Kuat-BacaKuatBaca
Kuat-BacaKuatBaca
  1. Home
  2. Telik
KuatBaca-footerKuatBaca

Kategori

    Tentang Perusahaan

    • Susunan Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Tentang Kami

    Hubungi Kami

    Download on App StoreDownload on Google Play

    Ikuti Kuatbaca.com di media sosial

    © 2026 Kuatbaca.com | All Rights Reserved

    Ketahanan Nasional & Urgensi Kemandirian Bahan Baku Obat

    23 December 2024 18:49 WIB·823
    COVER WEB KETAHANAN NASIONAL DAN URGENSI KEMANDIRIAN BAHAN BAKU OBAT.jpg

    “Ketersediaan obat menjadi isu krusial bagi Indonesia, menyangkut kesehatan dan ketahanan nasional, terutama dengan ketergantungan impor bahan baku lebih dari 90%. Kondisi ini memperparah risiko jika gelombang pandemi berikutnya datang, mengancam setiap penduduk Indonesia dengan dampak langsung maupun tidak langsung.”

     

    Ketersediaan obat merupakan salah satu isu krusial yang dihadapi Indonesia saat ini, tidak hanya di bidang kesehatan, tetapi juga dalam hal ketahanan nasional. Isu tersebut juga menjadi salah satu dari 17 Program Prioritas yang tertuang dalam dokumen visi, misi dan Program Prabowo Gibran yakni: "Menjamin tersedianya pelayanan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia: Peningkatan BPJS Kesehatan dan penyediaan obat untuk rakyat". 

     

    Mengapa isu obat ini menjadi sangat penting dalam konteks ketahanan nasional? Berkaca pada pengalaman pada Pandemi Covid-19 lalu dimana banyak Negara di dunia menerapkan kebijakan lockdown dan pembatasan ekspor, rantai pasok industri farmasi Indonesia menjadi sangat terganggu akibat ketergantungan impor bahan baku obat. Kondisi ketergantungan tersebut sangat rentan dan jelas menghambat kemampuan Negara dalam menanggulangi kejadian pandemi di dalam negeri.

     

    Dari sisi ketahanan nasional kondisi ketergantungan tersebut harus segera diperbaiki dan diakselerasi untuk mengejar gelombang pandemi kedua yang tidak dapat kita prediksi kedatangannya. Faktanya, 90% kebutuhan Bahan Baku Obat dan Vaksin nasional saat ini masih harus diimpor dari luar negeri.

     

    Hal ini sebenarnya telah diantisipasi Pemerintah sejak beberapa tahun yang lalu dengan terbitnya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6/2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan. Lahirnya inpres ini sedikit banyak telah mulai mendorong perkembangan Industri bahan baku obat di Indonesia namun pada kenyataannya hingga saat ini Indonesia masih saja mengalami kekurangan bahan baku obat dan vaksin produk dalam negeri. Berdasarkan data Asosiasi Biofarmasi dan Bahan Baku Obat (AB3O) menunjukkan bahwa hingga saat ini baru 62 molekul atau 5,6% molekul dari 1.105 molekul Bahan Baku Obat dan Vaksin yang sudah dapat dipenuhi oleh dalam negeri.

     

    Disinilah konsep kemandirian farmasi dan alat kesehatan menjadi pilar penting untuk diwujudkan dalam konteks ketahanan nasional.

     

    Mengapa Ketahanan Nasional?

     

    Secara ideal, Negara bertugas untuk memberikan rasa aman dan bagi setiap individu Warga Negara. Namun demikian seringkali rasa aman dari tindak kriminalitas atau bahaya yang mengancam fisik tubuh atau rasa aman secara ekonomi seringkali dianggap lebih penting dan material bagi seseorang daripada sekedar memperkuat daya tahan tubuh melalui kesehatan termasuk melalui konsumsi obat dan vaksin.

     

    Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi jika seseorang tidak dapat mengakses obat dan vaksin yang dibutuhkannya? Jika seseorang itu hidup sendiri tanpa ada yang berinteraksi atau bergantung kepadanya, maka urusan tidak mendapat obat dan vaksin yang dibutuhkan bisa saja menjadi masalah pribadi dari yang bersangkutan. Kenyataannya, hampir tidak ada orang yang benar-benar hidup sendiri tanpa interaksi dengan orang lain. Apalagi ketika individu yang tidak mendapat obat dan vaksin tersebut ternyata adalah orang tua dari sebuah keluarga. Anak-anak dan keluarga yang bergantung kepadanya tentu akan terdampak.

     

    Bagaimana jika individu yang tidak memperoleh obat dan vaksin tersebut adalah karyawan yang sedikit banyak ternyata berpengaruh jalannya proses bisnis suatu korporasi? Bukan hanya pendapatan Perusahaan yang terdampak tetapi juga karyawan lainnya, pemasok, investor bahkan konsumen dan industri turunannya juga dapat terdampak.

     

    Begitu pula dalam konteks Negara, dapat dibayangkan jika individu yang tidak memperoleh obat dan vaksin adalah Tenaga Kesehatan yang berperan penting dalam menyelamatkan jiwa penduduk. Bagaimana pula jika individu tersebut adalah para Prajurit dan Bhayangkara Negara yang harus bertugas melindungi warga negara serta para Abdi Negara yang bertanggung jawab atas pengambilan Keputusan strategis secara nasional?

     

    Dapat dibayangkan kekurangan pasokan obat dan vaksin bagi seorang individu Warga Negara, pada kondisi tertentu (misal pandemi) dapat berdampak besar dan memiliki efek domino yang sangat luas. Jika dilihat dari sudut kepentingan nasional, kondisi seperti ini bukan lagi berbicara mengenai dampak terhadap 1 atau 2 individu atau bahkan 10, 20 orang, tetapi bisa mempengaruhi 10 atau 20% penduduk bahkan lebih. Dengan kondisi sedemikian, maka jelas kondisi kekurangan pasokan obat adalah masalah Ketahanan Bangsa alias ketahanan Nasional.

     

    Ketika masalah obat dan vaksin ini diletakkan dalam konteks dan skala nasional, maka bukanlah anak-anak, karyawan, pemasok, dan konsumen yang menjadi pembahasan sebagai obyek penderita. Namun generasi muda, angkatan kerja, usia produktif, hingga potensi pasar dan konsumsi sebuah bangsa akan terdampak. Dampak tersebut tidak akan dirasakan saat itu saja, tetapi juga berdampak pada kondisi di tahun bahkan era berikutnya. Sehingga jelas, bahwa bahan baku obat dan vaksin merupakan salah satu komoditas strategis nasional yang sangat penting untuk keberlanjutan bangsa.

     

    Demikianlah secara faktual, ketahanan nasional memang merupakan pendekatan terintegrasi terhadap totalitas kondisi dinamis bangsa. Oleh karenanya, sebagaimana analogi ketahanan versus keamanan di awal tulisan ini, bahkan ketahanan dalam aspek kesehatan individual pun tidak dapat disolir secara semena-semena dari kondisi keamanan seseorang, dan sebaliknya.

     

    Ketika kondisi kesehatan seseorang menurun, maka kapasitas keamanan orang tersebut pun pasti akan terdampak. Seorang prajurit terlatih sekalipun, dalam kondisi tidak sehat akan sulit mengamankan dirinya, dan tentunya terkendala dalam menjalankan tugas mengamankan negara. Sebaliknya kondisi kesehatan seseorang juga akan terus menurun seiring waktu bila ia terus menerus didera masalah kemanan yang mengancam dirinya.

     

    Risiko Geopolitik dan Faktor Penyebab Lainnya

     

    Dengan kondisi dependensi impor bahan baku obat dan vaksin yang mencapai lebih dari 90% sebenarnya tidak hanya memprihatinkan dari sisi rantai pasok industri nasional. Sebagai importir, Indonesia sangat rentan terpapar dampak dinamika geopolitik global. Penelitian De La Pava dan Tucker (2023) menemukan bahwa Risiko geopolitik mengancam ketersediaan obat, di mana negara-negara dengan kapasitas produksi rendah paling berisiko. Hal ini menggambarkan bahwa dengan kondisi ketergantungan impor bahan baku obat, Ketahanan Nasional Indonesia secara geopolitik global masih sangat rentan.

     

    Mengapa Ketahanan Nasional menjadi sangat urgen? Pada kenyataannya, saat ini Indonesia menghadapi tantangan geopolitik yang sangat signifikan khususnya dari sisi ancaman biologis yang sangat kompleks. Presiden Prabowo Subianto dalam kapasitasnya sebagai Menteri Pertahanan RI pada saat peresmian fasilitas di RSPAD Gatot Subroto bulan Februari 2022 yang lalu telah mengingatkan bahwa bahwa potensi ancaman militer, non militer dan hibrida masih akan mengancam kepentingan nasional di masa mendatang dan saat ini bangsa Indonesia sedang mengalami ancaman biologis. Beliau mengingatkan bahwa datangnya pandemi saat ini adalah alarm bagi kita untuk lebih fokus dan memperhatikan masalah medis. Berkaca pada kekhawatiran Presiden tersebut, maka salah satu bentuk pertahanan yang diperlukan untuk menghadapi ancaman biologis tersebut adalah dengan memastikan ketersediaan obat dan vaksin yang memadai bagi seluruh penduduk.

     

    Sementara kesiapan dari dalam negeri sendiri mengacu pada hasil riset Hermawan et al (2022) terdapat beberapa faktor yang menyebabkan industri bahan baku obat memiliki tantangan tersendiri seperti kurangnya penguasaan teknologi, dukungan pemerintah, anggaran riset rendah, tingginya biaya pengembangan bahan baku, dan insentif untuk inovasi masih rendah. Hermawan et al (2022) menguraikan benchmark kebijakan di beberapa negara seperti India, Bangladesh dan China, pengembangan industri bahan baku obat dilakukan Pemerintah dengan menyiapkan beragam prioritas kebijakan dan insentif terhadap industri seperti: kebijakan penetapan harga, berhenti ketergantungan terhadap produk impor, insentif pajak, perlindungan produk domestik melalui kebijakan tarif impor, subsidi energi, hingga transfer teknologi. Saat ini, pemerintah didorong untuk menerapkan regulasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar > 52% bagi bahan baku obat dan vaksin yang sudah diproduksi di Indonesia, serta meningkatkan alokasi dana pemerintah terhadap kegiatan penelitian dan pengembangan molekul-molekul bahan baku obat yang hingga kini masih diimpor, untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk impor. Kedua hal tersebut juga bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan industri bahan baku obat dalam negeri seperti para-aminphenol.

     

    The Next Wave Pandemics

     

    Jika ketergantungan impor bahan baku obat ini terus berlangsung ditambah dengan risiko gelombang pandemi berikutnya (the next wave pandemics) yang tidak bisa ditebak kapan waktunya, maka setiap penduduk Indonesia sangat berisiko terpapar dampak secara langsung ataupun tidak langsung dari fluktuasi pasokan persediaan serta fluktuasi harga obat dan vaksin.

     

    Pada akhirnya yang akan terdampak bukan hanya penduduk sebagai konsumen obat dan vaksin semata, namun juga berdampak pada kepentingan bangsa dan negara secara keseluruhan. Dengan kondisi sedemikian, Negara dengan kekuatan militer terbaik sekalipun, tidak akan pernah siap menjalankan tugasnya dengan kondisi daya tahan tubuh yang tidak siap dan sehat.

     

    Akhir kata, ketahanan orang per orang, termasuk daya tahan tubuh setiap individu Warga Negara terhadap segala jenis penyakit, tidak bisa dianggap remeh bahkan teramat vital bagi keselamatan dan keamanan Bangsa dalam segala bidang. Hal ini merupakan cermin dari bagaimana Ketahanan Nasional harus disiapkan guna mengatasi segenap astagatra aspek kehidupan nasional termasuk gatra pertahanan keamanan.

     

    Komitmen Negara dan konsistensi kebijakan Pemerintah yang berpihak pada pengembangan kekuatan ekosistem industri bahan baku obat dalam negeri sangat krusial dan diperlukan saat ini. Semangat ini akan sangat sejalan dengan dua misi dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yakni misi “Memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa … “ dan misi “Melanjutkan hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri”. Dengan komitmen yang kuat tersebut, maka bisa kita pastikan Indonesia akan siap menghadapi dan mengatasi seluruh risiko ancaman biologis global saat ini dan kedepan. (*)

    Penulis : Irfat Hista Saputra, Sekretaris Jenderal Asosiasi Biofarmasi dan Bahan Baku Obat (AB3O)

    Editor : Jajang Yanuar Habib

    Ilustrasi : Aditya Firmansyah

    Infografis : Aditya Firmansyah

    Oleh Admin
    Jurnalis :  -Editor :  -Illustrator :  -Infografis :  -