Dejavu di Afghanistan

Kuatbaca

9 months ago

“Afghanistan mengklaim akan menekan produksi opium. Itu dianggap mustahil, jika dicocokan dengan kontribusi opium terhadap perekonomian pemerintah Taliban di era tahun 1980-an. Koar-koar Taliban hanya akal-akalan politis di masa tanam, diperkirakan opium yang dihasilkan tanaman ephedera itu bakal panen di pertengahan 2023.”

 

Papaver somniferum, atau kerap disebut Poppy adalah tumbuhan berbunga idaman para pecandu. Selain enak dipandang, Poppy menyimpan sejuta fantasi bagi para penikmatnya. Poppy yang juga akrab disapa opium mengandung bahan penting dalam pembuatan heroin. Getah yang dihasilkan dari bunga opium mengandung morfin, yang tak lain dan tak bukan merupakan bahan utama heroin.

 

Bicara perkara Opium, tak lepas dari Afghanistan yang saat ini berhasil kembali dikuasai oleh Taliban. Bagaimana tidak, salah satu negara Timur Tengah tersebut tercatat sebagai pemasok terbesar opium untuk dunia sebanyak 80 persen.

 

Berabad-abad lalu, Poppy memang sudah ditanam di Afghanistan untuk konsumsi lokal. Para sejarawan mengklaim Jenghis Khan, penakluk dari Mongol pada abad ke 13 adalah sosok yang pertama kali memperkenalkan tanaman itu di sana.

 

Iklim geografis yang dimiliki Afghanistan memang cocok untuk budidaya Poppy. Tanaman ini dapat tumbuh subur di lahan kering dengan sistem irigasi tadah hujan.

 

Singkat cerita, pada 1979 Unisoviet lakukan invasi ke Afghanistan. Alhasil kelompok pemberontak pejuang Afghanistan pun lahir. Kala itu para pemberontak mendapat dukungan dana dari Amerika Serikat untuk memerangi Unisoviet. Selain Amerika, bisnis Opium yang menjanjikan juga jadi modal perang bagi para pemberontak.

 

1989 Soviet pun mundur dari Afghanistan. Amerika tak lagi kucurkan dananya ke negeri Opium tersebut. Opium jadi jalan terbaik yang tak bisa disangkal, cara mudah dapatkan uang untuk bertahan di fase perebutan kekuasaan faksi-faksi pemberontak yang membuat Afghanistan porak poranda.

 

1996, Taliban berhasil merebut Afghanistan. Produksi opium mencapai rekor tertingginya pada 1999 dengan jumlah 4.600 ton per tahun. Pemerintahan Taliban saat itu melegalkan masyarakatnya untuk memproduksi opium dengan pajak 10 persen.

 

Lewat pajak tersebut, Taliban mampu meraup USD9 juta untuk mendanai militer dan membentuk pemerintahan.

 

Satu tahun kemudian, petinggi Taliban saat itu, Mullah Omar melarang warganya menanam Opium. Menurutnya hal tersebut bertentangan dengan ajaran Islam.

 

Hal tersebut ternyata salah satu langkah diplomatis Internasional Mullah demi mendapat dukungan dari negara lain. United Nations Office on Drugs and Crime, Badan PBB untuk urusan narkoba dan kejahatan akhirnya menjanjikan bantuan kemanusiaan untuk setiap ladang Opium yang berhasil dikontrol. Alhasil, pada tahun 2000 produksi Opium di Afghanistan menurun drastis.

 

Kasus Osama Bin Laden 2001, Amerika akhirnya menginvansi Afghanistan. Taliban pun tersingkirkan dari kekuasan. Guna mendongkrak laju ekonomi, serta asupan dana perang melawan Amerika.

 

Taliban akhirnya kembali menanam Opium. Tak hanya menanam, pihaknya juga mengolah opium hingga jadi heroin. Hal ini membuat Taliban menjadi produsen opium dan heroin terbesar di dunia selama dua dekade.

 

Jurnalis detik.com sempat menulis keterangan primer dari sumber di Afghanistan yang terlibat dalam perdagangan narkotika di Afghanistan bercerita, sekitar 3.000 kilogram sabu sekarang diproduksi di lebih dari 500 "pabrik darurat" setiap hari.

 

Tempat produksi itu berada di sebuah distrik terpencil di barat daya Afghanistan. Distrik itu dikenal sebagai wilayah penghasil narkotika.

 


Pertengahan Agustus lalu, Taliban kembali menduduki Kota Kabul dan merebut istana kepresidenan setelah sebulan lebih bertempur. Afghanistan kini kembali dibawah kuasa Taliban. Hal tersebut membuat komunitas internasional menarik dukungan mereka. Alhasil ekonomi Afghanistan runtuh.

 

Namun pernyataan kontroversional keluar dari pimpinan Taliban. Beberapa hari setelah merebut kekuasaan Afghanistan, pimpinan Taliban berkata akan melarang penanaman opium.

 

Dejavu, nampaknya Taliban kali ini sedang melancarkan strategi yang sama pada saat kepemimpinan Mullah Omar tahun 2000 lalu. Dengan harapan mendapat dukungan Internasional, Taliban rela memangkas sumber keuangannya selama ini.

 

Dukungan internasional dianggap penting bagi Taliban guna mencegah oposisi serta mencegah pemberontakan dari Faksi anti Taliban.

 

Tantangannya, jika opium benar-benar diharamkan, Taliban jelas akan kesulitan dalam ekonomi. Terlebih lagi, sumber daya minyak di Afghanistan kini sudah tidak dapat diandalkan selepas hengkangnya tentara Amerika. Negara-negara seperti Indonesia, China, dan Palestina menjadi harapan Taliban memperkuat kedaulatannya.

 

Lewat wawancara ekslusif Juru Bicara Taliban Suhail Shaheen bersama jurnalis Narasi TV, Suhail menjelaskan semangat warga Indonesia ciptakan kedamaian di Afghanistan menjadi pintu masuk hubungan itu terwujud.

 

“Kami ingin memiliki hubungan yang baik dengan negara Islam yang besar ini (Indonesia) dan berharap mereka berpartisipasi dalam rekontruksi, dan membangun kembali Afghanistan” jelas Suhail.

 

Ia mengklaim sudah melakukan hubungan diplomasi dengan Indonesia, “Kami berharap, kami memiliki harapan besar dari Indonesia sebagai saudara seiman dan negara islam yang hebat,” jelas Suhail.

 

Selain Indonesia, China tentu saja menjadi target Taliban diplomasi pemerintahan baru Afghanistan. Sebagai investor terbesar di Asia Tenggara, China diharapkan dapat menjadi tonggak perekonomian Afghanistan di bawah kepemimpinan Taliban.

 

“Kami memiliki hubungan dengan China. China adalah negara tetangga yang baik bagi Afghanistan. Kami akan melihat peran mereka dalam membangun kembali Afghanistan,” tambah Suhail.

 

Pengakuan Suhail cukup menjelaskan sebuah potret mesra Menteri Luar Negeri China Wang Yi dengan pimpinan Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar. Foto itu diambil di Tianjin, China pada 28 Juli 2021, atau beberapa waktu sebelum Taliban menguasai pemerintahan Ashraf Ghani, pemerintahan Republik Afghanistan sebelumnya.


Potret itu menjadi muatan politik tingkat tinggi, bukan semata-mata Taliban mengambil alih pemerintahan yang sah kala itu, tetapi menandakan pergeseran patron politik Afghanistan dari AS ke China.


China sendiri memiliki agenda penting dengan Afghanistan. Sudah hampir satu dekade, pemerintahan Xi Jinping mengembangkan China Pakistan Economic Corridor (CPEC) di Pakistan, yang dianggap sebagai pendukung utama Taliban. Hal ini pula yang membuat pemerintahan Ashraf Ghani dan India memusuhi China dan Pakistan. Jika Afghanistan melalui pemerintahan Taliban bisa dianeksasi, hal mudah bagi Cina untuk melanjutkan OBOR/BRI yang terintegrasi dari Pakistan ke Afghanistan dan/atau membuka cabang ke jalur Asia Tengah melalui Uzbekistan dan Tajikistan serta Iran.


China dan Afghanistan memiliki sikap politik internasional yang sama. Memerangi Amerika Serikat. Harusnya peluang itu cukup besar. Namun, keputusan melarang opium di Taliban menuai kontroversi. Para petani miskin di sana merasa keberatan dengan adanya kebijakan tersebut.

 

Beberapa pedagang opium berkata, Taliban sebenarnya dapat secara efektif memberlakukan larangan opium. Walau begitu, banyak pedagang skeptis pada opsi itu.

 

"Taliban telah mencapai apa yang mereka miliki berkat opium," kata seorang petani dengan nada marah di hadapan Jurnalis BBC.

 

Di beberapa wilayah Afghanistan, industri narkotika sangat mempengaruhi perekonomian lokal.

 

"Tak satu pun dari kami akan membiarkan Taliban melarang opium kecuali komunitas internasional membantu rakyat Afghanistan. Kalau tidak, kami akan kelaparan dan tidak akan bisa menafkahi keluarga," ujarnya.

 

Gandum Rez, sebuah desa terpencil di Helmand, hanya dapat dicapai melalui jalur berkerikil. Namun daerah itu berada di peta perdagangan heroin global. Sejumlah besar kios pasar dikhususkan untuk penjualan opium, desa ini juga memiliki beberapa lokasi pabrik, masing-masing mempekerjakan 60 hingga 70 orang.

 

Pabrik-pabrik itu mengolah opium menjadi heroin. Zat adiktif itu kemudian diselundupkan ke Pakistan dan Iran, kemudian terus bergerak ke seluruh dunia, termasuk Eropa. Menurut salah satu sumber lokal, satu kilogram heroin untuk ekspor dijual dengan harga sekitar 210.000 rupee Pakistan (sekitar Rp17 juta).

 

Pemberantasan opium oleh Taliban pada dasarnya tidak punya komitmen. Saat ini Taliban masih mengizinkan pabrik sabu beroperasi. Hal itu dikemukakan David Mansfield, pakar perdagangan narkotik Afghanistan. Dengan memanfaatkan citra satelit, ia justru melacak adanya pertumbuhan produksi shabu di Afghanistan.


Mansfield mengatakan, larangan ephedra muncul pada saat panen produksi sabu telah dikumpulkan. "Jadi dampak sebenarnya tidak akan terasa sampai Juli tahun depan (2023-RED) pada jadwal panen ephedra berikutnya," pungkas Mansfield. (*)


Jurnalis : Virga Agesta

Editor : Jajang Yanuar

Illustrasi Cover : Bagus Maulana