penguatan ekonomi halal merupakan salah satu strategi Indonesia untuk memperdalam integrasi ekonomi dengan dunia Islam di tengah ketidakpastian ekonomi global.
“Di tengah berbagai tantangan ekonomi global, Indonesia terus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Salah satu jalannya adalah dengan memperkuat integrasi ekonomi Indonesia dengan dunia Islam, termasuk melalui pengembangan ekonomi halal,” ujar Anis Matta.
Haikal menambahkan bahwa ekonomi halal telah memberi kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional. Dalam sembilan bulan terakhir, ekonomi halal disebut telah menyumbang sekitar 27 persen terhadap perekonomian nasional dengan valuasi mendekati Rp5.000 triliun.
2. Pakistan Dorong Sertifikasi Halal Bersama D-8
Duta Besar Pakistan untuk Indonesia, Zahid Hafeez Chaudhri, menilai pengakuan bersama atas sertifikasi halal menjadi kunci pengembangan industri halal dunia yang kini bernilai lebih dari US$7,5 triliun.
“Jika kita dapat mewujudkan satu sertifikasi halal yang diakui oleh semua negara dan pasar, saya kira itu akan menjadi terobosan besar bagi sektor halal,” tuturnya.
Pakistan menghadirkan 31 delegasi yang memamerkan berbagai produk, mulai dari pangan halal dan garam merah muda hingga peralatan olahraga serta instrumen bedah.
3. Mesir Perkuat Kolaborasi Ekonomi Halal
Duta Besar Mesir untuk Indonesia, Yasser Hassan Farag Elshemy, menyatakan negara-negara D-8 telah berkomitmen mempercepat implementasi kebijakan yang mendukung ekonomi halal.
“Mesir bekerja sangat erat dengan saudara-saudara kami di Indonesia dan negara anggota D-8 lainnya untuk mempercepat serta memperluas pengembangan ekonomi halal,” ujarnya.
Mesir, di salam ajang ini memperkenalkan produk unggulannya, seperti kurma, aneka pastry, dan produk fesyen, sekaligus memperluas akses ke pasar Indonesia.