
Kuatbaca - Target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen yang dicanangkan pemerintah menjadi salah satu agenda besar dalam upaya mendorong perekonomian Indonesia tumbuh lebih cepat. Ekonom senior Burhanuddin Abdullah menilai sasaran tersebut masih dapat diupayakan, tetapi pencapaiannya membutuhkan pendekatan yang berbeda dari pola pembangunan yang selama ini digunakan.
Menurut Burhanuddin, mengejar pertumbuhan hingga 8 persen tidak cukup hanya dengan mengandalkan kebijakan dan mesin pertumbuhan yang sudah berjalan. Pemerintah perlu mencari sumber pertumbuhan baru sekaligus melakukan perubahan terhadap cara Indonesia mengelola berbagai potensi ekonomi yang dimiliki.
Salah satu alasan penting untuk mendorong pertumbuhan lebih tinggi adalah mempercepat Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah atau middle income trap. Kondisi tersebut menggambarkan situasi ketika suatu negara berhasil meningkatkan pendapatan hingga level menengah, tetapi kemudian mengalami kesulitan untuk naik ke kelompok negara berpendapatan tinggi.
Perhitungan yang pernah dilakukan Burhanuddin bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi memiliki pengaruh terhadap waktu yang diperlukan Indonesia untuk melewati fase tersebut.
Dalam skenario pertumbuhan ekonomi sekitar 6 persen setiap tahun, Indonesia diperkirakan baru dapat keluar dari middle income trap pada 2041. Apabila pertumbuhan dapat dipertahankan pada kisaran 7 persen per tahun, proses tersebut diperkirakan bisa berlangsung lebih cepat, sekitar 2038.
Dari perhitungan tersebut, kebutuhan untuk meningkatkan laju pertumbuhan menjadi semakin jelas. Target 8 persen kemudian ditempatkan sebagai sasaran yang lebih tinggi dibandingkan skenario pertumbuhan 6 atau 7 persen.
Pertumbuhan yang lebih cepat tidak hanya berkaitan dengan angka produk domestik bruto (PDB). Di balik angka tersebut terdapat persoalan peningkatan pendapatan masyarakat, penciptaan lapangan pekerjaan, produktivitas tenaga kerja, serta kemampuan Indonesia meningkatkan daya saing ekonomi.
Karena itu, pencapaian pertumbuhan tinggi membutuhkan fondasi ekonomi yang kuat dan tidak dapat hanya mengandalkan konsumsi masyarakat sebagai penggerak utama.
Burhanuddin menekankan pentingnya keberanian untuk menggunakan pendekatan baru. Indonesia perlu melihat kembali sektor-sektor yang selama ini menjadi sumber pertumbuhan dan mengidentifikasi ruang yang masih dapat dikembangkan.
Sektor industri, investasi, ekspor, konsumsi domestik, hingga produktivitas sumber daya manusia dapat menjadi bagian dari strategi tersebut. Namun, masing-masing sektor membutuhkan kebijakan yang saling mendukung agar pertumbuhan tidak hanya tinggi dalam jangka pendek, tetapi juga mampu dipertahankan dalam jangka panjang.
Pendekatan baru juga berarti memperbaiki berbagai hambatan yang membuat kegiatan ekonomi berjalan kurang efisien. Infrastruktur, regulasi, kepastian usaha, kualitas sumber daya manusia, serta pemanfaatan teknologi menjadi sejumlah aspek yang berkaitan dengan kemampuan ekonomi meningkatkan produktivitas.
Peningkatan investasi menjadi bagian penting dalam upaya memperbesar kapasitas ekonomi nasional. Investasi tidak hanya memberikan tambahan modal, tetapi juga dapat menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kapasitas produksi, dan mendorong masuknya teknologi baru.
Indonesia memiliki pasar domestik yang besar dan sumber daya yang beragam. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dapat diubah menjadi kegiatan ekonomi dengan nilai tambah lebih tinggi.
Investasi yang masuk juga perlu diarahkan agar tidak hanya berhenti pada aktivitas ekstraksi bahan mentah. Pengembangan industri pengolahan dan hilirisasi dapat memperbesar nilai ekonomi yang dihasilkan di dalam negeri sekaligus memperkuat rantai pasok nasional.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dalam jangka panjang juga bergantung pada peningkatan produktivitas. Artinya, tambahan output tidak semata-mata berasal dari semakin banyaknya tenaga kerja atau modal yang digunakan, tetapi juga dari kemampuan menghasilkan lebih banyak barang dan jasa dengan sumber daya yang tersedia.
Peningkatan produktivitas berkaitan erat dengan kualitas pendidikan, keterampilan tenaga kerja, teknologi, manajemen, dan inovasi. Jika faktor-faktor tersebut berkembang, kapasitas ekonomi Indonesia dapat meningkat tanpa harus terus bergantung pada ekspansi sumber daya secara besar-besaran.
Perubahan struktur ekonomi juga diperlukan agar tenaga kerja dapat bergerak menuju sektor-sektor yang memiliki produktivitas dan nilai tambah lebih tinggi.
Mengejar pertumbuhan 8 persen bukan perkara sederhana. Perekonomian Indonesia menghadapi berbagai faktor internal dan eksternal yang dapat memengaruhi laju pertumbuhan.
Perubahan kondisi ekonomi global, pergerakan harga komoditas, kebijakan perdagangan internasional, suku bunga global, serta dinamika geopolitik dapat memengaruhi investasi dan aktivitas ekspor-impor Indonesia.
Di dalam negeri, pemerintah juga perlu menjaga keseimbangan antara mendorong pertumbuhan dan mempertahankan stabilitas ekonomi. Inflasi, nilai tukar, kondisi fiskal, serta daya beli masyarakat menjadi sejumlah faktor yang harus diperhitungkan dalam merancang kebijakan.
Dorongan untuk mencari cara baru menunjukkan bahwa strategi pertumbuhan ekonomi perlu terus disesuaikan dengan perubahan kondisi. Pola pembangunan yang efektif pada periode sebelumnya belum tentu memberikan hasil yang sama ketika struktur ekonomi dan lingkungan global telah berubah.
Indonesia saat ini berada dalam fase transformasi ekonomi yang membutuhkan peningkatan nilai tambah. Pemanfaatan teknologi digital, penguatan industri manufaktur, pengembangan ekonomi hijau, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia dapat menjadi bagian dari proses tersebut.
Perubahan tersebut membutuhkan koordinasi lintas sektor karena kebijakan ekonomi tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Kebijakan industri, perdagangan, investasi, pendidikan, energi, dan infrastruktur perlu bergerak dalam arah yang saling mendukung.
Pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi yang tinggi perlu diterjemahkan menjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan PDB akan memiliki dampak yang lebih berarti apabila diikuti dengan peningkatan kesempatan kerja dan pendapatan masyarakat.
Pemerintah juga perlu memperhatikan pemerataan agar manfaat pertumbuhan tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok atau wilayah tertentu. Pengembangan pusat-pusat ekonomi di berbagai daerah dapat membantu menciptakan sumber pertumbuhan yang lebih merata.
Dengan demikian, target pertumbuhan 8 persen bukan hanya persoalan mengejar angka statistik, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan Indonesia membangun perekonomian yang produktif, kompetitif, dan mampu memberikan manfaat yang lebih luas.
Pandangan Burhanuddin mengenai perlunya pendekatan baru memperlihatkan bahwa perjalanan menuju negara berpendapatan tinggi membutuhkan strategi jangka panjang. Skenario pertumbuhan 6 persen dan 7 persen menunjukkan adanya perbedaan waktu dalam upaya keluar dari middle income trap, sementara target 8 persen diarahkan untuk mempercepat proses tersebut.
Pencapaian sasaran itu akan sangat bergantung pada kebijakan yang diterapkan, kemampuan meningkatkan produktivitas, kualitas investasi, serta keberhasilan Indonesia membangun sektor ekonomi baru.
Karena itu, tantangan terbesar bukan hanya menetapkan target pertumbuhan tinggi, melainkan memastikan mesin ekonomi nasional memiliki kapasitas untuk mencapainya secara konsisten. Cara baru yang dimaksud perlu diwujudkan dalam kebijakan konkret agar pertumbuhan yang lebih cepat dapat berjalan beriringan dengan penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan, dan penguatan daya saing Indonesia.