Danantara Jajaki Investasi Rp 2 Triliun untuk Kembangkan Bisnis Bus Listrik Bakrie

Kuatbaca - PT Danantara Investment Management (DIM) mulai menjajaki peluang investasi hingga Rp 2 triliun pada perusahaan yang berada di bawah naungan Bakrie Group, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR). Penjajakan tersebut menjadi bagian dari rencana penguatan bisnis transportasi berbasis energi baru dan teknologi mobilitas di Indonesia.
Rencana tersebut ditandai dengan penandatanganan indicative non-binding term sheet antara DIM dan BNBR. Dokumen ini menjadi langkah awal dalam pembahasan kerja sama dan belum menjadi perjanjian investasi yang bersifat final atau mengikat kedua pihak.
Fokus pada Pengembangan Bisnis Mobilitas
Potensi pendanaan tersebut diarahkan untuk mendukung pengembangan dan ekspansi bisnis mobility-as-a-service atau MaaS yang dijalankan oleh PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR). Perusahaan tersebut merupakan bagian dari ekosistem bisnis BNBR dan selama ini mengembangkan solusi mobilitas berbasis kendaraan listrik.
Konsep MaaS tidak hanya berkaitan dengan penyediaan kendaraan, tetapi juga mencakup ekosistem layanan transportasi yang terintegrasi. Pengembangannya dapat mencakup penyediaan armada, sistem transportasi, teknologi pendukung, hingga pengelolaan layanan mobilitas yang lebih efisien.
Nilai Pendanaan Bisa Mencapai Rp 2 Triliun
Dalam penjajakan awal tersebut, nilai pokok pendanaan yang disiapkan secara indikatif mencapai maksimal Rp 2 triliun. Angka tersebut menunjukkan besarnya potensi dukungan modal yang dapat diberikan apabila seluruh tahapan pembahasan dan proses investasi nantinya mencapai kesepakatan.
Namun, nilai tersebut masih bersifat indikatif. Realisasi investasi tetap akan bergantung pada hasil pembahasan lebih lanjut, struktur transaksi yang disepakati, serta pemenuhan berbagai persyaratan yang akan dituangkan dalam dokumen definitif.
Ada Opsi Konversi dalam Skema Pendanaan
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam rencana tersebut adalah adanya hak opsi konversi. Artinya, pendanaan yang diberikan nantinya berpotensi memiliki mekanisme untuk dikonversikan menjadi instrumen tertentu, termasuk kepemilikan saham, apabila struktur transaksi final mengatur demikian.
Ketentuan mengenai opsi tersebut belum ditetapkan secara rinci pada tahap awal. Struktur final, mekanisme konversi, serta hak dan kewajiban masing-masing pihak masih akan dibahas lebih lanjut sebelum dituangkan dalam dokumen perjanjian yang mengikat.
VKTR menjadi salah satu entitas yang berada di tengah rencana pengembangan bisnis mobilitas tersebut. Perusahaan ini memiliki fokus pada teknologi kendaraan listrik dan solusi transportasi, termasuk pengembangan ekosistem kendaraan komersial listrik.
Pengembangan kendaraan listrik untuk sektor transportasi umum menjadi salah satu peluang yang cukup besar di tengah upaya berbagai pihak mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Bus listrik juga mulai mendapat perhatian karena dapat digunakan untuk mendukung sistem transportasi massal yang lebih rendah emisi.
Potensi investasi dari Danantara dapat menjadi tambahan modal bagi pengembangan ekosistem kendaraan listrik yang membutuhkan investasi besar. Pengembangan kendaraan listrik bukan hanya membutuhkan biaya untuk produksi kendaraan, tetapi juga infrastruktur pendukung, teknologi, layanan purnajual, serta sistem pengoperasian armada.
Jika kerja sama tersebut terealisasi, pendanaan berpotensi digunakan untuk memperluas kapasitas bisnis VKTR sekaligus membuka ruang pengembangan layanan mobilitas yang lebih luas. Ekspansi tersebut dapat menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk meningkatkan skala bisnis di sektor transportasi berbasis teknologi.
Dari sisi Danantara, penjajakan investasi ini menunjukkan perhatian terhadap sektor yang berkaitan dengan transformasi industri dan mobilitas masa depan. Transportasi merupakan salah satu sektor yang memiliki keterkaitan erat dengan kebutuhan energi, pembangunan infrastruktur, dan perkembangan teknologi.
Investasi pada bisnis kendaraan listrik juga memiliki potensi memberikan dampak lebih luas terhadap industri nasional. Selain mendorong penggunaan teknologi baru, pengembangan sektor tersebut dapat menciptakan kebutuhan terhadap komponen, layanan teknis, manufaktur, hingga sumber daya manusia dengan keahlian khusus.
Meski nilai yang dibicarakan mencapai Rp 2 triliun, kerja sama antara DIM dan BNBR saat ini masih berada pada tahap penjajakan. Indicative non-binding term sheet yang ditandatangani belum dapat diartikan sebagai kepastian bahwa seluruh dana akan langsung dicairkan.
Kedua pihak masih harus melalui sejumlah tahapan sebelum investasi dapat direalisasikan. Pembahasan mengenai struktur pendanaan, tujuan penggunaan dana, skema konversi, tata kelola, hingga berbagai persyaratan transaksi akan menjadi bagian dari proses berikutnya.
Apabila rencana pendanaan tersebut terealisasi, tambahan modal dalam jumlah besar berpotensi memperkuat posisi VKTR dalam persaingan industri kendaraan listrik. Perusahaan dapat memiliki ruang yang lebih besar untuk memperluas kegiatan usaha sekaligus meningkatkan kapasitas dalam menyediakan solusi mobilitas.
Besarnya kebutuhan investasi di sektor kendaraan listrik membuat dukungan permodalan menjadi faktor penting. Terlebih, bisnis transportasi listrik membutuhkan pengembangan jangka panjang agar ekosistemnya dapat berjalan secara berkelanjutan.
Untuk saat ini, belum ada kepastian mengenai kapan transaksi investasi tersebut akan direalisasikan. Tahapan berikutnya akan sangat bergantung pada hasil pembahasan antara DIM dan BNBR serta penyelesaian dokumen-dokumen definitif.
Jika seluruh proses berjalan sesuai rencana dan kesepakatan final tercapai, potensi pendanaan hingga Rp 2 triliun tersebut dapat menjadi salah satu langkah penting dalam pengembangan bisnis mobilitas berbasis kendaraan listrik di Indonesia.
Rencana tersebut sekaligus memperlihatkan semakin besarnya perhatian terhadap sektor transportasi listrik, khususnya kendaraan komersial dan layanan mobilitas terintegrasi. Dengan kebutuhan transportasi yang terus berkembang, investasi pada teknologi mobilitas berpotensi menjadi salah satu sektor strategis dalam mendorong transformasi industri nasional.