Sosial & Budaya

Cari Selamat di Tengah Kerumunan Umat

Kuatbaca

20 November 2022 04:53

Test

“Rentetan peristiwa kerumunan umat yang menyebabkan korban jiwa sekan menjadi alarm bagi sebuah negara yang tidak menjalankan sistem crowd management termasuk di Indonesia. Hal itu tergambarkan dari peristiwa Kanjuruhan hingga yang terbaru Konser musik Sheila on 7. Maka dari itu Indonesia perlu mengadopsi standar crowd management yang layak.”


 

Oktober 2022 akan dikenang sebagai bulan yang kelam bagi sebagian negara asia tak terkecuali Indonesia. Hal itu lantaran adanya peristiwa kerumunan massa yang merenggut lebih dari seratus nyawa dalam waktu yang bersamaan.

 

Peristiwa kerumunan yang memakan korban diawali di Indonesia, pada Sabtu, 1 Oktober 2022. Dunia dikagetkan dengan adanya tragedi kanjuruhan yang merenggut korban jiwa sebanyak 135 orang. Tragedi itu berawal dari kericuhan seusai laga sepak bola di Stadion kanjuruhan, Malang, Jawa Timur.

 

Kesimpangsiuran informasi penyebab terjadinya tragedi kanjuruhan membuat pemerintah pada 3 Oktober 2022, membentuk Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF). Tim itu ipimpin langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD.

 

Setelah dua pekan bekerja, TGIPF pada 17 Oktober 2022 melaporkan hasil temuan dengan menyatakan dalam peristiwa tragedi kanjuruhan ditemukan adanya ketidaksesuaian prosedur penangan yang dilakukan oleh aparat keamanan. Hal itu menimbulkan kepanikan serta suasana berdesakan yang berujung adanya korban jiwa.

 

Bencana kerumunan massa (Crowded Disaster) yang menimbulkan korban jiwa juga menimpa negeri ginseng, Korea Selatan (Korsel). Akhir Oktober 2022, tepatnya pada Sabtu (29/10/2022) malam, sekitar 153 orang meregang nyawa saat menghadiri perayaan festival Halloween di Itaewon, Seoul.

 

Pada perayaan tersebut, diperkirakan ratusan ribu pengunjung menghadiri pesta kostum untuk merayakan Halloween. Namun naasnya, kondisi yang seharusnya menjadi ajang suka cita seketika berubah kekacauan akibat kerumanan massa yang berdesakan di gang sempit seperti video serta foto yang beredar di media sosial.

 

Seorang saksi mata, Suah Cho (23) memberikan gambaran mencekam saat pengunjung pesta saling berdesakan sehingga sulit untuk bergerak atau bahkan bernapas.

 

“Tiba-tiba, beberapa orang mulai mendorong satu sama lain, dan orang-orang berteriak.” Jeritan itu berlangsung selama 15 menit, kata Suah, dikutip dari CNN Internasional, Minggu (30/10/2022).

 

Selang satu hari pasca kejadian di Korsel, dunia kembali dikejutkan dengan pemberitaan ambruknya jembatan di sungai Machchu, India. Dalam peristiwa itu setidaknya menewaskan 141 orang.

 

Penyebab ambruknya jembatan yang dibangun pada tahun 1877 oleh kolonial Inggris itu terjadi lantaran adanya kerumunan massa disaat waktu yang bersamaan, berdasarkan laporan dari pemberitaan Reuters.com sekitar 500 orang telah naik ke jembatan untuk merayakan Diwali dan Chhath Puja.

 

Dalam catatan sejarah, crowd disaster mengiringi perjalanan kehidupan manusia di muka bumi. Tim Tambang Data KuatBaca.com menyoroti beberapa peristiwa crowd disaster menonjol dalam 10 tahun terakhir, dengan jumlah korban jiwa yang signifikan.

 

Pada tanggal 24 September 2015, penyelenggaraan Haji menjadi tragedi. Salah satu proses ibadah umat menimbulkan kerumunan manusia, kemudian menewaskan setidaknya 769 orang dan 934 orang terluka. Dilansir dari banyaknya pemberitaan, warga Indonesia yang tewas dalam peristiwa yang dikenal dengan Tragedi Mina tersebut, sebanyak 129 orang.

 

Selain tragedi Mina, pada 13 Oktober 2013 di India. Kejadian yang dikenal sebagai Tragedi Datia memakan korban sebanyak 111 orang dan lebih dari 100 terluka dalam sebuah perayaan Navratri di dekat sebuah kuil di distrik Datia Madhya Pradesh. Tragedi tersebut dipicu oleh desas-desus bahwa jembatan sungai yang diseberangi massa akan runtuh.

 

Adapun kejadian serupa, Festival of The Oromo pada 2 Oktober 2016 di Ethiopia memakan korban jiwa sebanyak 678 orang. Kejadian itu dipicu lantaran polisi menggunakan gas air mata dan menembaki orang-orang yang berkumpul untuk memperingati Festival Irreecha.

 

Di sisi lain daripada ajang-ajang modern saat ini, peristiwa kerumunan massa sebenarnya sudah terjadi sejak ratusan tahun lalu. Hal itu terlihat dari acara budaya khas sebuah negara. Grebeg Maulud di Indonesia, Hadaka Matsuri di Jepang dan terakhir festival Encierro di Spanyol adalah beberapa contoh acara budaya yang pasti mengundang massa yang masif.

 

Meski demikian, berdasarkan pantauan Tim Tambang Data Kuatbaca.com kejadian atau insiden kerumunan yang mengancam bisa dihindari atau terminimalisir lantaran adanya kejelasan peran dari setiap pihak yang tergabung dalam acara itu, termasuk partisipan.

 

Dalam sebuah pemberitaan di media asal Kanada, National Post, situasi penyelenggaraan Encierro dalam Festival San Fermin. “Berlarian dengan banteng dalam Pamplona San Fermin adalah event utama, tapi belum ada kematian di sana dalam kurun waktu 13 tahun. Langkah-langkah keamanan, investasi publik, dan profesionalisme para pelari tidak tertandingi,” tulis National Post (02/09/2022).

 

Begitu pun, festival Hadaka Matsuri yang diadakan setiap tahun. Ciri khas dari festival ini adalah peserta berebut jimat kayu keberuntungan. Para peserta berhimpitan di dalam kuil, saling mendorong antar peserta. Meski demikian, Sebagian besar pria lolos hanya dengan beberapa luka dan memar. Para peserta tampak saling menjaga satu sama lain, serta sama-sama menghindarkan warisan acara budaya dari bencana kerumunan.



Edukasi Lemah Berujung Bencana Kerumunan

 

Jika melihat apa yang terjadi di Kanjuruhan seakan menjadi pertanyaan besar mengapa kerumunan massa bisa menyebabkan orang meninggal dunia?

 

Pakar keamanan kerumunan dari University of Suffolk di Inggris G. Keith Still menyampaikan, apa yang terjadi di Kanjuruhan dalam sisi medis saat berada di kerumunan massa aktivitas menarik napas pun menjadi sulit.

 

“Saat orang berjuang untuk bangun, lengan dan kaki terpelintir. Pasokan darah mulai berkurang ke otak,” kata G. Keith Still

 

Ia juga menyampaikan, dibutuhkan 30 detik sebelum seseorang kehilangan kesadaran, dan sekitar enam menit mengalami asfiksia kompresif atau restriktif.

 

"Itu umumnya penyebab kematian yang dikaitkan dengan mati lemas,” ucapnya.

 

Berbeda dari G. Keith Still, Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (K3 FKM UI), Zulkifli Djunaedi menilai apa yang terjadi di Kanjuruhan menjadi bukti lemahnya edukasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Indonesia.

 

"Dalam pertandingan tersebut dihadiri ribuan massa. Jika tidak dilengkapi dengan induksi keselamatan, sistem, prosedur, sarana dan prasarana K3, semua itu berpotensi merenggut nyawa manusia. Tidak memadainya fasilitas dan sarana emergency menjadi faktor kritis pada kejadian multiple fatalities tersebut," kata ahli K3 FKM UI, Zulkifli Djunaedi, Rabu (5/10/2022).

 

Apa yang dikatakan Zulkifli Djunaedi ada benarnya, data menunjukkan 55,6 persen masyarakat tidak mengetahui adanya edukasi K3 atau Bantuan Hidup Dasar (BHD). Publikasi media itu pun hanya tergambarkan di daerah Jakarta Utara.

 

Berbeda dengan Indonesia, Korea Selatan pada 2018 mempublikasi pemberitaan mengenai pengetahuan pelajar terhadap keselamatan bencana dan pertolongan pertama mencapai angka 40.15%. Bahkan, angka itu pun masih dinilai rendah oleh Korea Selatan.




Indonesia Perlu Adopsi Standar Crowd Management


Jika merujuk pada data diatas seharusnya Indonesia perlu mengadopsi standar crowd management untuk mencegah bencana kematian yang diakibatkan oleh kerumunan massa.

 

Adapun alasannya yang pertama jumlah penduduk besar berpotensi selalu menciptakan kerumunan pada event apapun yang diselenggarakan.

 

Tak hanya itu, tingginya kegandrungan masyarakat terhadap hiburan massal, belum berbanding lurus dengan kesadaran crowd behaviour.

 

Hal itu terbukti dari peristiwa pada 29 oktober 2022 yang viral di media sosial, khususnya twitter yaitu Festival 'Berdendang Bergoyang' di Istora Senayan, Jakarta Pusat, yang menimbulkan puluhan korban pingsan akibat berkerumunan dalam satu tempat.

 

Selain itu, peristiwa serupa terjadi saat acara musik yang mengundang band asal Jogja Sheila On 7 di Mall Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, pada Sabtu, (30/10/2022). Peristiwa tersebut menimbulkan kerusuhan akibat kepanikan lantaran banyaknya massa di dalam suatu tempat.

 

Meski demikian standar crowd management hanyalah tolak ukur penting untuk meminimalisir bencana kerumunan. Justru kesadaran masyarakat menjadi penyokong keamanan kerumunan atau crowd safety. (*)

Jurnalis : Ahmad Hendy Prasetyo

Editor : Gery Gugustomo

Illustrator : Bagus Maulana

Infografis : Bagus Maulana


Komentar

Pencarian tidak ditemukan

Belum ada komentar

Kuatbaca.com

Informasi


Tentang Kami

Pedoman Media Siber

Susunan Redaksi

2022 © KuatBaca.com. Hak Cipta Dilindungi