top ads
Home / Telik / Sejarah / Menjejak Dokumen Proklamasi 17 Agustus 1945 [Bagian 2]

Sejarah

  • 219

Menjejak Dokumen Proklamasi 17 Agustus 1945 [Bagian 2]

  • August 17, 2022
Menjejak Dokumen Proklamasi 17 Agustus 1945 [Bagian 2]

Arsip yang mempertegas proklamasi kemerdekaan Indonesia berupa dokumen peristiwa dalam bentuk foto, diabadikan oleh Mendur bersaudara, yakni Frans dan Alexius. Foto pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia itu pertama kali dimuat di harian Merdeka pada tanggal 20 Februari 1946.

 

 

Pada waktu pembacaan Naskah Proklamasi pada 17 Agustus 1945 Tahun Masehi atau 2005 Tahun Showa oleh Soekarno dan Hatta mendampingi, begitu saja dibacakan tanpa direkam. Walaupun pembacaan itu terbilang amat bersahaja, berita Proklamasi tersebut perlahan namun pasti terus menyebar ke seantero negeri yang kemudian menyulut revolusi sosial di penjuru daerah.

 

Selain perbedaan pelafalan—ini terkait dengan latar belakang Soekarno yang bersuku bangsa Jawa. Soekarno melafalkan akhiran –kan dengan ken—seperti “ken” pada kendaraan. Jadi alih-alih melafalkan “menjatakan” dan “diselenggarakan”, Soekarno melafalkan “menyataken” dan “diselenggaraken”. Soekarno pun melafalkan “tempo” sesuai ketikan Sajoeti, bukan “tempoh” seperti yang dia tulis tangan sendiri. Oleh Soekarno pula “d. l. l.” dilafalkan menjadi “dan lain-lain”. Perbedaan selanjutnya antara kedua ragam pertama dengan ragam ketiga adalah perbedaan tahun. Pada ragam pertama dan kedua tertulis ’05, sedangkan apa yang terdengar pada ragam ketiga adalah seribu sembilan ratus empat puluh lima.

 

Berikut merupakan transkrip pembacaan Proklamasi oleh Soekarno: “Proklamasi// Kami bangsa Indonesia/ dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia// Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain/ diselenggarakan dengan cara saksama/ dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya//Jakarta// Tujuh belas Agustus Seribu Sembilan ratus Empat puluh Lima// Atas nama bangsa Indonesia// Soekarno Hatta//

 

“The primary of language is spoken, written form is secondary,” begitu Endang Aminuddin Aziz, Pakar Forensik Linguistik dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Aziz menguraikan definisi keaslian ucapan dan tulisan seseorang, bahwa “Data bahasa seseorang atau pihak dapat dikatakan benar selama terbukti orang atau pihak tersebut yang memproduksinya. Data itu berupa data lisan maupun data tulisan”.

 

Dalam Forensik Linguistik, tidak terdapat perbedaan berarti antara plagiat, jiplakan, dan kopian. Keasliannya mengacu pada authorship. Kepengarangan atau authorship merupakan hal-hal kebahasaan terkait pengarang bersangkutan.

 

Menurut Raistawar Pratama, sebagaimana yang ditulisnya dalam artikel "Melampaui Autentikasi; Kajian Atas Arsip Proklamasi dan Supersemar", selama memang terbukti bahwa Soekarno sendiri yang membacakan naskah Proklamasi itu, maka itulah data bahasa Soekarno, baik apa yang terjadi pada 17 Agustus 1945 maupun apa yang terjadi lima tahun kemudian. Hanya saja—menurut Forensik Linguistik—rekaman pada 1950 lebih primer daripada pada 1945, karena itulah yang diucapkan bukan dituliskan.

 

Ragam pertama dan kedua merupakan sumber primer, bahkan ragam pertama merupakan sumber otentik, karena ditulis seketika peristiwa itu terjadi. Ragam ketiga masih merupakan sumber primer karena masih merujuk pada kedua ragam sumber primer. Sehingga kita masih bisa melakukan periksa-silang (koroborasi) yang merupakan bagian dari Kritik Sumber, terutama Kritik Intern. Kesamaan ragam pertama dan kedua lainnya adalah pada ejaan yang belum disempurnakan seperti menjatakan, Hal2, jang, kekoesaan, tjara, saksama, tempoh, sesingkatsingkatnja, Djakarta, wakil2, boelan, dan tahoen. Sebagaimana sudah sama-sama kita ketahui bahwa Edjaan Soewandi pada 1948 resmi yang mengganti “oe” menjadi “u”, “tj” menjadi “c”, “j” menjadi “y”. dan “dj” menjadi “j”.

 

Sedangkan mengenai pendokumentasian visual Proklamasi Kemerdekaan sebagai sebuah peristiwa, Agung Ismawarno dalam artikel "Siapa Sosok Dibalik Foto Kemerdekaan" mengisahkan peran Mendur bersaudara. Tanpa jasa mereka, mungkin generasi berikut tak bisa melihat dokumentasi momen paling bersejarah bangsa ini, yaitu proklamasi kemerdekaan. Atau, bagaimana jika Frans Mendur tak berhasil menyembunyikan negatif foto 6 X 6 nya dari tentara Jepang? Sudah pasti tidak akaj ada dokumentasi resmi bahwa bangsa Indonesia sudah memproklamirkan diri sebagai bangsa yang merdeka.

 

Buku sejarah nasional memang tak memasukkan nama Mendur bersaudara dalam daftar pahlawan proklamasi. Bahkan namanya pun tak pernah disebut-sebut oleh para pengajar kita meski karya foto Mendur bersaudara itu mengisi ilustrasi foto dalam buku-buku sejarah nasional.

 

Syahdan, suatu pagi di bulan puasa, 17 Agustus 1945, Frans Sumarto Mendur mendapat kabar dari seorang sumber di harian Jepang Asia Raya bahwa akan ada kejadian penting di rumah kediaman Soekarno. Frans langsung bergerak menuju rumah bernomor 56 di Jalan Pegangsaan Timur itu sambil membawa kamera Leica-nya.

 

Alexius Impurung Mendur, abangnya yang menjabat kepala Bagian Fotografi Kantor Berita Jepang Domei, juga mendengar kabar serupa. Kedua Mendur Bersaudara ini lantas membawa kamera mereka dan mengambil rute terpisah menuju kediaman Soekarno.

 

Kendati Jepang telah mengaku kalah pada Sekutu beberapa hari sebelumnya, kabar tersebut belum diketahui luas di Indonesia. Radio masih disegel Jepang dan bendera Hinomaru masih berkibar di mana-mana. Patroli tentara Jepang masih berkeliaran dan bersenjata lengkap.

 

Dengan mengendap-endap, Mendur Bersaudara berhasil merapat ke rumah di Jalan Pegangsaan Timur nomor 56, Cikini, Jakarta tatkala jam masih menunjukkan pukul 5 pagi. Menjelang pukul 8, Soekarno masih tidur di kediamannya lantaran gejala malaria. Soekarno juga masih lelah sepulang begadang merumuskan naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda, Jalan Imam Bonjol Nomor 1.

 

Dibangunkan dokternya untuk minum obat, Soekarno lantas tidur lagi lalu bangun pukul 9. Dan benar, pagi itu, Jumat, 17 Agustus 1945, sebuah peristiwa penting berlangsung di sana: pembacaan teks Proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia oleh Soekarno. Pukul 10 di hari Jumat pagi itu Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Upacara proklamasi kemerdekaan berlangsung sederhana, tanpa protokol. Hanya Mendur bersaudara yang hadir sebagai fotografer pengabadi peristiwa bersejarah Indonesia.

 

Saat itu Frans hanya memiliki sisa tiga lembar plat film. Jadi dari peristiwa bersejarah itu, ia hanya bisa mengabadikan tiga adegan. Yang Pertama, adegan Soekarno membacakan teks proklamasi. Yang Kedua, adegan pengibaran bendera Merah Putih yang dilakukan oleh Latief Hendraningrat, salah seorang anggota PETA. Dan yang Ketiga, suasana ramainya para pemuda yang turut menyaksikan pengibaran bendera. Setelah menyelesaikan tugas jurnalisnya itu, Frans langsung bergegas meninggalkan rumah kediaman Soekarno karena menyadari bahwa tentara Jepang tengah memburunya. Alex Mendur tertangkap, tentara Jepang menyita foto-foto yang baru saja dibuat dan memusnahkannya.

 

Adiknya, Frans Mendur berhasil meloloskan diri. Dan sewaktu tentara Jepang menemui Frans untuk meminta negatif foto Soekarno yang sedang membacakan teks proklamasi, Frans mengaku film negatif itu sudah diambil oleh Barisan Pelopor. Padahal negatif foto peristiwa yang sangat penting itu ia sembunyikan dengan cara menguburnya di tanah, dekat sebuah pohon di halaman belakang kantor harian Asia Raya. Kalau saja saat itu negatif film tersebut dirampas tentara Jepang, maka mungkin generasi sekarang dan generasi yang akan datang tidak akan tahu seperti apa peristiwa sakral tersebut. Meski negatif foto selamat, perjuangan mencuci dan mencetak foto itupun tak mudah. Mendur Bersaudara harus diam-diam menyelinap di malam hari, panjat pohon dan lompati pagar di samping kantor Domei, yang sekarang kantor Antara. Negatif foto lolos dan dicetak di sebuah lab foto. Resiko bagi Mendur Bersaudara jika tertangkap tentara Jepang adalah penjara, bahkan hukuman mati. Tanpa foto karya Frans Mendur, maka proklamasi Indonesia tak akan terdokumentasikan dalam bentuk foto.

 

Foto pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia itu pertama kali dimuat di harian Merdeka pada tanggal 20 Februari 1946, lebih dari setengah tahun setelah pembuatannya. Film negatif catatan visual itu sekarang sudah tak dapat ditemukan lagi. Ada dugaan bahwa negatif film itu ikut hancur bersama semua dokumentasi milik kantor berita Antara yang dibakar pada peristiwa di tahun 1965. Waktu itu, sepasukan tentara mengambil seluruh koleksi negatif film dan hasil cetak foto yang dimiliki Antara lalu membakarnya.

 

Pada 2 Oktober 1946, Alex dan Frans Mendur adalah dua bersaudara penyuka fotografi yang menggagas IPPHOS (Indonesia Press Photo Service). Dengan mengajak beberapa kawan, di antaranya kakak-beradik Justus dan Frank Umbas, Alex Mamusung, dan Oscar Ganda. Pada 1953, masuk seorang Mendur lagi, Piet Mendur yang adalah keponakan Alex dan Frans.




Dari tuah kamera kepiawaian merekalah, misalnya, juga terabadikan gambar Bung Karno yang menonton para sopir kepresidenan mereparasi mobil, juga potret Amir Sjarifuddin yang larut dalam tragedi Romeo and Juliet-nya Shakespeare di atas gerbong yang membawanya ke hadapan algojo tembak yang sudah menanti.

 

Semasa hidupnya, Frans Mendur pernah menjadi penjual rokok di Surabaya. Di RS Sumber Waras Jakarta pada tanggal 24 April 1971, fotografer pengabadi proklamasi kemerdekaan RI ini meninggal dalam sepi. Alex Mendur tutup usia pada tahun 1984 juga dalam keadaan serupa.

 

Hingga tutup usia kakak-beradik Frans dan Alex Mendur tercatat belum pernah menerima penghargaan atas sumbangsih mereka pada negara ini. Konon, mereka berdua pun ditolak untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Baru pada 9 November 2009 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahi kedua fotografer bersejarah Indonesia ini, Alexius Impurung Mendur dan Frans Soemarto Mendur, penghargaan Bintang Jasa Utama. (*)

Jurnalis :Bayu Widiyatmoko
Editor :Jajang Yanuar
Illustrator :
Infografis :
side ads
side ads