Umum

Gali K3, Kaji Crowd Management

Kuatbaca

23 November 2022 08:27

Test

“Saat ini, masyarakat sangat antusias berpartisipasi pada acara-acara berskala besar yang dapat menciptakan suatu kerumunan massa dan adanya potensi terjadinya bencana kerumunan. Sayangnya, Indonesia belum mengadopsi crowd management secara tersistematis. Padahal masyarakat Indonesia sangat menggandrungi hiburan massal. Crowd management di Indonesia selalu dikaitkan dengan K3. Ternyata di suatu negara, prinsip-prinsip K3 menjadi dasar mengembangkan sistem pengendalian kerumunan.”

 

Rentetan peristiwa bencana kerumunan mendera dunia. Seiring rentetan peristiwa itu pula, wacana crowd management semakin menggema. Istilah crowd management itu sendiri sebelumnya belum begitu dikenal publik di Indonesia. Pembicaraan dan peninjauan mengenai keselamatan orang dalam kerumunan di beberapa media, selalu masuk dari sudut pandang konsep keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

 

Ketua Departemen K3 FKM UI, Mila Tejamaya menanggapi terjadinya tragedi Kanjuruhan menyampaikan.

 

Crowd safety jadi bagian dari K3, harus jadi perhatian pemerintah setempat dalam memberikan perizinan untuk suatu event. Sebagai pembelajaran, Crowd Management Plan harus ditunjukkan kepada pemerintah setempat guna mendapatkan izin penyelenggaraan suatu event,” ungkapnya, Kamis (6/10/2022).

 

Ahli keselamatan kerja Departemen K3 FKM UI Fatma Lestari melengkapi pendapat dari Mila Tejamaya, bahwa diperlukan sebuah sistem dan prosedur keselamatan untuk menjamin keselamatan masayarakat.

 

“Hal tersebut dapat dimulai dari kajian risiko keselamatan, manajemen risiko, hingga prosedur keadaan darurat. Perlu diidentifikasi juga berbagai risiko yang mungkin dihadapi ketika dalam pertandingan sepak bola. Langkah selanjutnya adalah melakukan penyusunan manajemen risiko agar kecelakaan terhindari, terminimalisir hingga tidak terjadi. Termasuk di dalamnya ada tindakan seperti apa saja yang harus dilakukan saat terjadi keadaan darurat seperti di Stadion Kanjuruhan beberapa hari lalu,” ujar Fatma Lestari (4/10/2022).

 

Meski demikian, pelaksanaan K3 erat dengan keselamatan dan kesehatan tenaga kerja di lokasi kerja. Sedangkan dalam berbagai bencana kerumunan, orang yang berada di dalam kerumunan bukanlah tenaga kerja, melainkan masyarakat umum.

 

Untuk itu sekiranya diperlukan penelusuran di antara banyaknya konsep crowd management yang ada saat ini. Salah satu konsep yang terdengar cukup menonjol adalah crowd management yang dikemukakan oleh profesor ilmu kerumunan University of Suffolk di Inggris, Profesor G. Keith Still.

 

Sebagaimana yang pernah dituliskan dalam telik berjudul “Kerumunan Tanpa Manajemen Berarti Bencana”, Profesor G. Keith Still disebutkan memiliki dua teknik pemodelan untuk analisis risiko kerumunan dan rekayasa keselamatan. Akan tetapi, jika diperhatikan lebih lanjut, kedua metode yang dituliskan Keith Still dalam buku berjudul “introduction to Crowd Science” itu dilengkapi dengan teknik analisis matriks.

 

Model risiko DIM-ICE dikembangkan dari analisis kecelakaan dan insiden dari seluruh dunia. Keith Still mendefinisikan suatu peristiwa dalam fase, pengaruh, dan mode. Tiga fase utama berkaitan dengan fase pergerakan dan perilaku kerumunan mulai dari saat melewati ingress atau jalan masuk (I), circulation atau sirkulasi (C) kerumunan di area tertentu, hingga kerumunan melewati egress atau jalan keluar (E).

 

Kemudian, ketiga fase utama tersebut dipertemukan dengan tiga pengaruh utama pada perilaku orang banyak, yaitu design atau desain (D) yang merupakan pengaruh dari aspek seperti kapasitas dan luas bangunan, serta hambatan-hambatan yang muncul karena desain bangunan. Pengaruh berikutnya berasal dari information atau informasi (I), meliputi elemen-elemen berita, sosial media, hingga sistem informasi publik. Pengaruh terakhir adalah management atau manajemen (M) yang banyak berbicara mengenai berbagai proses dan prosedur.

 

Fase utama dan pengaruh utama dipertemukan di dalam sebuah matriks untuk memudahkan analisis pada setiap kuadrannya, baik itu dalam keadaan normal maupun dalam keadaan darurat. Seperti yang ditunjukkan pada model matriks berikut ini.

 

 


Tak hanya berhenti sampai analisis di dalam tiap kuadran, model analisis resiko DIM-ICE juga mengkategorisasikan tingkat potensi timbulnya risiko dengan menggunakan warna.

 

Warna merah menunjukkan indikator yang memiliki risiko tertinggi, untuk menunjukkan area di mana kepadatan kerumunan mungkin lima orang per meter persegi atau lebih. Kemudian, warna kuning menunjukkan risiko sedang, menunjukkan area di mana kerumunan tiga sampai empat orang per meter persegi. Terakhir, warna hijau menunjukkan risiko rendah, di mana area tersebut kepadatan kerumunannya adalah dua orang per meter persegi atau kurang.

 

Berikut contoh hasil model risiko DIM-ICE yang dibuat oleh Keith Still.

 


 


 

Berbeda dengan model DIM-ICE, analisis RAMP berangkat dari pertanyaan “Jika saya tidak tahu berapa banyak orang yang datang ke acara saya, bagaimana saya merencanakan keselamatan kerumunan?” jelas Keith Still dalam sebuah artikelnya di Taylor & Francis Online. Hanya membutuhkan empat informasi mendasar untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut.

 

Routes, dari dan ke arah mana saja kerumunan akan mendekati/meninggalkan acara?

Areas, area mana yang tersedia untuk orang banyak?

Movement, selama periode waktu tertentu berapa banyak orang tiba/meninggalkan area

People, apa yang anda ketahui mengenai profil dari kerumunan tersebut?

 

Setelah mengetahui serangkaian teori manajemen kerumunan yang telah dibuat teknik dan modelnya secara komprehensif oleh G. Keith Still, jika dibandingkan dengan Indonesia yang sudah menerapkan K3, maka kedua konsep tersebut sama-sama bertujuan untuk mengendalikan risiko-risiko yang berpotensi menimpa sekelompok manusia.



Keselarasan antara K3 dengan crowd management dibuktikan dengan adanya terbitan panduan pengendalian kerumunan pada lokasi-lokasi event dimana kerumuman terjadi oleh WorkSave Victoria, regulator kesehatan dan keselamatan tempat kerja di Victoria, salah satu negara Bagian Australia.

 

Panduan pengendalian kerumunan tersebut telah dikembangkan untuk mendukung dan membantu lembaga-lembaga atau penyelenggara event untuk memberikan pemahaman kepada seluruh pihak yang terlibat dalam event memahami dan memenuhi tanggung jawab mereka masing-masing, berdasarkan Undang-Undang Kesehatan dan Keselamatan Kerja.

 

Dengan begitu, bisa dikatakan pengkajian dan pembangunan crowd management di Indonesia bisa masuk dari sudut pandang konsep K3. Prinsip-prinsip K3 yang sudah diterapkan di Indonesia dapat menjadi dasar dan dikembangkan untuk membangun sistem pengendalian massa untuk berbagai event di Indonesia. (*)

Jurnalis : Muhammad Fadhil

Editor : Gery Gugustomo

Illustrator : Priyana Nur Hasanah

Infografis : Priyana Nur Hasanah


Komentar

Pencarian tidak ditemukan

Belum ada komentar

Kuatbaca.com

Informasi


Tentang Kami

Pedoman Media Siber

Susunan Redaksi

2022 © KuatBaca.com. Hak Cipta Dilindungi