Sosial & Budaya

Terkepung Judi, Indonesia Mau ke Mana?

Kuatbaca

17 November 2022 05:10

Test

“Indonesia terjebak diantara negara-negara ASEAN yang sudah melegalkan judi. Meskipun Polisi hingga Menkominfo sudah gencar lakukan penegakan hukum terhadap ratusan pelaku judi, namun judi tidak akan bisa diberantas karena menurut perspektif internasional, judi bukanlah tindak kejahatan. Indonesia dinilai tidak punya visi hukum dalam menaungi praktik judi, sehingga penegakkan hukum menjadi ajang kucing-kucingan antara oknum penegak hukum dengan pengusaha yang ingin berbisnis judi.”

 

Indonesia masih menjadi negara yang tidak punya visi hukum dalam menaungi praktik judi. Indonesia hanya satu negara yang masih melarang beradu cuan di meja taruhan, diantara negara-negara ASEAN yang melegalkan judi.

 

Sebut saja Singapura yang memiliki kasino bintang lima seperti Marina Bays Sands Casino, Resort World Sentosa Casino, hingga Aegan Paradise Cruise Casino. Sedangkan Malaysia punya lokalisasi judi Casino De Genting.

 

Negara-negara ASEAN lainnya juga menjadikan pajak dari judi sebagai sumber pendapatan negara. Sebut saja Kamboja. Kemudian yang paling fenomenal saat ini Filipina, ketika Presiden Rodrigo Duterte membuat undang-undang nomor 11590 yang menjamin bisnis judi di negaranya.

 

Thailand juga dikabarkan akan melegalkan judi setelah melegalkan ganja. Di laos, orang berjudi di Provinsi Bokeo. Vietnam bahkan menyedut para wisatawan asing dengan membangun pusat kasino di Hoiana dengan nilai pembangunan USD 4 miliar. Bahkan negara yang baru berumur dua dekade, Timor Leste, sudah mendirikan titik-titik judi di Dili dan beberapa distrik lainnya.


Saksikan juga peliputan ini dalam bentuk video.


Judi di Indonesia seakan menjadi masalah besar ketika diisukan oknum polisi berpangkat Jenderal tersandung kasus pembunuhan ajudannya. Siapa lagi kalau bukan Ferdi Sambo, setelah mencuat pengungkapan kasus tersebut, FS diisukan membekingi praktik judi.

 

Dalam rapat Komisi III DPR bersama Ketua Kompolnas Mahfud MD dan Komnas HAM membahas isu Brigadir Yosua dan Ferdy Sambo, Politikus PDIP Arteria Dahlan mempertanyakan soal isu kerajaan Sambo di internal Polri. Saat itu dirinya membawa diagram yang sempat viral di media sosial tentang konsorsium judi yang dibekingi FS.

 

FS diisukan memiliki 'kekuatan' di Polri sehingga sulit disentuh. Arteria pun meminta Mahfud sebagai Ketua Kompolnas memberikan penjelasan. Tak berselang lama, grafik serupa juga muncul dengan terduga oknum pati polisi yang mendapat setoran, adalah perwira aktif yang saat ini menjabat sebagai Kabareskrim, Komisaris Jenderal Agus Andrianto.

 

Grafik yang memejeng nominal omset judi Rp552,645 triliun itu belum terungkap sampai sekarang. Presiden Joko Widodo akhirnya turun tangan. Dirinya memberi arahan kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit untuk memberantas judi online.

 

“Jangan sampai pemerintah dianggap lemah. Jangan sampai juga Polri dianggap lemah. Saya sudah perintahkan kepada Kapolri saat itu urusan judi online, bersihkan,” ujar Jokowi dalam pertemuan bersama jajaran Polri di Istana Negara, Jumat (14/10/2022).

 

Arahan itu disambut Kapolri Listyo Sigit Prabowo dengan memerintahkan agar jajarannya bergerak cepat berantas kongkalikong praktik judi di daerah. Rentetan penangkapan pun bermunculan. Mulai dari pemain kecil, hingga bandar kelas kakap, satu persatu diamankan pihak kepolisian.

 

Dua bulan sebelumnya, tepatnya Sabtu 20 Agustus 2022 tim Polda Jateng berhasil menggerebek markas judi online di Purbalingga. Dalam aksi tersebut, enam orang ditetapkan tersangka. Pada 25 Agustus 2022, Polda Banten berhasil mengungkap 39 kasus praktik judi online. Dalam kasus tersebut diamankan 89 tersangka dengan total omset miliaran rupiah tiap bulannya.

 

Tak hanya para bandar, warga yang kedapatan sedang asik bermain judi online pun turut diamankan. Di Lumajang, lima orang warga terancam hukuman enam tahun penjara akibat tertangkap tangan. Jabodetabek pun tak mau ketinggalan, Polres Metro Bekasi Kota mengamankan 3 orang yang sedang mengadu cuan lewat putaran slot secara daring. Sehari setelah instruksi presiden turun, bandar besar judi online, Apin BK yang bersembunyi di Malaysia berhasil ditangkap.

 

Tak berselang lama, tiga orang bandar kelas kakap lain selain Apin turut diamankan di Kamboja yaitu Tjokro Sutrisno, Elvan Adrian, dan Ivan Tantowi.

 

“Alhamdulillah atas kerjasama dengan teman-teman kepolisian Diraja Malaysia salah satu buron atas nama Apin BK yang sempat bersembunyi di Singapura dan kemudian bergeser ke Malaysia, hari ini atas kerjasama dan sekama Police to Police buron tersebut berhasil diserahkan kepada kita,” ujar Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (14/10/2022).

 

Penangkapan para penyelenggara judi ibarat fenomena gunung es yang hanya mencengangkan masyarakat Indonesia di jagat maya. Padahal dalam praktiknya, judi ibarat penyakit menular yang belum ada obatnya.


 

Bisnis Lancar di Balik Tameng Yurisdiksi

 

Minggu pertama bulan November, tim Kuatbaca mencoba mengakses sejumlah situs judi online lewat perangkat pencarian internet. Selain masih bisa diakses, situs tersebut ternyata masih menerima pendaftaran akun baru. Setelah mencoba membuat akun, tim Kuatbaca berhasil masuk ke situs tersebut.

 

Bisa dibilang, banyaknya aksi-aksi penangkapan yang dilakukan pihak kepolisian nampaknya tidak membuat serta merta judi di Indonesia lenyap. Demi mengetahui lebih dalam bandar judi online beroperasi, tim Kuatbaca pun menemui salah seorang mantan admin judi online, sebut saja Ajun (nama samaran).

 

Sebelum membuka tabir mengapa judi online susah diberantas, Ajun menceritakan bagaimana dirinya menjerat calon korbannya. Sebagai petugas pemasaran judi, Ajun mengaku membeli kontak pribadi calon korbannya dari media sosial.

 

“Biasanya itu dari situs lain juga kita dapet belinya gitu. Dari situs lain yang member-member kalah entah yang menang nanti kita butuh data kita beli ke mereka. Kebanyakan sih biasanya dari Facebook sih jual beli data gitu,” jelasnya.

 

Selain lewat sistem door to door, situs judi online juga memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan bisnisnya. Tak jauh berbeda lewat cara ini, para admin yang bekerja juga menjanjikan kemenangan kepada calon korbannya dengan cara menyajikan konten yang menggambarkan sebuah kemenangan besar dengan nilai fantastis.

 

“Dia grup, satu grup ini isinya 3 orang ada yang ngerayu, ada yang ngolah datanya, satu lagi ini kalau tidak salah tugasnya ngerapihin datanya siapa aja yang udah depo, mana aja yang udah depo,” lanjut Ajun.

 

Strategi pemasaran lewat media sosial biasanya juga menggunakan peran seorang influencer. Para influencer yang dibayar mempromosikan situs judi online lewat akun media sosialnya, bahkan tak jarang dari mereka juga menayangkan dirinya bermain judi online secara live.

 

Hingga berita ini ditayangkan sejumlah aktivitas pemasaran yang disebut di atas masih gencar dilakukan. Jika Indonesia mau memberlakukan prevensi atau pencegahan, tulang punggung limitasi ruang gerak judi ada pada Kementerian Komunikasi dan Informasi, terutama berkaitan dengan judi online.

 

Namun situasinya, Menteri Kominfo, Johny G Plate tidak bisa memberantas situs judi online secara tuntas. Hanya instrumen hukum yang dianggap sebagai instrumen akhir pemberantasan judi. Penanggulangan masyarakat yang menggemari judi diserahkan pada normatif kesalehan individual.

 

“Tantangannya karena ini judi online ya tantangannya cuma satu kesadaran. Kita bersihkan hari ini setelah dibersihkan ada muncul lagi ya dibersihkan kembali ya ini patah tumbuh hilang berganti kejar-kejaran,” ujar Menkominfo Johny G Plate, Kamis (25/8/2022).

 

Ini menyibak narasi di awal, bahwa Indonesia masih jadi negara yang tidak punya visi hukum dalam menaungi judi. Salah satu yang menjadi alasan sulitnya pemberantasan judi online hingga ke akar-akarnya adalah situs judi online berpusat di luar negeri.

 

Sebut saja Kamboja, Filipina atau Thailand, negara-negara ini kerap menjadi pelarian bandar judi online untuk melancarkan bisnisnya.

 

“Di sana lebih aman. Gak ada grebek atau gimana gitu,” jelas mantan admin judi online, Ajun (nama samaran).

 

Menurut Ajun, situs-situs judi online yang berhasil diamankan, merupakan situs yang berasal dari Indonesia. Adapun situs-situs yang berasal dari luar negeri dapat dikatakan aman dari jangkauan Polisi.

 

“Kalau yang kena grebek itu biasanya yang mungkin servernya di Indonesia langsung. Ya dari info-info dari teman-teman yang lain sih gitu ada yang servernya di Indonesia ada yang di luar,” lanjut Ajun.

[INFOGRAFIS]



Amannya para pebisnis judi online beraksi di luar negeri lantaran negara-negara yang mereka tempati merupakan negara yang melegalkan judi. Hal tersebut terjadi lantaran tiap-tiap negara memiliki yuridiksi atau kedaulatannya sendiri. Itu sebabnya banyak pelaku bisnis judi online asal Indonesia memilih menamam asetnya di luar negeri.

 

“Jadi untuk kemudian mereka menghindari penegakan hukum dan juga menghindari kejahatan yang mereka lakukan, mereka bisa pergi ke negara lain,” jelas Dosen Hukum Internasional UI, Hadi Purnama kepada Kuatbaca.

 

Selain teritorial, prinsip yuridiksi yang bisa menjadi celah untuk mengamankan warga negara Indonesia di negara yang melegalkan judi adalah prinsip Kewarganegaraan. Namun hal ini juga menuai tantangan mengingat kepentingan masing-masing negara berbeda. Terlebih lagi jika menyangkut pendapatan suatu negara lewat pajak judi.

 

“Contoh misalnya tadi bicara di Kamboja misalnya, judi memang satu tindak pidana di Indonesia tetapi kalau misalnya itu adalah berada di wilayah Kamboja judi itu kan sesuatu yang legal, diperbolehkan, bukan merupakan tindak pidana. Nah ini yang tadi saya bicara bahwa kepentingannya itu menjadi berbeda,” lanjut Hadi.

 

Sulit bagi Indonesia yang bertahan di antara negara-negara ASEAN yang melegalkan judi. Praktik judi tidak mungkin bisa diberantas sampai akar-akarnya karena dalam perspektif internasional judi bukanlah sebuah tindak kejahatan. Jangan sampai masalah judi ini hanya menjadi ajang kucing-kucingan antara oknum terkait dan tikus atau pengusaha yang ingin berbisnis judi. (*)

Jurnalis : Virga Agesta

Editor : Jajang Yanuar

Illustrator : Bagus Maulana

Infografis : Bagus Maulana


Komentar

Pencarian tidak ditemukan

Belum ada komentar

Kuatbaca.com

Informasi


Tentang Kami

Pedoman Media Siber

Susunan Redaksi

2022 © KuatBaca.com. Hak Cipta Dilindungi