Kecolongan Agen Rahasia Iran

Kuatbaca

9 months ago

 “Hampir sepuluh tahun agen rahasia Iran melenggang keluar-masuk negeri ini. Penguatan fungsi intelijen dan imigrasi harus diperhatikan. Mengawali itu, Indonesia mestinya perlu ambil tindakan tegas dalam hubungan diplomatik dengan Iran.”

 

JAKARTA – Sepandai-pandainya tupai melompat, sekali waktu pasti terjatuh juga. Peribaratan itu cocok untuk menggambarkan Ghassem Saberi Gilchalan. Warga Negara Asing (WNA) asal Iran yang diduga berprofesi agen rahasia. Hampir selama sepuluh tahun ini ia bebas melenggang ke Indonesia, lolos dari pengamanan barikade kontra intelijen dalam negeri.

 

Kejadian itu bermula pada Kamis, 27 Mei 2021, tim SatReskrim Polres Kota Bandara Soekarno Hatta melakukan pengecekan history tiket di Qatar Airways dan didapati Ghassem merubah tiket kepulangan dari semula 18 Juli 2021 menjadi 27 Mei 2021. Sekitar pukul 18.00 WIB, ia ditangkap di Area Keberangkatan Terminal 3 Internasional Soekarno Hatta. Saat penangkapan, polisi menemui 3 Paspor. Masing-masing dari 2 paspor tersebut memiliki negara origin Bulgaria dan 1 paspor lainnya bernegara origin Iran.

 

Pihak kepolisian menerangkan bahwa dari hasil interogasi, Ghassem mengakui telah menggunakan 2 paspor palsu Bulgaria bernomor 382509836 dan 366391997 untuk masuk ke wilayah Indonesia pada Rabu 19 Mei 2021 dalam penerbangan Qatar Airways QR956 Doha-Jakarta.

 

Petugas mencurigai Ghassem lantaran membawa telepon genggam lebih dari satu. "Saya punya teman di beberapa negara, saya harus menyimpan nomor-nomornya," kata Ghassem ditirukan oleh Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Bandara Soekarno-Hatta AKP Rezha Rahandhi, September, Rabu (9/12/21).

 

Setelah penyelidikan lebih lanjut, barulah diketahui bahwa Ghassem merupakan warga negara asal Iran sebagaimana tertulis di Paspornya bernomor E4742639 yang dibawanya saat penangkapan. Paspor itu dibuat pada tanggal 29 Oktober 2018 dan akan habis masa kadaluarsa tertanggal 29 Oktober 2023.

 

Setalah 2 bulan tertangkap, pada 28 Juli 2021 Ghassem diadili di Pengadilan Negeri Tangerang (PN Tangerang) dengan Vonis hukuman pidana 2 tahun penjara dan denda Rp100 juta subsider dua bulan kurungan atas kepemilikan dokumen palsu. Untuk menguatkan apa yang telah dijatuhkan oleh PN Tangerang, Mahkamah Agung mengeluarkan Direktori Putusan pada 12 November 2021.

 

Gerak-gerik Ghassem layaknya Sacha Baron Cohen yang berperan sebagai intel Israel Mossad Eli Cohen di Film The Spy yang tayang di Netflix. Membawa sejumlah uang asing setara Rp140 juta, serta ditemukan 11 telpon seluler, satu tablet, satu pemutar musik, dua modem serta beberapa kartu SIM lokal dan luar negeri.

 

Dari 11 ponsel, tiga perangkat di antaranya hanya bisa dipakai untuk melakukan panggilan telepon dan berkirim pesan saja. Delapan lainnya bermerk Nokia 3310, dan 8110. Sisanya telepon pintar seperti iPhone 5, iPhone 6, Iphone 6 Plus, iPhone 11 dan terakhir Huawei Y5. Seperti tertulis di dalam putusan direktori MA.

 

Catatan imigrasi, Ghassem masuk-keluar Indonesia selama 30 kali dalam 9 tahun terakhir.

 

“Pada 2012-2021 menggunakan paspor Iran dan Bulgaria. Paspor Iran digunakan pada 2012 dan 2019 hanya untuk perjalanan dari dan ke negaranya. Sementara 2 Paspor Bulgaria digunakan untuk masuk ke Indonesia sepanjang 2013-2018 transit dari Malaysia, Singapura Thailand dan Australia,” ujar pihak imigrasi yang tidak ingin disebutkan namanya, dikutip dari pemberitaan Kompas, Sabtu (11/12/2021).

 

Kecolongan invasi agen spionase ke dalam suatu negara mengindikasikan adanya titik lemah keamanan nasional suatu negara. Pada masa perang dingin, masalah ini begitu menyeramkan bagi suatu masyarakat.

 

Pengamat Intelijen dan Terorisme Al-Chaidar menjelaskan kepada Kuatbaca.com, bahwa potensi rahasia yang bocor merupakan ‘kulik-kulik’ rahasia militer dan potensi penduduk seperti mapping para tokoh nasional serta mapping pertambangan yang dimiliki Indonesia.

 

DI era sekarang, invasi spionase mungkin jauh dari kata pendudukan wilayah. Tetapi, informasi dalam negeri yang bocor keluar akan berdampak langsung terhadap isu-isu riil yang akan mengganggu stabilitas keamanan nasional.

 

“Termasuk di dalamnya titik-titik rawan bencana,” ungkapnya, Selasa (14/12/2021).

 

Menurut Dosen Universitas Malikussaleh Lhokseumawe ini, indikasi kebocoran lainnya ialah masalah yang mengganggu potensi penduduk. Khususnya, jika spionase ini datang dari Iran, maka identik dengan isu agama syiah.

 

Dalam satu tahun terakhir bara konflik Sunni-Syiah memang menggejala. Di Afghanistan, setelah ISIS berhasil melakukan pendudukan terhadap pemerintahan, terjadi bom bunuh diri di masjid beraliran Syiah yang menewaskan 47 orang di bulan Oktober lalu.

 

Sedangkan di Indonesia, Syiah menjadi kambing hitam dalam kasus Herry Wirawan, ustadz yang mencabuli 20 santriwatinya. Iran merupakan negara yang cukup fasis dalam soal keyakinan, karena mayoritas negaranya Muslim beraliran Syiah.

 

“Potensi penduduk, dalam kaitan ini khususnya dalam penyebaran agama syiah yang penganutnya sudah banyak di Indonesia. Ini menjadi isu yang sangat krusial untuk menjadi target invasi Iran dalam ‘menyerang’ Indonesia dari sisi stabilitas negara,” jelasnya.



Gempuran spionase asing ke Indonesia memang merupakan isu yang tak akan habis. Berdasarkan data rekapan sejarah Indoensia, hal ini sudah terjadi sejak era pemerintahan Belanda.

 

Tidak lain dan bukan, upaya melakukan dominasi terhadap wilayah Nusantara merupakan hal yang strategis dalam pandangan negara lain, termasuk di dalamnya Belanda yang ingin mempertahankan status quo di Nusantara.

 

Belanda yang kala itu telah mengeluarkan anggaran perang sangat besar, dan tentu saja banyak tentaranya, mendorong Belanda mengutus seorang orientalis bernama Christiaan Snouck Hugronje dalam perang perjuangan Aceh yang berlangsung lama, dalam kurun waktu 1873 hingga 1904. Ia menyamar sebagai Abdul Ghaffar lalu akrab disapa Gopur. Ia tiba di Aceh pada 6 Juli 1891 setelah wafatnya pemimpin gerilya Aceh Teungku Chik di Tiro (1836-1891).

 

Ia tinggal di sana hanya sampai Februari 1892. Gopur pulang ke rumah Sangkana, seorang perempuan asal Cimahi yang dinikahinya sejak 1890. Ia menuangkan pemikiran dan pengalamannya selama di Aceh ke dalam De Atjehers (Orang Aceh). Ia jugalah yang menjadi figur orang Belanda dalam kisah Kartini, tokoh reformis perempuan asal Jepara-Jawa Tengah.

 

Di negerinya, Snouck merupakan utusan dari Direktur Pendidikan Agama dan Perindustrian (PAP), juga Menteri Urusan Negeri Jajahan. Fakta ini jugalah yang menjadi kritik terhadap legenda Kartini untuk tidak dijadikan figur perempuan reformis. Ya, karena faktor ia terhasut intel Belanda.

 

Di era pemerintahan Soekarno pun pernah mengalami kasus yang serupa. Intel itu bernama Allen Lawrence Pop yang merupakan tentara bayaran CIA. Salah satu misinya menggulingkan pemerintahan soekarna dengan membantu pemberontakan PRRI/Permesta. Ia tertangkap TKR -TNI kala itu- ketika usahanya membom armada gabungan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dengan pesawat pembom B-26 Invader AUREV.

 

Kejadian selanjutnya, jaringan intelijen Uni Soviet pernah beraksi di Jakarta pada 1982. Seorang perwira tinggi TNI Letkol Soesdarjanto membocorkan dokumen data-data kelautan Indonesia kepada Alexandre Finenko, intel yang mengepalai kantor cabang maskapai Aeroflot di Jakarta.

 

Soesdarjanto ditangkap di sebuah rumah makan saat menyerahkan dokumen kepada atase militer Soviet, Sergei Egorov. Finenko ditangkap 6 Februari 1982, mogok makan hingga dideportasi pada 13 Februari. Sejak saat itu, operasi Aeroflot di Indonesia ditutup oleh pemerintah Orde Baru.

 

Pada era reformasi, kasus spionase yang menggegerkan publik tidak dilakukan secara tradisional dengan mengirimkan orang, melainkan dilakukan melalui penyadapan alat komunikasi keluarga kepala negara.

 

Ini terjadi pada tahun 2009, dinas intelijen Australia berupaya menyadap telepon seluluer Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan istrinya, Ani Yudhoyono. Informasi ini terungkap di dalam dokumen Dewan Keamanan Nasional Amerika Serikat yang dibocorkan melalui jaringan wikileaks, Edward Snowden. Disebutkan juga, sasaran lain dalam operasi tersebut Wakil Presiden Boediono serta Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa dan mantan Duta Besar Indonesia buat Amerika Dino Patti Djalal.

 

Dokumen berupa bahan presentasi bertajuk sangat rahasia ini milik Departemen Pertahanan Australia dan Badan Intelijen Australia (DSD), dilansir dari media Australia ABC, Senin (18/11/2013). Dokumen ini menyebutkan jenis telepon seluler dipakai target. SBY dan Ani Yudhoyono menggunakan Nokia E-90-1. Boediono memakai BlackBerry Bold 9000.

 

Terakhir ada pengakuan mantan diplomat Australia Philip Dorling, ia mengatakan Australia sudah lama mengintai tindak-tanduk tetangganya. Kedutaan Besar Australia di Jakarta adalah lokasi pertama operasi badan intelijen Australia di luar negeri. Sebuah catatan harian salah satu diplomat senior Australia yang tidak terpublikasikan, menyebutkan bahwa DSD rutin menyadap hubungan kawat diplomatik Indonesia sejak pertengahan 1950-an.

 

Aksi Australia memata-matai Indonesia bermula dari kerja sama dengan unit intelijen Inggris MI6 dan lebih jauh lagi kerja sama dengan badan intelijen Amerika Serikat (CIA). Salah satu misi spionase mereka adalah Timor Timur.

 

Pembenahan fungsi intelijen di Indonesia memang terus dilakukan. Salahsatunya, dengan memantapkan fungsi BIN yang diatur dalam UU No. 17 tahun 2011 tentang BIN, ditekankan dengan Perpres No. 90 pasal 2 tahun 2012 tentang BIN. Dalam penulisan ini, pihak BIN enggan berkomentar mengenai kasus spionase Iran. Katanya, ini masalah rahasia.

 

Namun, tentu saja bukan hanya BIN yang bertanggungjawab atas lengahnya pengawasan orang. Pihak imigrasi nyata-nyata telah kecolongan soal verifikasi data dan riwayat para pelancong mancanegara.

 

Padahal, itu sudah termaktub dalam PP No. 48 tahun 2021 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Pemerintah Nomor 31 tahun 2013 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian.

 

Alih-alih saling menyalahkan, Al-Chaidar mengungkap adanya hambatan yang dihadapi Indonesia dalam pengungkapan kasus spionase. Salah satunya, soal pemantauan aktivitas WNA dan kamuflase agen rahasia dalam berbagai profesi, yang itu pun ditampung dengan baik oleh perusahaan asal negaranya.

 

“Hambatannya bisa bermacam-macam, misalnya soal pemantauan aktivitas orang asing yang sangat lemah. Juga bisa jadi seseorang WNA memiliki banyak pekerjaan yang tidak mencurigakan bagi intelijen negara,” ujarnya.

 

Namun paling tidak, Al-Chaidar berharap dari ditemukannya aksi spionase ini mengevaluasi hubungan diplomatis dengan Iran.

 

“Tindakan tegas itu seperti, seluruh diplomat Iran bisa diusir dari Indonesia,” tutupnya. (*)


Jurnalis : Ahmad Hendy Prasetyo

Editor : Jajang Yanuar

Illustrasi Cover : Bagus Maulana